Rabu, 22 April 2026

Masih Ingat Arya Permana Pemilik Bobot 190 Kg ? Belajarlah Darinya Cara Mengatasi Obesitas

perubahan besar memang berat, tetapi perjalanan menurunkan berat badan bisa diawali dengan perubahan-perubahan kecil, lo.

Editor: Rosalina Woso
KOMPAS.com/Reni Susanti
KOMPAS.com/Reni Susanti Arya Permana (10) penderita severe obesity ditangani 13 dokter spesialis RSHS. Berat badan normal Arya kurang dari 50 kg, namun saat ini beratnya mencapai 189,5 kg. 

Masih Ingat Arya Permana Pemilik Bobot 190 Kg ? Belajarlah Darinya Cara Mengatasi Obesitas

POS-KUPANG.COM--Masih Ingat Arya Permana Pemilik Bobot 190 Kg ? Belajarlah Darinya Cara Mengatasi Obesitas

Kisah Arya Permana menjadi salah satu perjalanan menurunkan berat badan yang sangat inspiratif.

Betapa tidak, pada 2016 lalu bobot Arya mencapai hampir 190 kilogram hingga membuatnya tidak bisa berjalan.

Namun, memasuki tahun keempat, bobot Arya kini sudah sedikit lagi menuju 80 kilogram.

Bocah yang kini berusia 14 tahun itu sudah menjalani berbagai prosedur medis dan juga perubahan perilaku, seperti mengubah pola makan dan berolahraga, dengan bantuan binaragawan Ade Rai.

Belajar dari kisah Arya, siapa pun yang mengalami obesitas tak perlu patah semangat.

Memikirkan sebuah perubahan besar memang berat, tetapi perjalanan menurunkan berat badan bisa diawali dengan perubahan-perubahan kecil, lo.

"Dari pola perilaku. Dulunya minum minuman manis sekarang enggak, dulu makanan proses dan instan sekarang enggak, dulu jarang gerak cuma main game sekarang banyak aktivitas," uajr Ade Rai ketika ditemui di Senayan City, Jakarta Selatan, Rabu (26/2/2020).

Konsep perubahan perilaku sehari-hari yang dilakukan Arya juga bisa diaplikasikan oleh siapa saja yang ingin jauh dari obesitas.

Salah satu kuncinya, kata Ade, adalah menyeimbangkan asupan kalori dan kalori yang dibuang lewat aktivitas fisik.

Saat ini, banyak orang kerap menyalahkan makanan seperti karbohidrat atau gula sebagai penyebab berat badan berlebih.

Padahal, penyebab sebenarnya adalah karena kalori masuk yang tidak dibakar.

"Sederhananya, kalau kebutuhan kita cuma 10 tapi makan 100, 90-nya mau dikemanain? Akhirnya yang disalahin nasi, tepung, gula. Padahal nasi dan gula enggak ada salahnya. Yang salah adalah kelebihan," tutur pria bernama lengkap I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai itu.

Lalu, aktivitas apa yang paling efektif untuk membantu menurunkan berat badan?

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved