Opini Pos Kupang

Awas Para Pembohong!

Mari membaca dan simak isi Opini Pos Kupang berjudul: awas para pembohong!

Editor: Kanis Jehola
zoom-inlihat foto Awas Para Pembohong!
Dok
Logo Pos Kupang

Orang tak perlu repot-repot memberi salam dan tak harus mengetuk. Keluar masuk sesuka hati boleh-boleh saja. Memberi hormat kepada pemilik rumah pun tak penting. Di sini, etiket raib dan etika punah. Fenomena ini menciptakan lubang besar dalam tradisi.

Kedua, post truth merupakan era pembalikan. Disadari atau tidak, post truth merupakan suatu fenomena yang sangat mencemaskan. Sebuah tatanan baru sedang didesain untuk seluruh penghuni muka bumi ini. Apa yang baru? Yang baru dan paling mencemaskan adalah sulitnya membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang asli dan mana yang palsu, mana pihak yang menuturkan kebenaran dan mana para pembohong.

Dalam lanskap geopolitik, politik nasional, bahkan lokal, post truth sangat berbahaya di tangan pemangku kepentingan dan para politisi yang haus kekuasaan, apalagi jika dicerna oleh mereka yang fanatik tehadap figur tertentu. Pada tataran politik elektoral, post truth akan sangat berbahaya jika berdampingan dengan populisme.

Apa yang dijelaskan di atas tentu saja saling terkait. Post truth tak akan menjadi fenomena global jika tanpa kemajuan teknologi digital. Sebaliknya, teknologi digital mengambil keuntungan dari merebaknya fenomena post truth. Di sinilah kita menemukan bahwa kemajuan teknologi digital bersifat ambivalen.

Kebutuhan akan akses cepat informasi dipenuhi, tetapi kita dihantui oleh kebohongan yang disebarkan dengan cara yang sama oleh para pembohong.

Cerdas Berteknologi

Tentu saja dewasa ini orang akan sangat sulit menghindarkan diri dari kuatnya pengaruh teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari. Berteknologi menjadi kebutuhan. Melek teknologi menjadi kemestian. Tetapi satu tuntutan harus dipenuhi: setiap orang harus cerdas mengonsumsi, menyebarkan, dan memanfaatkan informasi berbasis teknologi digital.

Tidak lekas percaya merupakan sikap positif, apalagi berhadapan dengan isu-isu yang sensitif. Pengguna media digital perlu memverifikasi data dan informasi yang tersaji, apalagi yang disebarkan melalui media sosial. Membandingkan berita dan informasi dengan media-media terpercaya merupakan salah satu langkah yang perlu ditempuh.

Cerdas berteknologi, dalam arti memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang baik dan benar harus terus dikampanyekan. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter di sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi harus menyentuh aspek ini. Apalagi sekarang program pendidikan menuntut pelaksanaan pendidikan berbasis teknologi digital. Para peserta didik dan juga mahasiswa perlu disadarkan mengenai dampak ambivalen penggunaan teknologi informasi.

Dalam konteks nasional, pemerintah sebagai penyelenggara negara perlu memikirkan secara serius dampak penyebaran berita bohong. Indonesia harus belajar dari negara-negara maju dalam rangka menangkal massifnya penyebaran berita bohong.

Sebagai contoh, sudah sejak tahun 2014 lalu, Uni Eropa mendanai proyek yang disebut PHEME, sebuah proyek berbasis teknologi untuk memverifikasi keakuratan data dan berita serta informasi yang disebarkan secara online.

Proyek semacam ini sangat mendesak untuk konteks Indonesia dalam rangka menghindari konflik horizontal di tengah masyarakat yang diprovokasi oleh penyebaran berita bohong.

Di atas semuanya itu, setiap pengguna memang harus cerdas memanfaatkan teknologi digital. Setiap orang harus berpikir dua kali dalam menyebarkan sebuah berita dan informasi, apalagi yang banyak muncul di media-media sosial. Setiap orang harus menimbang dengan matang mengenai dampak memposting sesuatu yang sensitif di media sosial, apalagi yang berbau SARA. Demikian pula halnya dengan membaca informasi. Kita perlu sadar, awas, dan waspada: kebohongan dan para pembohong ada di mana-mana.*

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved