Likurai Belu-NTT Go International. Tampil di Jepang dan Beberapa Negara

Tarian Likurai kontemporer yang diberi nama IBUIBU BELU ini dibawakan enam penari asal Kabupaten Belu dengan kreografer Eko Supriyanto

POS KUPANG/ISTIMEWA
Bodies of Borders foto usai tampil di Salihara, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020). 

Likurai Belu-NTT Go International. Tampil di Jepang dan Beberapa Negara

POS KUPANG.COM| ATAMBUA----Setelah sukses di kancah internasional lewat penampilan
karya-karya seni tari terkenal, seperti Cry Jailolo, Balabala dan SALT, penari sekaligus kreografer ternama Indonesia, Eko Supriyanto mengeksplorasi lagi tarian dan ritual khas Indonesia dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah Perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Tarian Likurai kontemporer yang diberi nama IBUIBU BELU ini dibawakan enam penari asal Kabupaten Belu dengan kreografer Eko Supriyanto. Tarian ini pertama kali dipentaskan di Salihara, Jakarta dan dilanjutkan di Yokohama Jepang Sesuai jadwal akan dipentaskan di sejumlah negara di Eropa dan Australia.

Dalam press release yang diterima wartawan dari Kominfo Kabupaten Belu, Rabu (12/2/2020) ditulis bahwa tarian kontemporer yang diberi nama IBUIBU BELU ini merupakan puncak dari penelitian Eko Supriyanto tentang Likurai selama dua tahun. Eko mengkreografikan Likurai, sebuah tarian khas masyarakat Belu yang mengungkapkan jalinan persahabatan dalam tatanan sosial di seluruh pulau Timor.

Dengan mengkaji tentang gerakan, ritme, lagu, dan tradisi tekstil, Supriyanto memanifestasikan bentuk-bentuk tarian Likurai dan nilai-nilai yang terkandung.

Likurai mengekspresikan nilai kekerabatan bagi orang-orang yang sekarang mereka dibagi oleh batas-batas yang dipaksakan secara politik untuk memisahkan antara Nusa Tenggara Timur dan tetangganya Timor Timur yang saat ini disebut Timor-Leste.

Kenangan ini terlihat dalam diri lima penari, salah satunya berasal dari Timor Timur. Dan sejarah hidup mereka sebagaimana diekspresikan dalam Likurai sungguh berlawanan atau paradoks. Artinya, tubuh boleh saja menantang batas batas politik, sementara pada saat yang sama tetap dibatasi oleh mereka sendiri.

Enam penari likurai kontemporer yang berangkat ke Jepang yaitu, Feliciana Soares, Evie Anika Novita Nalle, Angela Lavenia Leki, Adriyani Sindi Manisa Hale dan Marlince Ratu Dabbo.

Dramaturg: Renee Sariwulan, Sutradara musik: Dimawan Krisnowo Adji, Desain pencahayaan: Jan Maertens, Desainer kostum: Vivi Ng, Erika Dian, Dramaturgi/kehadiran kreatif: Arco Renz,Manajer proyek: Isa Natadiningrat, Produser: Sadiah Boonstra, Asisten latihan: Riyo Tulus Pernando, Produksi: Perusahaan EkosDance, Produser eksekutif: Ratnasari Langit Pitu, Manajer panggung: Kohtaro Yokozawa, Operator suara: Yuko Nishida, Teater Seni KAAT Kanagawa | Mekanisme panggung: Chinatsu Iwaya, Toshihiko Suzuki, Yuki Suzuki | Pencahayaan: Makoto Oshima, Takeki Kajigai, Ayaka Yamashita, Suara: Akari Tsuchiya, Manajer produksi: Sonoko Yamamoto Penerjemah teknis: Miwa Monden dan Manajemen: Shoko Sonoda.

Kakek JJ Ajak Korban ke Rumah, Kasih Uang Rp 50 Ribu

HP Terbaru 2020, Samsung Galaxy Z Flip, Ponsel Layar Lipat, Berikut Spesifikasi dan Harganya

Trian ini diproduksi bersama oleh Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (Atambua), Asia TOPA (Melbourne), Festival SPRING (Utrecht), Theater im Pumpenhaus (Münster), TPAM - Pertemuan Seni Pertunjukan di Yokohama, Komunitas Salihara (Jakarta) dan Ratnasari Langit Pitu (Laporan Reporter POS KUPANG.COM,
Teni Jenahas).

Penulis: Teni Jenahas
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved