Jumlah Babi Mati di TTU Meningkat Menjadi 440 Ekor

jumlah babi yang mati secara mendadak di wilayah Kabupaten TTU tersebut tersebar di sejumlah kecamatan diantaranya Kencamatan Biboki Moenleu

Jumlah Babi Mati di TTU Meningkat Menjadi 440 Ekor
Facebook Imelda Sau
Ternak babi milik Imelda Sau yang mati secara tiba-tiba.

Jumlah Babi Mati di TTU Meningkat Menjadi 440 Ekor

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU--Jumlah ternak babi yang mati secara mendadak di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) meningkat secara drastis. Jika sebelumnya, jumlah ternak babi yang mati secara mendadak hanya 120 ekor, maka saat ini jumlahnya meningkat menjadi 440 ekor.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten TTU, Fransiskus Fay melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan TTU drh. Stefanus Tenis mengatakan hal tersebut kepada Pos Kupang di Kefamenanu pada, Rabu (26/2/2020).

Stefanus mengatakan, data mengenai jumlah ternak babi yang mati secara mendadak tersebut diperoleh setelah pihaknya melalui petugas peternakan dilapangan melakukan pendataan di seluruh desa yang ada di Kabupaten TTU.

Dijelaskannya, jumlah babi yang mati secara mendadak di wilayah Kabupaten TTU tersebut tersebar di sejumlah kecamatan diantaranya Kencamatan Biboki Moenleu, Anleu, Bikomi Nilulat, Bikomi Utara, Insana Utara, dan Kota Kefamenanu.

"Namun jumlah itu adalah akumulasi dari akhir Desember 2019, sampai dengan 26 Februari 2020," jelasnya.

Dijelaskan Stefanus, saat ini pihaknya sedang menunggu hasil tes darah dari laboratorium Balai Besar Veteriner Medan yang sudah dikirim beberapa waktu yang lalu.

Selain itu, jelas Stefanus, pemerintah pusat melalui Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor juga telah mengambil sampel darah untuk dilakukan uji laboratorium.

"Kemarin mereka sudah ambil darahnya, mereka sedang lakukan uji laboratorium. Jadi seperti apa hasilnya kita tunggu hasil dari tes laboratorium itu, baru kita lakukan penanganan," terangnya.

Langkah yang dilakukan, jelas Stefanus yakni terus memberikan vitamin kepada ternak babi milik masyarakat.

"Kita juga menghimbau kepada peternak harus menerapkan bio security secara baik. Kemudian kita minta supaya lakukan pembersihan dengan disfektan terhadap sanitasi kandang perlu dilakukan," terangnya.

Stefanus menjelaskan, memang bagi peternak dengan skala yang lebih besar biasanya dilengkapi bio security yang baik. Bahkan mereka mengurangi orang untuk masuk ke kandangnya.

Terlambat Disiapkan Baju Untuk Hangout, Pelajar di Kupang Tega Aniaya Ibunya

4 Bahaya Mengintai Anda Saat Mengunyah Makanan Terlalu Cepat

Sering Alami Stres dan Sakit Kepala ? Redakan dengan 6 Titik Pijat Bagian Tubuh Ini

Hi Moms, 5 Cara Tepat dan Penting Si Kecil Makan Buah-buahan

Stefanus menambahkan, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi melalui Dinas Peternakan Provinsi NTT sehingga pemprpv membantu membagikan disfektan secara gratis.

"Dan langkah yang kami lakukan adalah melakukan sidah di pasar untuk sementara tidak boleh jual dulu daging babi di pasar," terangnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi)

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved