IMATTU Pertanyakan Eksistensi Orang TTU di Kota Kupang
Kehadiran dan keberadaan warga (orang) asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di Kota Kupang disoalkan mahasiswa.
Penulis: Ryan Nong | Editor: Rosalina Woso
Mahasiswa Pertanyakan Eksistensi Orang TTU di Kota Kupang
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Kehadiran dan keberadaan warga (orang) asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di Kota Kupang disoalkan mahasiswa.
Eksistensi tersebut dipertanyakan oleh Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IMATTU) Kupang dalam diskusi "Eksistensi Orang TTU di Kota Kupang" yang digelar di Aula Kampus FKIP UPG NTT pada Sabtu (22/2/2020) sore.
Ketua Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IMATTU) Kupang Toni Uspupu kepada POS-KUPANG.COM mengatakan kegiatan diskusi tersebut dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis IMATTU ke-38 pada 2020 dan pelantikan pengurus baru IMATTU.
Ia menjelaskan, sebagai mahasiswa asal TTU di Kupang, mereka merasa gelisah untuk menyatukan semua kekuatan TTU Diaspora yang ada di Kupang. Sehingga harapannya kebersamaan dan solidaritas orang TTU di Kota Kupang dapat terajut.
"kami sebagai mahasiswa hanya bisa menginisiasi untuk menyatukan kekuatan Diaspora di Kupang. Karena orang tua akan dapat menjadi sandaran bagi kami orang muda," ungkapnya.
Tokoh asal TTU, Joseph John Neno Naikofi dalam testimoninya menceritakan, pada periode tahun 1960 hingga 1970-an, orang TTU yang tinggal di Kupang dapat dihitung dengan jari sehingga persatuan orang TTU digabungkan dengan orang Belu.
Setelah pemilu tahun 1971, orang TTU bertambah banyak di Kota Kupang sehingga ada pemikiran dari tokoh orang TTU untuk berdiri sendiri. Saat itu Bupati Kupang Oematan menawarkan tempat untuk orang TTU di daerah Pasir Panjang.
Pada tahun 1975, dibagi tanah untuk orang TTU di daerah Fatululi (Saat ini RS Siloam). Namun, karena saat itu tanahnya kering dan berbatu sehingga banyak orang TTU kemudian meninggalkan tanah yang dibagikan tersebut.
Angin segar kembali bertiup pada 1996, dimana ada dua tokoh yakni Frans Kera dan Goris Sani mengundang untuk berdiskusi bagaimana menghimpun orang TTU di Kota Kupang. Pada 11 Februari 1996, Biinmafo (Biboki-Insana-Miomafo) dibentuk, namun berjalan pasang surut hingga saat ini.
Ia mengatakan, untuk menguatkan dan mengikat kembali kekeluargaan dan hubungan orang TTU maka penting untuk membuka ruang dan dialog untuk membangun kembali "Lopo Biinmafo" sebagai tempat berkumpulnya Diaspora TTU.
• Beginilah Potret SDN Fatufuaf Desa Enoraen yang Memprihatinkan, Bikin Trenyuh !
• Anda Sering Merasa Lapar Meski Sudah Makan? 5 Alasan Ini Bisa Menjadi Penyebabnya
• Hati Hati, 5 Gejala Penyakit Yang Berujung Fatal Karena Sering Diabaikan
• Wajib Simak Guys, 1001 Langkah Meraih Sukses di Masa Depan !
Hadir dalam kesempatan tersebut para sesepuh dan alumni IMATTU di Kota Kupang, seperti John Naikofi, Gabriel Pokowani dan Hironimus Bifel. Hadir pula tokoh muda seperti praktisi hukum Mikhael Feka, Kapolsek Kupang Tengah Iptu Elpidus Feka, Rudy Soik, ketua KPID Yos Kolo dan tokoh muda Kalix Taus.
Usai diskusi dilaksanakan pelantikan pengurus Ikatan Mahasiswa Timor Tengah Utara (IMATTU) periode 2020 (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Nong)