VIDEO: Aksi Sniper Cantik Keturunan Iran - Kurdi Ini Paling Diburu ISIS Saat Ini
Siapa Sangka, Gadis Cantik Keturunan Iran Ini Adalah Sniper Handal, Paling Diburu ISIS Setelah Habisi 100 Anggota ISIS
Siapa Sangka, Gadis Cantik Keturunan Iran Ini Adalah sniper cantik Handal, Paling Diburu ISIS Setelah Habisi 100 Anggota ISIS
POS-KUPANG.COM - Gadis Cantik Keturunan Iran Ini Adalah sniper cantik Handal, Paling Diburu ISIS Setelah Habisi 100 Anggota ISIS
Adalah Joanna Palani, perempuan berparas cantik yang kini termasuk orang paling diburu ISIS ini.
Ya Joanna Palani merupakan salah satu sniper cantik yang telah membuat ISIS menjadi geram.
Bagaimana tidak? Joanna Palani telah membunuh 100 anggota ISIS melalui senapan laras panjangnya.
Siapakah Joanna Palani yang sebenarnya saat ini sedang banyak diburu dan diwaspadai?
• VIDEO Live Streaming Pengajian Ustadz Adi Hidayat, Al Quran Sunnah Solution, Masjid Al Ihsan Bekasi
• Ramalan Zodiak Cinta Besok Jumat 15 November 2019 Leo Intens Libra Jaga Hati Pisces Bucin Parah
Dilansir dari Intisari.grid.id, Selasa (12/11/2019), Joanna Palani adalah seorang sniper atau penembak jitu dari Denmark.
Dia bergabung dengan Unit Perlindungan Wanita Kurdi (YJP) dalam upaya melawan organisasi ISIS.
Ya, Joanna Palani adalah perempuan berkewarganegaraan Denmark yang dikenal kisahnya terlibat dalam peperangan melawan ISIS di Suriah.

(lensculture.com)
Memiliki paras cantik bak seorang model, rupanya Joanna Palani memiliki kemampuan seorang sniper luar biasa.
Bahkan keberanian dan kemampuannya, membuat Joanna Palani menjadi sniper yang paling dicari oleh pejuang ISIS.
Melansir juga dari laman Dailymail, perempuan yang dijuluki Lady Death ini mengakui bahwa ia telah membunuh 100 orang anggota ISIS.
Akibatnya, Joanna Palani diburu oleh ISIS.
Kepalanya dihargai hingga 1 juta dollar AS atau sekitar Rp 14 miliar bagi siapa saja yang bisa menangkapnya.
Mengutip Kompas.com, Joanna Palani lahir di sebuah kamp pengungsian di Gurun Ramadi Irak, selama Perang Teluk 1993.
Kemudian dia bermigran ke Denmark saat usianya masih 3 tahun.
Gadis blasetran Iran-Kurdi ini harus meninggalkan Iran Kurdistan karena alasan politik dan kebudayaan kala itu.
Mewarisi darah pejuang dari kakek dan ayahnya membuat Palani terdorong untuk memulai revolusi melalui aksi militan.
Pada 2014, wanita cantik ini keluar dari bangku kuliahnya.

(thetimes.co.uk)
Mulailah dia melakukan perjalanan ke Suriah di usianya yang masih terbilang muda, 21 tahun.
Ia Joanna Palani pun menceritakan bagaimana awal perjalanan, dan pelatihan yang diikutinya sebelum terjun ke garda terdepan untuk melawan ISIS.
"Saya ingat pertama kali saat menarik pelatuk dan merasak kekuatan dari sebuah senjata.”
“Saya tidak cukup bagus (memegang senjata) tapi saya sangat menyukainya."
"Saya menyukai kekuatan senjata itu, dan fakta bahwa kekuatan itu bukan dari senjata itu sendiri, tetapi pada orang yang memegang senjata itu.”
“Saya ingin menjadi lebih baik," jelas Joanna Palani.
Lebih lanjut, Joanna Palani menjelaskan dirinya sangat menyukai proses pelatihannya di kamp.
"Saya sangat menyukai pelatihan saya.”
“Itu mengingatkan saya pada sosok Lyuda (Pavlichenko) Lady Death dari Tentara Merah Rusia," jelas Joanna Palani.
Perlu Anda tahu juga, Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko adalah seorang penembak Soviet dalam Tentara Merah pada Perang Dunia II, yang dikenal karena membunuh 309 orang.
Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko dianggap sebagai salah satu penembak militer papan atas sepanjang masa dan penempak perempuan tersukses dalam sejarah.
Apalagi darah Joanna Palani selalu mendidih setiap kali mendengar berita pejuang ISIS memperlakukan buruk anak-anak dan perempuan.
Selama di Timur Tengah, Joanna Palani adalah bagian dari pasukan yang membebaskan sekelompok gadis Yazidi yang diculik untuk dijadikan budak seks di Iran.
"Saya adalah seorang penembak jitu.”
“Saya suka menggunakan otak dan tubuh saya untuk fokus pada misi saya," ungkap Joanna.
"Saya dilatih oleh banyak kelompok di Kurdistan dan di luar wilayah Kurdi di Suriah," tambahnya.
Dia juga dilaporkan memerangi pemerintahan rezim Bashar al-Assad di Suriah. (Maria Andriana Oky)