Opini Pos Kupang

Awas Para Pembohong!

Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: awas para pembohong!

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Awas Para Pembohong!
Dok
Logo Pos Kupang

Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: awas para pembohong!

Oleh Toni Gandu, Alumnus STFK Ledalero Tinggal di Ketang, Manggarai

POS-KUPANG.COM - Karl Marx membuka Das Kapital-nya dengan seruan, "ada hantu melayang-layang di Eropa, hantu komunisme". Marx menyerukan ini karena kegelisahannya mengenai bahaya kapitalisme. Latar belakangnya adalah eksploitasi tenaga kerja oleh para pemilik modal. Para pekerja diperlakukan seperti mesin. Marx kemudian mendambakan suatu masyarakat tanpa kelas sosial. Cita-cita Marx sempat terwujud, tapi tak bertahan. Seperti kain yang sudah usang, tak banyak lagi negara di dunia yang bernyali mengenakan baju komunisme.

Rokok Elektrik, Amankah?

Tetapi saat ini, ketika banyak bidang kerja dan sistem informasi berbasis teknologi digital, kita dihadapkan pada suatu peringatan baru, "ada hantu melayang-layang di tengah-tengah kita, hantu kebohongan". Peringatan ini kiranya tidak berlebihan mengingat kita memasuki era baru dalam sejarah, era kebohongan. Era kebohongan, dalam banyak kajian sosiologis dan filsafat sosial melahirkan apa yang disebut sebagai post truth.

Post Truth dan Ambivalensi Era Digital

Oxford Dictionaries menetapkan post truth sebagai "word of the year" pada 2016 lalu. Penetapan itu tidak berarti bahwa term post truth baru lahir pada tahun 2016. Ia merupakan suatu gejala yang telah muncul dari lebih dari dua dekade. Karena itu, pada dasarnya post truth mau menjelaskan gejala dari suatu era. Gejala macam apa yang mau dikemukakan?

KPUD TTU Terima Dokumen Syarat Dukungan Paket AYO

Menguatnya pengaruh teknologi digital, terutama dengan hampir meratanya penggunaan internet, mempercepat penyebaran informasi dalam banyak rupa. Internet memudahkan orang mengakses informasi, tetapi juga mempengaruhi orang untuk menciptakan dan menyebarkan berita dari peristiwa yang tidak pernah terjadi.

Berita tentang peristiwa yang tak pernah terjadi itulah yang disebut berita palsu (fake news). Penyebaran fake news yang tak dapat dikendalikan lagi merupakan sebuah fenomena yang menandakan lahirnya era baru dalam sejarah umat manusia: post-truth.

Post-truth diperkenalkan pertama kali pada 1992 oleh Steve Tessich, penulis drama Serbia-Amerika dalam sebuah tulisan yang terbit dalam jurnal The Nation. Latar belakang refleksi Tessich adalah skandal Iran/Contra, kekejian perang Vietnam, dan terungkapnya skandal Watergate.

Menurut Tessich, post-truth merupakan sebuah fenomena pemalsuan suatu peristiwa atau berita yang dimanipulasi tetapi kemudian diklaim sebagai kebenaran. Pemerintah (dan politisi) memiliki peran penting dalam hal ini. Kasus Iran/Contra misalnya, menurut laporan Noam Chomsky, terjadi melalui keterlibatan Gedung Putih dalam memasok senjata ke Iran; sebuah fakta yang tersembunyi bagi banyak orang pada waktu itu.

Post-truth kemudian muncul lagi pada tahun 2004 ketika Ralph Keyes menerbitkan sebuah buku berjudul "The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life".

Menurut Keyes, saat ini kita hidup di sebuah era di mana kebohongan dapat disebarkan tanpa rasa takut akan hukum. Nayef Al-Rodhan menjelaskan bahwa post-truth secara historis bertumpu pada tema tentang kebohongan yang disebarkan secara massif oleh para politisi tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap legitimasi dan reputasi politis mereka.

Dengan kata lain, para politisi sudah biasa berbohong tetapi terus diidolakan. Hal ini terjadi karena kebohongan yang dinyatakan tampak sebagai sebuah kebenaran bagi para pendukungnya. Menurut Al-Rodhan, penyebaran kebohongan dan kepercayaan publik atasnya menjadi tak dapat dikendalikan lagi di bawah pengaruh media komunikasi massa seperti internet dan lebih khusus oleh media sosial seperti facebook dan twitter.

Fenomena ini menjelaskan sekurang-kurangnya dua hal berikut. Pertama, post truth merupakan bias dari kemajuan teknologi informasi yang tak dapat dikendalikan lagi.

Kuatnya pengaruh teknologi informasi melahirkan apa yang disebut sebagai banjir (bahkan tsunami) informasi. Informasi apapun itu, entah benar atau salah, benar-benar terjadi atau direkayasa, asli atau palsu, dapat masuk ke mulut pengguna berkat saluran internet. Saluran ini mempertemukan semua orang dan menampung segala peristiwa dalam satu rumah bersama yang terus terbuka.

Orang tak perlu repot-repot memberi salam dan tak harus mengetuk. Keluar masuk sesuka hati boleh-boleh saja. Memberi hormat kepada pemilik rumah pun tak penting. Di sini, etiket raib dan etika punah. Fenomena ini menciptakan lubang besar dalam tradisi.

Kedua, post truth merupakan era pembalikan. Disadari atau tidak, post truth merupakan suatu fenomena yang sangat mencemaskan. Sebuah tatanan baru sedang didesain untuk seluruh penghuni muka bumi ini. Apa yang baru? Yang baru dan paling mencemaskan adalah sulitnya membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang asli dan mana yang palsu, mana pihak yang menuturkan kebenaran dan mana para pembohong.

Dalam lanskap geopolitik, politik nasional, bahkan lokal, post truth sangat berbahaya di tangan pemangku kepentingan dan para politisi yang haus kekuasaan, apalagi jika dicerna oleh mereka yang fanatik tehadap figur tertentu. Pada tataran politik elektoral, post truth akan sangat berbahaya jika berdampingan dengan populisme.

Apa yang dijelaskan di atas tentu saja saling terkait. Post truth tak akan menjadi fenomena global jika tanpa kemajuan teknologi digital. Sebaliknya, teknologi digital mengambil keuntungan dari merebaknya fenomena post truth. Di sinilah kita menemukan bahwa kemajuan teknologi digital bersifat ambivalen.

Kebutuhan akan akses cepat informasi dipenuhi, tetapi kita dihantui oleh kebohongan yang disebarkan dengan cara yang sama oleh para pembohong.

Cerdas Berteknologi

Tentu saja dewasa ini orang akan sangat sulit menghindarkan diri dari kuatnya pengaruh teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari. Berteknologi menjadi kebutuhan. Melek teknologi menjadi kemestian. Tetapi satu tuntutan harus dipenuhi: setiap orang harus cerdas mengonsumsi, menyebarkan, dan memanfaatkan informasi berbasis teknologi digital.

Tidak lekas percaya merupakan sikap positif, apalagi berhadapan dengan isu-isu yang sensitif. Pengguna media digital perlu memverifikasi data dan informasi yang tersaji, apalagi yang disebarkan melalui media sosial. Membandingkan berita dan informasi dengan media-media terpercaya merupakan salah satu langkah yang perlu ditempuh.

Cerdas berteknologi, dalam arti memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang baik dan benar harus terus dikampanyekan. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi harus menyentuh aspek ini. Apalagi sekarang program pendidikan menuntut pelaksanaan pendidikan berbasis teknologi digital. Para peserta didik dan juga mahasiswa perlu disadarkan mengenai dampak ambivalen penggunaan teknologi informasi.

Dalam konteks nasional, pemerintah sebagai penyelenggara negara perlu memikirkan secara serius dampak penyebaran berita bohong. Indonesia harus belajar dari negara-negara maju dalam rangka menangkal massifnya penyebaran berita bohong.

Sebagai contoh, sudah sejak tahun 2014 lalu, Uni Eropa mendanai proyek yang disebut PHEME, sebuah proyek berbasis teknologi untuk memverifikasi keakuratan data dan berita serta informasi yang disebarkan secara online.

Proyek semacam ini sangat mendesak untuk konteks Indonesia dalam rangka menghindari konflik horizontal di tengah masyarakat yang diprovokasi oleh penyebaran berita bohong.

Di atas semuanya itu, setiap pengguna memang harus cerdas memanfaatkan teknologi digital. Setiap orang harus berpikir dua kali dalam menyebarkan sebuah berita dan informasi, apalagi yang banyak muncul di media-media sosial. Setiap orang harus menimbang dengan matang mengenai dampak memposting sesuatu yang sensitif di media sosial, apalagi yang berbau SARA. Demikian pula halnya dengan membaca informasi. Kita perlu sadar, awas, dan waspada: kebohongan dan para pembohong ada di mana-mana.*

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved