Minggu, 26 April 2026

NTT Kembangkan Pertanian dan Peternakan dengan Teknologi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT akan serius dalam mengembangkan pertanian dan peternakan dengan sentuhan teknologi.

Penulis: Oby Lewanmeru | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/ISTIMEWA
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat mendampingi sejumlah investor asal Rusia bertemu Menteri Pertanian RI, Syahril Yasin Limpo di Jakarta, Jumat (6/3/2020). 

NTT Kembangkan Pertanian dan Peternakan dengan Teknologi

POS-KUPANG.COM|KUPANG -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT akan serius dalam mengembangkan pertanian dan peternakan dengan sentuhan teknologi.

Karena pertanian dan peternakan tradisonal sesungguhnya kurang memberikan nilai tambah ekonomis yang signifikan bagi para petani.

Hal ini disampaikan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si di Kupang, Jumat (6/3/2020) malam.

Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Valeri Guru,S. Sos dalam siaran persnya mengatakan, Gubernur NTT sangat serius dalam mengembangkan pertanian dan peternakan di Provinsi NTT. Keseriusan ini ditunjukan Gubernur Viktor saat mendampingi sejumlah investor asal Rusia bertemu Menteri Pertanian RI, Syahril Yasin Limpo di Jakarta, Jumat (6/3/2020).

"Benar, Bapak Gubernur VBL bersama para investor dari sejumlah negara termasuk Rusia berdiskusi dengan Menteri Pertanian RI, Bapak Syahril Yasin Limpo di Jakarta terkait dengan pengembangan pertanian dan peternakan modern di Provinsi NTT, " kata Marius.

Menurut Marius, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengharapkan agar pertanian dan peternakan tradisional yang selama ini dikembangkan di Provinsi NTT segera diganti atau dialihkan dengan sentuhan teknologi.

"Karena pertanian dan peternakan tradisonal sesungguhnya kurang memberikan nilai tambah ekonomis yang signifikan bagi para petani dan peternak. Kita harus ubah pola pertanian dan peternakan di NTT dengan sentuhan teknologi modern yang lebih kompetitif dan memberi nilai tambah yang signifikan ke depannya," katanya.

Dijelaskan, para investor sangat antusias tatkala mereka dipercaya oleh Pemprov NTT untuk mengembangkan pertanian dan peternakan dengan sentuhan teknologi modern. "Para investor sangat antusias untuk berinvestasi di Provinsi NTT," ujar Marius.

Sebagaimana diketahui dalam berbagai kesempatan Gubernur NTT selalu menyinggung soal pengembangan sapi Wagyu di Provinsi NTT. Sapi Wagyu lanjut Marius, berasal dari Jepang. Mengacu pada beberapa ras sapi.

Satu ras di antaranya memiliki kecenderungan genetik berupa pemarmeran (marbling) tinggi dan memproduksi lemak tak jenuh berminyak dalam jumlah besar.

"Sapi wagyu terkenal karena pola marmer pada dagingnya dan kualitasnya. Kualitas daging sapi ini sangat tinggi dan karena itu sangat mahal harganya," kata Marius.

Dikatakan, untuk pengembangan sapi Wagyu tentu dibutuhkan "knowlege", pengalaman, skill dan sentuhan ilmu yang mumpuni.

“Sapi Wagyu inilah yang dikembangkan di Jepang dan dagingnya yang berkualitas dan mahal memenuhi berbagai restauran di Jepang dan negara maju lainnya. Jika ini dikembangkan di NTT tentu pakan ternak, kandang dan keseluruhan eko sistem pengelolaannya didesign sebaik mungkin dengan melibatkan para pakar," katanya.

IRO Gelar Pameran Beasiswa Kuliah di LN Jebolan Griffith Australia Promosi Project Pariwisata NTT

ZODIAK CINTA HARI INI Sabtu 7 Maret 2020 Cancer Patah Hati Sagitarius Cobalah untuk Setia Zodiakmu?

ZODIAK KEUANGAN Sabtu 7 Maret 2020 Leo Boros Scorpio Bayar Utang Dong Zodiak Lain?

Sengketa Lahan di Sandosi Terjadi Sejak Tahun 1990-an

Marius juga mengatakan, bapak Gubernur NTT menginginkan agar para peternak di NTT harus memelihara dan memiliki sapi Wagyu yang harganya satu ekor Rp 1 miliar.

"Tahun ini Pemprov NTT akan mendapatkan bantuan sperma sapi Wagyu dari Kementerian Pertanian RI sebanyak 100 ekor," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved