Breaking News:

Opini Pos Kupang

Membangun Ekonomi Perbatasan

Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul Membangun Ekonomi Perbatasan

Editor: Kanis Jehola
Membangun Ekonomi Perbatasan
Dok
Logo Pos Kupang

Apakah Pemda setempat kurang gagasan ataukah tidak mau berpikir untuk membangun ekonomi mulai dari pintu perbatasan, padahal miliaran rupiah APBN telah terpakai untuk memoles ketiga pintu tersebut. Dalam perspektif ekonomi, keberadaan ketiga lokasi itu harusnya gemerlap setiap saat karena ada banyak aktifitas ekonomi yang mestinya dilakukan. Rupanya peluang tersebut tidak menarik cara berpikir para kepala daerah padahal, jika ada aktifitas ekonomi maka tentu banyak pelaku ekonomi akan terkonsentrasi di ketiga lokasi tersebut. Pemerintah daerah tidak harus berpikir untuk membuat lokasi-lokasi itu menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Ekonomi Terpadu (KET), tetapi buat saja ketiga lokasi itu menjadi Special Free Trade Zone bagi pelaku ekonomi selain NTT juga Bali sebagai tetangga terdekat. Menurut hitungan saya, jika Pemda setempat memberi peluang bagi pelaku ekonomi NTT dan Bali bebas melakukan aktifitas ekonomi di ketiga lokasi itu, maka Motaain, Motamasin, dan Wini akan menjadi pintu kehidupan (Life of Gate) bagi pemerintah dan masyarakat Belu, Malaka, dan TTU. Dengan demikian NTT bangkit NTT sejahtera tidak lagi menjadi slogan tetapi menjadi fakta. Bali kita libatkan secara khusus sebab pelaku ekonomi asal Bali tentu sudah memiliki jaringan bisnis yang luas apalagi soal pariwisata.

Zona Perdagangan Bebas Khusus ini, tentu tanpa pajak untuk jenis barang dengan batasan tertentu harus diterapkan, dan berlaku juga bagi pelaku ekonomi Negara Timor Leste, sehingga perdangan antar Negara tidak lagi membutuhkan biaya tinggi sebab semua aktifitas ekonomi termasuk pertukaran barang dan jasa (product & service barter) terkonsentrasi di ketiga pintu tsb.

Perputaran uang dan barang akan cepat jika saja pemerintah bisa membangun infrastruktur perdagangan yang sederhana, menarik, dan cocok dengan budaya masyarakat sehingga tidak membuat masyarakat menjadi culture shock.

Dikatakan zona khusus karena dalam jangka waktu tertentu khusus pelaku ekonomi dari kedua propinsi yang diberikan peluang usaha dalam lokasi-lokasi tersebut, nanti pada waktunya baru dibuka untuk pelaku ekonomi lainya. Pengkhususan itu bukan berarti bahwa orang lain tidak boleh sama sekali, tetapi biarlah pelaku ekonomi kedua propinsi itu lebih dahulu membentuk pintu kehidupan bagi yang lain.

Oleh karena diterapkan perlakuan khusus pada lokasi-lokasi tersebut maka, tentu perdagangan ilegal lintas batas akan dapat teratasi sebab supply, demand dan barter akan terjadi secara terbuka bagi semua orang dalam satu zona bebas tetapi terkontrol dan tersistim secara legal. Jika konsep ini bisa dilakukan maka, Pemda NTT dapat menjadi contoh positif bagi daerah perbatasan lainnya di Indonesia seperti di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi Utara.

Kita memang tidak sama seperti perbatasan antara USA, Mexico dan Canada tetapi kita mampu menciptakan satu model kawasan perbatasan dengan ciri khas sesuai budaya lokal, yang tidak gemerlapan karena kemewahan infrastruktur, tetapi lebih pada gaya ekonomi persaudaraan (Brotherly Economic Style) sebab kita sebelum adalah satu bangsa dan satud arah.

Jika sektor pariwisata adalah prime mover ekonomi PropinsiNTT maka, jangan lupa bahwa border gate bisa dijadikan sebagai pemicu dan pendorong aktifitas ekonomi berskala internasional. Pelaku ekonomi Negara Timor Leste pasti tidak berjalan sendiri tetapi bersama joint venture business mereka yang dapat menjadikan Three Border Gate (Motaain, Motamasin, Wini) menjadi the second home of future business opportunity.

Konsep di atas tentunya inline dengan program Masyarakat Ekonomi NTT, bahwa ke depan Marungga, Kopi, Jambu Mete dan komoditi unggulan lainnya bisa terjual langsung di tiga pintu itu sehingga biaya distribusi menjadi lebih kecil. Gubernur kita mempunyai gagasan yang brilian, karena itu kita jangan hanya Namkak dan menonton saja, kita harus bisa menterjemahkan gagasan tersebut sebab jika tidak maka kita sama seperti siput berjalan lamban dan seperti tupai yang ekornya bergoyang terus.

Kita harus menjadikan kawasan perbatasan sebagai pintu gerbang ekonomi NTT masa depan, supaya kita tidak hanya menjadi petugas distribusi barang dan jasa dan akhirnya sama dengan Grab Motor dan Food yang tunggu ada pesanan baru melayani.

Tulisan ini berkaitan dengan rencana Pos Kupang melaksanakan kegiatan Ba'Omong Asik bersama bapak Gubernur NTT, karena itu sebagai akademisi dan ekonom regional saya merasa terpanggil untuk memberikan gagasan untuk pengembangan kawasan perbatasan. Propinsi NTT sangat strategis sebab menjadi tetangga Negara Timor Leste dan Australia, tetapi harus diakui bahwa kita belum mampu memanfaatkan posisi kita untuk kepentingan yang lebih luas. Coba kita hitung, berapa banyak pasokan produk di supply ke Timor Leste dari NTT setiap hari, dibandingkan dengan banyaknya produk yang masuk dari Timor Leste ke NTT karena kedekatan sehingga tentu cost of distribution menjadi rendah. Ini adalah peluang bisnis besar yang sudah ada di depan mata kita, sayangnya belum membangkitkan semangat lebih banyak pelaku ekonomi daerah ini. Semoga gagasan di atas dapat merubah paradigma berpikir bisnis kita untuk menjadi semakin global oriented.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved