Renungan Harian Kristen Protestan, Senin, 19 November : Rahasia Keberhasilan
bahkan juga keberhasilan dalam berumah tangga, dan masih banyak keberhasilan lainnya menurut standar diri
Tetapi orang yang bekerja untuk Allah dan senang mematuhi Firman dan kehendak-Nya, mereka merupakan bagian pelengkap rencana Allah yang tidak akan gagal.
Bahkan ketika mati, ia tidak kehilangan apapun dari hal-hal yang sedang ia kejar karena ia memperoleh Kristus dan mempunyai jaminan bahwa kelak ia mengambil bagian dalam takhta dan kerajaan-Nya. Itulah buah abadi yang diperolehnya.
II. Kelompok orang-orang berdosa yang hidup tanpa Allah (ayt 4-6)
Saudara, apa yang dialami oleh kelompok orang ini?
Pertama,mereka hidup terkatung-katung.
Orang duniawi tidak melihat kehidupan orang saleh sebagai sebatang pohon yang tumbuh dengan subur dan berbuah, yang bisa dijadikan sebagai suatu pemandangan yang indah untuk dipandang, bahkan kehidupan orang saleh tidak mereka pandang dari segi Allah.
Mereka mencari rasa aman, mereka mencari kedudukan, dan kehormatan
Pemazmur membandingkan orang-orang yang hidup tanpa Allah dengan sekam yang ditiupkan angin. Zaman dahulu para petani dan keluarganya menampih gandum mereka dengan cara melemparkan ke atas dmenggunakan sebuah sekop kayu atau garpu yang bergigi tiga.
Angin akan meniup sekamnya dan butir-butir gandum yang lebih berat itu akan jatuh di dekat kaki mereka, sekam itu kadang-kadang akan jatuh di dekat tempat mereka dan terus melayang-layang sampai hembusan angin menerbangkannya lagi.
Untuk mencegahnya agar tidak tercampur, maka petani mengumpulkan sekam dan membakarnya.
Inilah gambarannya tentang bagaimana godaan itu begitu kuat dalam kehidupan anak-anak Tuhan.
Dengan kata lain, anak-anak Tuhan memiliki prinsip hidup kepada Allah dan tidak akan pernah berbaur dengan karakteristik orang-orang pendosa meskipun mereka hidup berdampingan.
Apa yang membuat hidup mereka seperti sekam? (gambaran tentang hidup yang mudah diombang-ambingkan kian kemarioleh ulah iblis, merasa tidak berharga, tidak memiliki pendirian yang tetap dan tidak mantap).
Bukan demikian dengan kehidupan orang percaya, sebab orang percaya yang memiliki pendirian iman yang kuat adalahmeraka yang memiliki pendirian iman yang tetap kepada Allah, dan tidak gampang terombang-ambingkan oleh beragam masalah dan tantangan dalam hidupnya, melainkan selalu memandang hanya kepada Kristus sebagai sasarannya dan Firman Allah sebagai pedomannya.
Hidup orang percaya seperti ini adalah hidup yang berharga kepada Allah dan kepada manusia.
Kedua, mereka hidup tanpa dasar. Alkitab menggambarkan orang yang hidup tanpa dasar seperti orang yang membangun rumah di atas pasir, dan ketika turun hujan dan datang banjir, angin merubuhkan rumah itu dan hebatlah kerusakannya (Mat. 8:26,27).
Kata ‘tahan’ dalam ayat 5 pada Mazmur 1 ini, memiliki arti bahwa berdiri tegak serta berkenen kepada Allah.Hal ini berarti orang yang berkenan kepada Allah adalah orang yang berdiri tegak di dalam iman dan keyakinannya yang teguh.
Bukankah sebagai orang-orang percaya, yang telah meletakkan dasar yang teguh itu, kita mampu berdiri teguh? (I Kor. 3:11).
Berbeda dengan orang yang hidup dalam ketidak percayaan dan terikat dengan dosa, mereka tidak dapat berdiri tegak karena telah menolak satu-satunya dasar yang teguh itu, yang telah diberikan Allah kepada manusia.
Tuhan menghendaki bahwa lalang dan gandum itu tumbuh bersama-sama, tetapi pada waktunya yaitu hari kedatangan Tuhan, lalang akan dipisahkan dari gandum karena di sorga tidak akan terdapat orang-orang berdosa.
Yerusalem baru adalah tempat yang mulia dan tidak ada tempat bagi mereka yang tidak menyerahkan diri kepada kristus seutuhnya.
Ketiga, kebinasaan.Penggambaran tentang kebinasaan ini, pada hari penghakiman nanti akan terlihat bahwa hanya ada dua tujuan dan dua jalan bagi manusia.
Penghakiman Allah akan menetapkan suatu kebahagiaan bagi orang yang hidupnya benar-benar berada dalam jalur Kristus sesuai dengan kecintaannya kepada Firman Tuhan, akan memperoleh hidup yang indah bersama dengan Bapa di sorga, dan hanya Yesus satu-satunya jalan itu, di luar Dia tidak ada yang dapat memperoleh hidup itu, karena Allah sendiri telah menetapkan hanya Yesuslah satu-satunya sumber hidup itu (Yoh. 5:26).
Hari ini, masih terlalu banyak orang yang mengalami kenikmatan dunia yang terus dimilikinya sebagai bagian penting dalam hidupnya, seperti halnya perselingkuhan, pesta porah di atas penderitaaan orang lain, korupsi, penindasan struktural dalam sebuah organisasi, dan masih banyak yang lainnyayang seakan menjadikan dirinya sebagai orang duniawi yang tampak berhasil.
Tampaknya ia begitu sangat berhasil dengan apa yang dinikmatinya saat ini, namun ingatlah bahwa mata Allah tetap memandang semua hal yang kita lakukan. Allah sabar dan murah hati, namun jalan orang-orang demikian hanyalah menuju kebinasaan yang kekal.
Dunia memandang keberhasilan itu sebagai sesuatu yang hanya dapat dinikmati sesaat, suatu kenikmatan yang hanya bersifat sementara dan akan lenyap pada hari kedatangan Tuhan.
Tetapi Tuhan dengan keadilannya melihat jalan orang yang besungguh-sungguh di dalam kebenaran-Nya.
Keberhasilan sejati bagi setiap anak Tuhan adalah ketika kita punya kerinduan yang besar untuk selalu bergaul dengan Allah memiliki kerinduan untuk merenungkan Firman Tuhan itu terus menerus, kita siap untuk diajar oleh kebenaran Firman Tuhan, hingga kita memiliki kehidupan yang sungguh berkenan kepada Tuhan dengan menghasilkan buah yang luar biasa dan berdampak bagi orang lain.
Hingga pada akhirnya kita bersama-sama dengan Bapa kita dalam kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dalam sorga. Amin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pdt-rosaria-imelda-blegur.jpg)