Petani di Belu Akui Porgran Budidaya Porang Berhasil

Para petani budidaya tanaman porang (maekbako) di Kabupaten Belu mengakui, program budidaya porang yang dilakukan Pemkab Belu

Penulis: Teni Jenahas | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/TENI JENAHAS
Petani porang di Desa Fatubaa, Kecamatan Tasifeto Timur, Maria Magdalena menunjukan porangnya, Selasa (3/3/2020). 

Petani di Belu Akui Porgran Budidaya Porang Berhasil

POS-KUPANG.COM| ATAMBUA--Para petani budidaya tanaman porang (maekbako) di Kabupaten Belu mengakui, program budidaya porang yang dilakukan Pemkab Belu tahun 2018 berhasil.

Dikatakan berhasil karena setelah petani menerima bibit porang, mereka menanam dan merawatnya hingga jadi. Bahkan ada petani yang pernah panen. Bukti fisik porang yang mereka tanam tahun 2018 itu bisa dipertanggungjawabkan kepada pemerintah manakala pemerintah datang mengeceknya sampai ke lokasi.

Mereka tidak sependapat dengan komentar seglintir orang yang mengatakan budidaya porang gagal sebab yang menanam porang adalah petani dan mereka lihat hasil.

"Kami sudah tanam. Ini hasilnya, porang ada penuh kebun. Kami serius kerja dan rawat" kata Ketua Kelompok Tani Oreu Jaya Tukuneno, Desa Tukuneno, Melkianus D. Meak.

Lanjut Melkianus, anggota kelompok tani belum pernah mengatakan porgram porang gagal karena porang yang ditanam itu masih hidup dan terus berkembang. Bahkan di Tukuneno, bukan hanya anggota poktan saja yang menanam porang tetapi warga lainnyasemua keluarga menanam porang.

Hal ini dibenarkan PPL Desa Tukuneno Arnoldus Nitsae. Katanya, warga dari tiga dusun yang diperkirakan 300 KK hampir semuanya menanam porang. Petani semangat menanam karena daerah tersebut subur dan cocok untuk budidaya porang.

Anggota kelompok Tani Setia Kawan Tukuneno, Frans Bouk saat ditanya wartawan langsung menunjukan ribuan tanaman porang di lahannya, persis di belakang rumahnya.

Frans masih semangat menanam porang karena prospek porang di pasaran saat ini sangat menjanjikan. Ia bersama petani lainnya serius menanam porang sehingga pemerintah tidak perlu ragu untuk memberikan tambahan bibit porang bagi mereka.

Ketua Kelompok Tani Setia Kawan, Benediktus Berek Nahak mengatakan, anggota kelompoknya sebanyak 15 orang. Mereka sangat serius menanam porang. Mereka sudah membuktikan budidaya porang yang dilakukan sejak tahun 2018 masih terlihat sampai saat ini. Jika pemerintah mau menambah bibit porang maka dengan senang hati mereka terima.

Hal senada disampaikan Benyamin Nahak, petani porang di Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk. Katanya, ia tidak gagal dalam membudidaya porang karena porang yang ia tanam masih hidup dan terus berkembang. Petani yang pernah menerima kalpatruh ini mengajak petani agar terus menanam karena apa yang ditanam saat ini akan menunai hasilnya di kemudian hari.

Menurut Benyamin, ia memiliki lahan lebih dari lima hektare. Ia ingin di lahan yang sudah ditanam kopi itu akan ditanam lagi porang. Apalagi pohon-pohon pelindung sudah sangat banyak. Tanaman porang akan berkembang bagus bila ditanam di lahan yang memiliki tanaman pelindung.

"Saya mau tanam lagi. Kalau pemerintah kasih lagi bibit kami tanam. Saya senang", pinta Benyamin.

Lanjut Benyamin, petani di wilayah Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk belum terlalu familiar dengan porang karena belum melihat hasilnya. Apalagi petani yang sudah menanam porang tahun 2018 silam belum panen sehingga membuat petani pesimis. Namun, mendengar informasi yang beredar saat ini tentang porang, para petani di wilayah tersebut mulai berbincang-bincang untuk menanam porang.

Ketua kelompok Tani Kabila, Desa Fatubaa Kecamatan Tasifeto Timur, Maria Magdalena mengaku, anggota kelompok tani yang dipimpinnya sudah berusaha menanam porang. Namun, ada permasalahan klasik di wilayah tersebut adalah pencurian.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved