Minggu, 19 April 2026

Warga Baopana Lembata Keluhkan Debu dan Asap Pabrik Aspal: Jangan Bunuh Kami

Warga Baopana Lembata Keluhkan Debu dan asap pabrik aspal: jangan bunuh kami

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Asap menyembur dari cerobong pabrik aspal AMP PT Lima Satu yang dikeluhkan Warga Desa Baopana Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata. Gambar diabadikan Jumat (29/11/2019) petang. 

Warga Baopana Lembata Keluhkan Debu dan asap pabrik aspal: jangan bunuh kami

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Keberadaan sebuah pabrik aspal atau Asphalt Mixing Plant ( AMP) di kawasan wilayah Desa Baopana, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata sudah sangat meresahkan warga di sana.

Pasalnya, setiap hari warga harus menerima pembuangan asap dan debu dari pabrik itu yang bisa mengganggu kesehatan bukan saja orang dewasa, tetapi juga anak-anak kecil dan balita. Warga Desa Baopana sudah sangat resah.

Kalahkan Juara Bertahan 2-0, Rowa FC Juara Turnamen SMAK Wolosambi Cup II di Nagekeo

Sayangnya, mereka tidak bisa berbuat banyak selain mengeluh. Jarak pabrik dan pemukiman warga yang tidak terlalu jauh membuat warga kesulitan menghalau asap dan debu jika angin bertiup ke arah utara.

"Ini mau cari makan atau bunuh orang di sekitar sini. Jangan bunuh kami," ungkap salah satu Warga Desa Baopana, Lorens Lengari ketika ditemui di sekitar lokasi pabrik, Jumat (29/11/2019) petang.

Menyakitkan, Ternyata Ini Anggapan Bobotoh Soal Gol Bunuh Diri yang Dilakukan Kapten Persib Supardi

Lorens menjelaskan pabrik tersebut mulai beroperasi pada sore sampai malam hari dan sudah selama seminggu lebih ini debu dan asap pembuangan dari cerobongnya sampai ke pemukiman warga.

Lorens mengatakan hewan-hewan ternak milik warga saja kesulitan menghirup asap dan debu dari pabrik apalagi warga yang menetap di sana.

"Usaha lain baik tapi usaha ini sangat mengganggu masyarakat. Ini kalau malam angin berhembus ke utara, kami terpaksa terima," kata Lorens.

Sebagai warga, dia kembali mempertanyakan apakah ada studi Analisis terhadap Dampak Lingkungan (Amdal) atau tidak karena sudah sangat mengganggu.

"Ternak saja terganggu apalagi manusia. Sudah satu minggu ini asap sekali. Sebelumnya itu debu dari penggilingan batu saja."

Hal senada juga diungkapkan Christina Wona dan beberapa warga Baopana yang ditemui.

"Sudah lama ketika kami pertemuan di Dinas Lingkungan Hidup (Kabupaten Lembata) betul tanah ini milik warga Desa Merdeka tapi yang kena dampak itu warga Desa Baopana. Warga semua susah," keluhnya.

Menurut dia, sekitar 300 Kepala Keluarga yang bermukim di sana yang terkena dampak.

"Jadi kalau angin bawa ke arah utara dari barat memang seluruh desa. Kami setengah mati tidur. Kita orang besar bisa pakai masker tapi bagaimana kalau anak kecil. Asap ini pada malam hari. Siang hari asap debu dan bau sekali. Asap tebal ini sudah satu minggu."

Christina menyebutkan beberapa warga juga memilih untuk menyelamatkan balita di dalam kamar yang tertutup.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved