News

Warga Amfoang Enam Bulan Sekali Baru Datang ke Kupang untuk Belanja, Simak Curhat Dicky Solukh

Walaupun saat ini upaya perbaikan infrastruktur jalan mulai dibenahi namun belum menjangkau semua kecamatan di Amfoang

Penulis: Edy Hayong | Editor: Benny Dasman
Dok. Paul Elliek
Kondisi Jembatan di Nunsono, Amfoang, Kabupaten Kupang yang terancam ambruk. 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Edy Hayong

POS KUPANG, COM, OELAMASI - Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan sampai.

Pepatah ini sangat pas dialamatkan kepada warga Amfoang, Kabupaten Kupang. Warga Amfoang menginginkan setiap hari mobilisasi perjalanan lancar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, namun transportasi tidak lancar.

Ini sebagai akibat infrastruktur jalan rusak berat. Dampaknya, setiap enam bulan sekali barulah warga turun ke Kota Kupang berbelanja kebutuhan hidupnya dalam jumlah banyak.

Kondisi ini diakui Sekretaris Camat Amfoang Timur, Dicky Solukh, ketika ditemui Pos Kupang di Oelamasi, Rabu (22/1).
Dicky mengungkapkan, bukan rahasia umum lagi mengenai kondisi alam yang kurang bersahabat untuk wilayah Amfoang.

Walaupun saat ini upaya perbaikan infrastruktur jalan mulai dibenahi namun belum menjangkau semua kecamatan di Amfoang.

Persoalan paling mendasar, kata Dicky, soal ketersediaan sembako memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga biasanya pada musim kemarau memanfaatkan kesempatan berbelanja dalam jumlah banyak mengantisipasi selama musim hujan.

"Kalau musim hujan tiba, maka selama enam bulan warga tidak turun Kupang berbelanja. Kalaupun turun Kupang, mereka belanja sembako dalam jumlah banyak. Karena saat hujan kendaraan tidak berani melintasi sungai yang ada," tuturnya.

Dia mengakui saat musim hujan biasanya para pengusaha yanga memiliki kendaraan pribadi turun ke Kupang belanja sembako untuk stok dalam jumlah besar. Pengusaha membaca momen karena saat itu warga tidak akan ke Kupang dan sangat membutuhkan sembako. Maka pengusaha menaikan harga kebutuhan pokok sangat tinggi.

"Warga, mau tidak mau harus beli. Beras nona mas yang biasa di Kupang dijual Rp 400.000/karung naik mencapai Rp 600.000-an/karung. Begitupun kebutuhan lain. Orang yang punya sapi banyak, jual ke pengusaha untuk dapat uang dan belanja kebutuhan hidup. Kasihan nasib warga," ujar Dicky. *

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved