Breaking News

Petani di Sulamu Sampaikan Uneg-uneg ke Pemkab Kupang Dalam Mendukung Revolusi 5P

Para petani di Sulamu khususnya di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu menyampaikan uneg-uneg dalam upaya mendukung program Revolusi 5P Khusus di bida

Penulis: Edy Hayong | Editor: Ferry Ndoen
foto : Edi Hayong
Petani padi milik Poktan Satu Hati di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Jumat (22/11/2019) 

Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong

POS KUPANG.COM I SULAMU--Para petani di Sulamu khususnya di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu menyampaikan uneg-uneg dalam upaya mendukung program Revolusi 5P Khusus di bidang pertanian.

Para petani mengeluhkan soal keterlambatan mendapatkan benih padi dan jagung, kalaupun ada datangnya selalu terlambat dan kurang bermutu. Selain itu, persoalan air dalam mendukung lahan sawah tadah hujan sehingga diperlukan sumur bor ataupun cekdam termasuk pengadaan handtraktor.

Para petani menyampaikan ini pada acara Temu Lapang/Temu Wicara Mendukung Sekolah Lapang Model Desa Mandiri Benih Padi dan Peningkatan Komunikasi, Koordinasi dan Disieminasi Hasil Inovasi Balitbangtan di Oeteta, Jumat (22/11/2019).

Hadir pada kesempatan ini, Kepala BPTP NTT, Dr. Procula Rudlof Matitaputty, S.Pt, M.Si, Staf Ahli Bupati Kupang,  Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kain Maus, S.Pd, M. Si, Kadis Ketahanan Pangan, Paulus Ati, Plt. Camat Sulamu, Paulus Ganat, Mewakili Danramil Sulamu, Serka Albert Tanono, Mewakili KapolsekSulamu, Bripka Muh. Arifuddin, Kades Oeteta, Yakob Tafae serta para Peneliti BPTP, penyuluh dan petani.

Menurut para petani, gerakan Revolusi 5P oleh Pemkab Kupang memang sangat luar biasa. Khusus untuk Sulamu terutama Desa Bipolo, Oeteta dan Pariti, memiliki lahan potensial terutama pertanian.

Namun, kata para petani, kendala pada ketersediaan benih padi, jagung yang selalu datang terlambat dan bahkan hampir tidak ada. Petani mengajukan proposal tetapi tidak ada realisasi. Persoalan lain adalah ketersediaan air juga pupuk.

Ketua Umum IPSI NTT Beri Bonus Pesilat Peraih Medali Pra PON, Andre Koreh: Agar Tetap Tekun Berlatih

Untuk itu, melalui para pejabat dari Pemkab Kupang diharapkan memperhatikan kondisi ini jika mengharapkan suksesnya program pertanian. Warga sangat siap bekerja asalkan kondisi kelemahan itu diperhatikan.

Para petani sangat bersyukur dengan hadirnya BPTP NTT yang memberikan pendampingan dengan menghadirkan sekolah lapang. Setiap hasil inovasi baru selalu disampaikan melalui para penyuluh.

Menjawabi keluhan para petani, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Kain Maus, mengapresiasi. Dirinya
berterima kasih kepada BPTP yang peduli dengan petani di Kabupaten Kupang.

"Saya senang dengan ujicoba Varietas padi  ini sangat cocok di Sulamu karena kadar garam tinggi.
Memang kendala selama ini soal keterlambatan bibit memang sering terjadi karena lebih fokus di konsumtif. Kedepan jadi masukan sehingga bibit bisa dapat lebih awal. Persoalan keterlambatan pupuk. Keluhan ini akanbdisampaikan ke pemda sehingga bisa disikapi," kata Kain Maus.

Dirinya sepakat soal kehadiran Sekolah Lapang. Hal ini bermaksud untuk  mengurangi apa yang dikeluhkan. Sehingga petani bisa belajar dalam upaya mempersiapkan benih.

Sementara Kepala BPTP NTT, Dr. Procula Rudlof Matitaputty mengatakan, program Kementan saat ini soal program Kostra tani. Pola yang dibuat adalah dengan menghadirkan sekolah contoh.

"Saya senang petani di Sulamu merespon begitu cepat setiap hasil inovasi dari BPTP. Saya kira benih padi yang sudah kita panen ini bisa dijadikan   bibit di Kabupaten Kupang. Kami hadirkan sekolah lapang agar  petani diajarkan cara semai, tanam, rawat, pasca panen," pesan Rudlof.

Plt. Camat Sulamu, Paulus Ganat atas nama warga Desa Bipolo, Oeteta, Pariti menyampaikan terima kasih buat BPTP NTT. Pola pendampingan yang dilakukan selama ini bukan cuma mimpi tapi kenyataan. Tidak ada di daerah lain yang petani memanen padi dan jagung saat musim kemarau dan itu terjadi di Sulamu.

"Dari 76 poktan di Sulamu yang kerjasama dengan BPTP sebanyak  9 poktan dimana di  Pariti,  5 poktan, di Oeteta 3 poktan dan di Bipolo 1 poktan. Saya lihat kerjasama ini membawa hasil positif. Kalau saya lihat pengalaman selama ini, panen biasanya 1-3 ton/hektar tapi sejak didampingi BPTP bisa mencapai 6-9 ton per hektar," katanya.

Petani padi milik Poktan Satu Hati di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Jumat (22/11/2019)
Petani padi milik Poktan Satu Hati di Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Jumat (22/11/2019) (foto : Edi Hayong)

 
 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved