LPA NTT Desak Polres Lembata Menindak Tegas Penganiaya Anak Dibawah Umur

Ketua LPA NTT Desak Polres Lembata Tindak Tegas Penganiaya Anak dibawah umur

LPA NTT Desak Polres Lembata Menindak Tegas Penganiaya Anak Dibawah Umur
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Ketua LPA NTT, Tory Ata,S.H,M.H 

Ketua LPA NTT Desak Polres Lembata Tindak Tegas Penganiaya Anak dibawah umur

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Kasus penganiayaan anak di bawah umur di Kabupaten Lembata mendapat perhatian serius Lembaga Perlindungan Anak Provinsi NTT.

Mereka mendesak Polres Lembata yang menangani kasus ini sampai tuntas dan menindak tegas oknum penganiaya anak di bawah umur tersebut.

Hal ini diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTT, Tory Ata ketika mengetahui adanya kasus ini di Kabupaten Lembata.

Operasi Pekat Turangga 2019, Polres Sumba Timur Sita Ratusan Liter Miras Pineraci dan Belasan Sajam

Tory mengatakan penganiayaan terhadap anak perlu menjadi perhatian serius karena merupakan tindakan kekerasan dan melanggar hak anak.

"Apalagi kasus yang terjadi di Lembata merupakan tindakan penganiayaan berat terhadap anak. Tindakan yang sangat tidak terpuji karena dilakukan oleh oknum ASN yang mestinya memiliki kesadaran perlindungan anak," ungkapnya, Sabtu (7/12/2019).

BREAKING NEWS: Rumah Bidan di Desa Umaleu Lembata Ludes Terbakar, Diduga Ini Penyebabnya

Menurutnya, kalaupun ada dugaan terhadap anak MRS (17) sebagai korban melakukan pencurian handphone (yang kemudian tidak dapat dibuktikan di kantor polisi) maka ada mekanisme penyelesaiannya.

"Bukan main hakim sendiri. Karena itu mohon kepada Aparat Penegak Hukum untuk segera menangani kasus ini. Pelaku harus ditindak tegas. Jangan dibiarkan saja karena akan menjadi preseden buruk dalam masyarakat. Semua pihak harus peduli terhadap upaya perlindungan anak dan stop kekerasan terhadap anak," tegas Tory.

Pengeroyokan terhadap anak, kata dia, merupakan bukti bahwa orang dewasa sudah bertindak sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya.

Lebih lanjut, disebutkannya, anak yang pada dasarnya membutuhkan perlindungan karena belum mampu membela diri sendiri patut dilindungi oleh negara dan juga oleh orang dewasa.

"Bentuk perlindungan oleh negara adalah menindak pelaku sesuai hukum yang berlaku. Pelaku juga harus bertanggungjawab untuk pemulihan anak yang menjadi korban penganiayaan. Tentu menderita secara fisik dan psikis. Juga menghambat anak tidak dapat mengikuti ujian. Karena itu LPA NTT menghimbau agar pelaku dapat ditindak secara tegas," tutupnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved