Ini Penjelasan Seda Marselinus Soal Sekolah Siaga Kependudukan di Nagekeo
Ini penjelasan Seda Marselinus soal Sekolah Siaga Kependudukan di Kabupaten Nagekeo
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Ini penjelasan Seda Marselinus soal Sekolah Siaga Kependudukan di Kabupaten Nagekeo
POS-KUPANG.COM | MBAY - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ( PPKB) Kabupaten Nagekeo telah melaunching dengan resmi Sekolah Siaga Kependudukan ( SSK) di Nagekeo.
Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang telah ditetapkan di Nagekeo yaitu SMP Negeri 3 Aesesa Desa Aeramo Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo dan sudah dilaunching bulan Februari lalu.
• Dua Dusun di Desa Selalejo Nagekeo NTT Belum Menikmati Listrik
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Nagekeo, Drs. Seda Marselinus, menjelaskan, berbagai isu kependudukan menjadi tantangan dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia, diantaranya adalah jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, tingginya arus migrasi, besarnya penduduk usia muda dan tantangan menyiapkan penduduk usia muda agar menjadi sumber daya yang produktif dan berguna bagi bangsa dan peradaban umat manusia.
Kata Marselinus, isu yang paling dominan saat ini dibidang kependudukan adalah Bonus Demografi.
Indonesia kini memasuki fenomena kependudukan yang disebut bonus demografi, yang puncaknya terjadi pada tahun 2035.
• Rujab Wakil Bupati Sumba Barat Telah Selesai Dibangun, Ini Tanggapan Yeremias Moto
Bonus Demografi adalah saat jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) memiliki proporsi lebih dari 50 persen, dibandingkan dengan kelompok usia nonproduktif yakni anak-anak dan lansia.
Marselinus menjelaskan Bonus Demografi dimaknai dengan kualitas SDM yang unggul, agar bonus tersebut menjadi manfaat untuk kesejahteraan rakyat.
"Pada era ini harus disiapkan generasi yang berkualitas, generasi yang tidak saja memiliki soft skill dan hard skill, tetapi generasi yang berkarakter yakni generasi yang religius, sehat, cerdas dan produktif menuju Indonesia emas 2035," ujar Marselinus, Sabtu (7/3/2020).
Marselinus mengaku untuk mengatasi dan mengatisipasi permasalahan yang ditimbulkan dari dampak kependudukan ini, diperlukan sinergitas dari berbagai pihak.
Dan ini menjadi tanggung jawab semua lapisan masyarakat. Setiap individu dalam komunitasnya akan sangat menentukan kondisi kependudukan Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui kerja sama pendidikan kependudukan.
"Pendidikan Kependudukan adalah upaya terencana dan sistimatis untuk membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran tentang kondisi kependudukan sehingga diharapkan masyarakat akan memiliki perilaku yang bertanggung jawab dan ikut peduli dengan kualitas hidup generasi sekarang dan mendatang," jelasnya.
Ia menyebutkan pelaksanaaan Pendidikan Kependudukan dilakukan melalui jalur Formal, non formal dan informal.
Pendidikan kependudukan melalui jalur formal salah satunya dilakukan melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Sekolah Siaga Kependudukan adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) ke dalam beberapa mata pelajaran dan atau muatan lokal khusus kependudukan, dimana di dalamnya terdapat pojok kependudukan sebagai salah satu sumber belajar dan pengayaan materi peserta didik sebagai upaya pembentukan generasi berencana.
"Dengan Sekolah Siaga Kependudukan, diharapkan akan memupuk kesadaran peserta didik akan kondisi kependudukan, menumbuhkan sikap tanggung jawab dan perilaku adiptif terkait dengan dinamika kependudukan serta mengembangkan sikap yang tepat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masakah kependudukan kelak ketika mereka dewasa," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ini-penjelasan-seda-marselinus-soal-sekolah-siaga-kependudukan-di-nagekeo.jpg)