Bupati Belu Willybrodus Lay Sudah Instruksi Untuk Isolasi Babi

penularan virus yang namanya masih dalam penelitian ini bukan lewat udara tetapi melalui perantara, baik manusia

POS-KUPANG.COM/TENI JENAHAS
Bupati Belu, Willybrodus Lay 

Bupati Belu Sudah Instruksi Untuk Isolasi Babi

POS-KUPANG.COM| ATAMBUA--Pasca kejadian babi mati mendadak di Kabupaten Belu awal Januari sampai Februari 2020, Bupati Belu, Willybrodus Lay mengeluarkan instruksi untuk isolasi babi.
Isolasi dilakukan per kabupaten dan wilayah desa.

Pemerintah melarang mengeluarkan ternak babi dari Kabupaten Belu dan memasukan babi dari kabupaten lain ke Kabupaten Belu. Melarang mengeluarkan babi dari desa dan memasukan babi dari desa lain.

Instruksi ini dibuat sebagai upaya menyelamatkan babi di Kabupaten Belu dari serangan virus manular.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Birri kepada Pos Kupang.Com saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Jumat (21/2/2020).

Menurut Nikolaus, Dinas Peternakan Kabupaten Belu fokus menyelematkan ternak babi yang masih sehat dengan cara isolasi. Isolasi sangat penting karena virus yang menyerang babi selama ini terindikasi sebagai virus menular dan bisa menjangkit pada babi yang lain.

Tingkat kematian babi yang terserang virus ini mencapai 80-100 persen. Apabila satu ekor babi sudah terserang virus maka besar kemungkinan babi yang lain ikut mati.

Kemudian, lanjut Nikolaus, penularan virus yang namanya masih dalam penelitian ini bukan lewat udara tetapi melalui perantara, baik manusia, barang/benda maupun hewan atau yang disebut OBH.

"Virus ini menular bukan lewat udara tetapi melekat pada orang, barang, hewan (OBH). Virus ini hanya menyerang babi, tidak menyerang pada manusia. Manusia hanya sebagai pembawa virus atau yang kita kenal OBH. Orang, barang atau benda dan hewan", kata Nikolaus.

Dilihat dari cara penularannya, maka langka kongkret yang perlu dilakukan adalah isolasi. Petugas Dinas Peternakan sudah menghimbau kepada pemilik ternak agar segera mengkandangkan ternak dan saat memberi makan tidak menyentuh babi. Mencuci wadah atau tempat simpan makan babi secara baik.

Menurut Nikolaus, data terkahir kematian babi di Kabupaten Belu sebanyak 750 ekor yang tersebar di 12 kecamatan. Data ini diperoleh petugas setelah dilakukan pendataan yang dilaporan masyarakat sejak Oktober 2019 sampai dengan keadaan Februari 2020. Tingkat kematian babi paling banyak terjadi awal Januari sampai Februari 2020.

Semenjak laporan itu, petugas Dinas Peternakan Kabupaten Belu langsung bergerak dan turun lapangan guna mendata jumlah babi yang mati serta mengumpulkan informasi terkait gejala-gejala kematian babi. Kemudian, dua pekan lalu, Dinas Peternakan menggambil 48 sampel darah dan organ dalam babi untuk dikirim ke Balai Veteriner Peternakan (BVP) Medan, Provinsi Sumatra Utara.

Sampai saat ini hasil uji laboratorium belum diumumkan. Sesuai kewenangannya, hasil uji laboratorium yang berkaitan dengan virus akan diumumkan secara resmi oleh Kementerian melalui Dirjen Peternakan.

Nikolaus mengatakan, selaku kepala dinas, ia tidak menunggu hasil uji sampel. Ia bersama staffnya sudah bekerja di lapangan untuk menyelamatkan babi yang masih sehat dengan cara diisolasi. Saat ini, Dinas Peternakan lebih banyak melakukan pendekatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE).

Bareskrim Mabes Polri Sebaiknya Ambil Alih Penanganan Sejumlah Kasus Kematian Tidak Wajar Warga NTT

Anda Doyan Makan Telur ? Perhatikan Anjuran Berikut Ini Agar Tetap Sehat

Artis Dewi Yull Bagikan Tips Cepat Hamil Hanya dengan Minum Air Perasan Buah Ini, Manjur Gays !

Nikolaus menambahkan, tahun 2020, Pemkab Belu sudah mengakokasikan anggaran untuk kegiatan vaksinasi dan pengadaan obat dengan sasaran 20.000 ternak babi. Tahun 2019, Pemerintah sudah melakuka vaksinasi sebanyak 17.500 ekor babi. (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved