BERITA EKSKLUSIF
Geliat BUMDes di NTT: Raup Rp 200 Juta Bisnis Batu Pecah
Setiap desa memiliki BUMDes dengan jenis usaha sesuai potensi yang dimiliki desa masing-masing.
Penulis: Edy Hayong | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bermunculan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Setiap desa memiliki BUMDes dengan jenis usaha sesuai potensi yang dimiliki desa. Geliat BUMDes mampu menggerakkan perekonomian desa.
Pembentukan BUMDes oleh pemerintah desa sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Pasal 97 menyatakan, desa dapat mendirikan BUMDes, dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Desa Mata Air di Kecamatan Kupang Tengah merupakan salah satu desa di Kabupaten Kupang yang memiliki BUMDes Ina Huk. Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk menjelaskan, BUMDes Ina Huk berdiri tahun 2017, modal awalnya dari anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes).
• 8 Icon Baru Kota Kupang dan Filosofinya
"Sejak adanya dana desa, kami mengambil langkah untuk membentuk BUMDes. Pemilihan pengurus dilakukan berdasarkan aturan, termasuk peraturan desa," terang Benyamin, Selasa (14/1/2020).
Pada tahun pertama, BUMDes Ina Huk mendapat modal Rp 100 juta. Kemudian di tahun 2018 dan 2019 mendapat suntikan modal, masing-masing sebesar Rp 100 juta dan Rp 50 juta.
Jenis usaha yang dikembangkan, yakni sektor pariwisata, pertanian, warung serba ada dan foto copy. "Terkait sektor pariwisata, kami bangun dua lapak di Pantai Sulamanda. Pada tahun 2019, kami membangun lahan parkir dan pembuatan gedung BUMDes karena sekarang masih pinjam pakai gedung koperasi," ujarnya.
• Gubernur NTT: Kalau Pemimpin Bodoh dan Pemalas, Daerahnya Tertinggal Terus
"Di tahun 2020 ini kami akan dorong pengurus BUMDes untuk pelepasan produk beras lokal cap Ina Huk," ucap Benyamin.
Pemerintah Desa Binaus, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) juga memiliki BUMDes Aneotob. Pengelola BUMDes Aneotob membuka usaha menjual batu pecah (crusher stone), bekerja sama dengan pengusaha Kristo Sianto.
Ketua BUMDes Aneotob, Nahor Tasekeb menjelaskan, Desa Binaus memiliki potensi batu kali sehingga menjalin hubungan dengan Kristo Sianto yang memiliki mesin pemecah batu.
Pihaknya menyediakan tenaga kerja. Kerja sama ini mulai September 2019. Hasilnya dibagi dua dengan komposisi 60 persen untuk pengusaha dan 40 persen untuk BUMDes.
• Buang Air Kecil Berujung Maut, Ibu Muda Telepon Suami Usia Bunuh Balita 2 Tahun
"Kami sudah mulai operasi sejak September. Hingga Desember 2019 lalu, kami sudah berhasil menjual hingga 1.200 kubik batu pecah," terang Nahor.
Usaha lainnya, mengelola pasir dan batu kali melibatkan warga 9 RT. Warga mengumpulkan pasir dan batu kali untuk dijual. Pasir seharga Rp 100 ribu per ret, sedangkan batu kali Rp 75 ribu per ret.
"Dari satu ret pasir, BUMDes mendapatkan keuntungan Rp 10 ribu, sedangkan Rp 90 ribu menjadi hak warga. Begitu pula dengan batu, dari satu ret BUMDes memperoleh hasil Rp 10 ribu, selebihnya hak warga," ujarnya.
• Terungkap Istri Sempat Tidur 3 Jam Bersama Jenazah Hakim Jamaluddin Selah Dieksekusi
Nahor menyebut usaha lainnya adalah sewa tenda dan kursi serta air leding. "Dalam setahun, BUMDes Aneotob menargetkan keuntungan bersih Rp 200 juta diluar biaya gaji enam pegawai BUMDes," katanya.
Di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), salah satu desa yang sudah memiliki BUMDes adalah Desa Bijeli, Kecamatan Noemuti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bumdes-wela-pau-desa-benteng-pau.jpg)