Opini Pos Kupang

Cerita dari TTS, "Makan Mati -Tidak Makan Mati"

Mari membaca Opini Pos Kupang berjudul: Cerita dari TTS, "Makan Mati -Tidak Makan Mati"

Cerita dari TTS,
Dok
Logo Pos Kupang

Pencemaran terhadap makanan ini bisa terjadi mulai dari produksi, proses penyiapan makanan, penyimpanan dan distribusi makanan atau bahan makanan.

Beberapa jenis bakteri penyebab keracunan makanan di antara adalah bakteri Salmonella, E.Coli, Campylobacter, Listeria, Cholera dan Clostridium botulinum.

Umumnya bakteri-bakteri ini ditemukan dalam telur mentah, daging mentah atau susu yang tidak bersih, ataupun makanan yang diawetkan, terutama makanan kaleng atau makanan kering terawetkan seperti bahan mie. Keracunan ini menyebabkan berbagai macam penyakit -mulai dari diare hingga kanker, mulai dari sakit "ringan" hingga kematian.

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization -WHO) menekankan bahwa akses ke makanan aman dan bergizi dalam jumlah yang cukup adalah kunci untuk mempertahankan kehidupan dan meningkatkan kesehatan.

Secara global data WHO menunjukkan setiap tahunnya, diperkirakan 1 dari 10 orang di dunia -jatuh sakit setelah makan makanan yang terkontaminasi setiap tahun. Anak-anak berusia di bawah 5 tahun menanggung 40 persen dari beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

Keamanan pangan juga terkait erat dengan masalah gizi. Makanan yang tidak aman menciptakan lingkaran setan penyakit dan kekurangan gizi, khususnya yang menyerang bayi, anak kecil, orang tua, dan orang sakit.

Kasus keracunan makanan di TTS, tidak hanya dilihat dari dampak langsung, kesakitan dan kematian, tetapi juga mungkin ada hubungan dengan masalah gizi akut misalnya stunting atau anak kerdil. Apalagi TTS dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan angka stunting tertinggi di NTT (56 persen, tahun 2018); hanya 0.8 persen di bawah Kab TTU (50.8 persen, 2018). Keamanan bahan makanan sangat penting sebagai salah satu upaya mencegah stunting. Karena itu, cerita keracunan di TTS, seperti buah siimalakama, "makan mati, tidak dimakan mati".

Terlepas dari apapun sumber keracunan makanan, umumnya keracunan makanan terjadi akibat adanya bahan makanan yang sudah tercemar ditambah dengan proses penyediaan makanan yang tidak bersih, proses memasak makanan belum cukup matang, dan atau bahan makanannya sudah kadaluwarsa.

Patut juga dicurigai kondisi kesehatan para jurumasak, ada kemungkinan mereka juga carier (pembawa) sumber pencemaran tanpa disadari. Untuk itu, sudah saatnya dilakukan skrining dan pelatihan penjamah makanan di TTS.

Melihat kasus keracunan makanan di TTS yang terbanyak adalah keracunan makanan di tempat pesta; maka dapat diduga, masalah sanitasi atau kebersihan merupakan faktor dominan penyumbang sumber pencemaran makanan.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved