Renungan Harian Kristen Protestan, Senin, 4 November 2019 : Bahagia itu sederhana?
bahagia itu sederhana. Kalau tanda tanya, berarti sebuah pertanyaan: apakah memang bahagia itu sederhana?
Renungan Harian Kristen, Senin, 4 November 2019 : Bahagia itu sederhana?
Oleh : Pdt DR Mesakh A P Dethan MTh MA
Bahagia itu sederhana!? Kalimat ini bisa dalam tanda seru, maupun tanda tanya. Kalau sebuah tanda seru artinya kalimat ini sebuah pernyataan: bahagia itu sederhana. Kalau tanda tanya, berarti sebuah pertanyaan: apakah memang bahagia itu sederhana?
Orang yang bahagia adalah orang yang menikmati hidup apa adanya, ya hidup yang sederhana tidak rumit-rumit, tidak bataputar, tidak meyusahkan orang lain, demi kesenangan diri sendiri.
Menjalani hidup dan merespon sebuah masalah dengan sederhana, bukan dengan kerumitan. Jika ada masalah pakai saja “Semboyan Pengadaian” menyelesaikan masalah tanpa masalah!
Tentu saja kita masih ingat cerita tentang si Jhony asal Belu NTT (Joni Lau....bukan Jhony yang lain) si pemanjat tiang bendera yang tak disangka bisa bertemu presiden dan para menteri.
Jhony yang polos dan lugu merespon masalah tali tiang bendera yang yang bermasalah secara sederhana.
Kepandaian dan kebiasaan memanjat pohon pepaya dan pinang, dia terapkan untuk memanjat tiang bendera dan berhasil memperbaikinya.
Tak disangka respon sederhana si Jhony ternyata dinilai banyak orang sebuah tindakan kepahlawanan, bahkan presiden Jokowi megundangnya ke istana dan menawarkan sepeda untuknya dan hal berharga lainnya.
Tentu Jhony tidak menyangka bahwa ia akan bertemu banyak orang besar dan terkenal se Indonesia. Ternyata hal sederhana yang dilakukan bisa menjadi “sesuatu” yang berharga.
Raja Salomo dalam bacaan kita ini 1 Raja-raja 3:1-15 (bandingkan 2 Taw 1:1-13) juga meminta hal yang sederhana sebetulnya, ia meminta bukan kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan umur panjang, tetapi yang ia minta adalah hikmat.
Bukankah hikmat tidak perlu dibeli, dan hikmat juga telah Tuhan karuniakan pada setiap orang sebagai ciptaaan Tuhan yang segambar dengan-Nya (imago dei)?
Ternyata yang diminta Raja Salomo adalah hal yang sederhana namun memiliki dampak yang luas. Salomo meminta hikmat dari Tuhan. Namun hikmat macam apa. Apakah yang dimaksudkan dengan hikmat adalah kepintaran atau bahkan kelihaian?
Bukan itu sebab jika hanya itu maka bisa membawa orang kepada kelicikan dan tipu daya. Yang diminta Salomo adalah hikmat yang dikontrol oleh hati nurani.
Dalam 1 Raja-raja 3:9 dikatakan: “9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"”.