Tak Punya Gedung Sekolah, SMAN 1 Adonara Timur Apel Sumpah Pemuda di Tengah Aktivitas Pasar

Apel bendera ini dilakukan di Lapangan Kebun Raya Waiwerang yang berada langsung di pinggir pasar Waiwerang.

Tak Punya Gedung Sekolah, SMAN 1 Adonara Timur Apel Sumpah Pemuda di Tengah Aktivitas Pasar
POS KUPANG/RICARDUS Wawo
Lantaran tak punya gedung sekolah, para guru dan ratusan siswa SMAN 1 Adonara Timur mengadakan upacara bendera peringatan Hari Sumpah Pemuda di tengah aktivitas Pasar Waiwerang, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Senin (28/10/2019) pagi. 

Tak Punya Gedung Sekolah, SMAN 1 Adonara Timur Apel Sumpah Pemuda di Tengah Aktivitas Pasar

POS-KUPANG.COM|FLOTIM--Lantaran tak punya gedung sekolah, para guru dan ratusan siswa SMAN 1 Adonara Timur mengadakan upacara bendera peringatan Hari Sumpah Pemuda di tengah aktivitas Pasar Waiwerang, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Senin (28/10/2019) pagi.

Apel bendera ini dilakukan di Lapangan Kebun Raya Waiwerang yang berada langsung di pinggir pasar Waiwerang.

Walaupun ramai dengan aktivitas jual-beli pedagang dan pembeli, para siswa dan guru tetap khusuk mengikuti upacara bendera yang dipimpin langsung kepala sekolah. Mereka semua mengenakan kain sarung tenun adat Lamaholot.

Kepada Pos Kupang, Kepala SMAN 1 Adonara Timur, Kornelis Laot Boro mengatakan mereka 'kehilangan' gedung sekolah sejak konflik dua desa di Adonara tahun 2012 silam.

Akibat konflik itu, mereka harus meninggalkan gedung sekolah lama yang berada di areal konflik. Sampai saat ini, sekolah dengan jumlah peserta didik 670 siswa ini harus mengikuti pelajaran pada siang sampai sore hari di Gedung SDN dan SDI Waiwerang.

Kualitas SMAN 1 Adonara Timur Tetap Terjaga

Walau sudah tak punya gedung sekolah lagi, kualitas SMAN 1 Adonara Timur justru semakin mentereng. Sekolah ini sudah terakreditasi A dan jumlah siswa yang mendaftar juga selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan, Lambertus Muda menuturkan sekolah itu hanya mengalami pengurangan jumlah peserta didik hanya pada tahun 2013 atau setahun setelah pecah konflik dua desa dan mereka berpindah gedung.

Namun sampai sekarang, jumlah siswa yang mendaftar bahkan meningkat terus dari tahun ke tahun.

Hal ini, kata dia, membuktikan kalau publik masih memiliki kepercayaan tinggi pada sekolah itu. Di balik keterbatasan sarana dan pra sarana, dia bersyukur para guru masih punya dedikasi tinggi dan tanggungjawab penuh pada anak didik mereka.

"Pembelajaran untuk anak SD berlangsung dari pagi sampai pukul 12.15 Wita. Setelah itu SMAN 1 Adonara Timur mulai apel dari 12.15 Wita dan pada 12.30 Wita baru mulai pembelajaran," rincinya.

Praktis, alokasi waktu satu mata pelajaran untuk SMA/SMK yang seharusnya 45 menit harus berkurang menjadi 40 menit.

Para siswa pun baru pulang dari sekolah pada pukul 17.25 Wita. Tak hanya masalah waktu, para guru dan siswa SMAN 1 Adonara Timur pun harus berbagi sekat dengan guru dan siswa SDN Waiwerang dan SDI Waiwerang.

TRIBUN WIKI : Menguji Adrenalin di Spot Wisata Baru Cunca Jami Labuan Bajo

Putri Amelia Ditangkap Berhubungan Badan, Prostitusi Online, Ini 10 Fakta Finalis Putri Pariwisata

"Dengan dana komite kami bangun lagi empat ruang kelas baru setengah tembok. Aula SD dibagi jadi empat ruangan: dua ruang kelas, satu ruang guru dan ruang perpustakaan. Sekarang
saja sudah ada 21 rombel. Guru berjumlah 53 orang termasuk PNS dan honorer. Siswa sekarang berjumlah 670 orang."(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved