Kisah Bustanul dan Umar Sembuh dari Kanker Usus Stadium 3 Tanpa Operasi, Tak Pakai Kemoterapi

Bustanul (54) masih mengingat jelas bagaimana perasaannya ketika divonis menderita kanker usus stadium tiga pada Agustus 2013 silam.

Kisah Bustanul dan Umar Sembuh dari Kanker Usus Stadium 3 Tanpa Operasi, Tak Pakai Kemoterapi
dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou
Umar (58), saat menjalani pengobatan kanker rektum stadium tiga pada Oktober 2011 lalu 

Akibatnya, tak jarang penderita mengalami berbagai tekanan psikologis. Mulai dari ketidaknyamanan ketika proses perawatan hingga beban tersendiri saat pasien akan kembali ke masyarakat.

Tentu dengan efek yang seperti itu, baik Bustanul maupun Umar memilih untuk segera mencari solusi lain alias second opinion.

Pengobatan yang dipilih

Beruntung, berkat usaha mencari informasi pengobatan dari sana sini, keduanya bisa sembuh dari kanker kolorektal.

Kesembuhan yang didapat pun sesuai keinginan mereka, yaitu sembuh tanpa operasi di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Mereka menjalani pengobatan kanker tersebut pada tanggal yang sama, yaitu 2 Oktober, namun dalam tahun berbeda. Umar di tahun 2011, sedangkan Bustanul pada 2013.

Adapun metode pengobatan kanker tanpa operasi yang dijalani Bustanul maupun Umar, terdiri dari intervensi, imunoterapi, dan cryosurgery.

Metode intervensi, salah satu pengobatan minimal invasif yang dimiliki St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.
Metode intervensi, salah satu pengobatan minimal invasif yang dimiliki St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. (dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou)

Metode intervensi merupakan salah satu pengobatan minimal invasif alias minim luka yang dimiliki St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Sebenarnya, intervensi merupakan kemoterapi. Namun yang membedakan dari kemoterapi konvensional, pada metode ini obat yang digunakan langsung mengarah ke pusat sel-sel kanker lewat proses kateterisasi.

Metode intevensi ini juga disebut sebagai kemo bertarget, karena dilakukan berkali-kali hingga sel-sel kanker mengecil, bahkan hilang.

Dengan cara kerja seperti itu, maka efek obat tidak memengaruhi bagian tubuh lainnya yang sehat, sebagaimana kerap terjadi pada kemoterapi konvensional.

Kemudian pengobatan minim luka selanjutnya adalah imunoterapi yang merupakan terapi biologis. Cara kerjanya, yaitu dengan menyuntikkan sel imun anti kanker ke dalam tubuh pasien.

Metode imunoterapi
Metode imunoterapi (dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou)

Kemudian pengobatan minim luka selanjutnya adalah imunoterapi yang merupakan terapi biologis dengan cara mengambil darah pasien dan dikembangbiakkan Natural Killer Cell (NK Cell).

NK Cell sendiri merupakan teknologi yang mampu membersihkan sel kanker dalam tubuh hingga ke pembuluh darah.

Selanjutnya, darah pasien yang dikembangbiakkan tadi kembali disuntikkan ke dalam tubuh pasien.

Tak hanya mematikan sel tumor secara langsung, metode tersebut dapat pula merangsang tumbuhnya sel-sel kekebalan tubuh yang berguna melawan sekaligus mencegah risiko timbulnya kanker kembali.

Apalagi, bila metode imunoterapi dikombinasikan dengan terapi intervensi, maka hasil pengobatan kanker kolorektal akan lebih maksimal alias sembuh total.

metode pengobatan kanker cryosurgery
metode pengobatan kanker cryosurgery (dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou)

Lalu pengobatan minimal invasif lainnya bernama cryosurgery. Metode ini memanfaatkan peralatan khusus seperti jarum, mesin pencitraan, dan dua jenis gas.

Cara kerjanya, dengan menggunakan jarum, gas argon bersuhu kurang lebih 160 derajat Celcius disuntikkan ke sel kanker hingga beku menyerupai bola es.

Sel kanker yang beku tadi kemudian dipanaskan dengan gas helium bersuhu lebih dari 40 derajat celcius hingga mati.

Metode cryosurgery ini dianggap lebih efektif mengobati kanker karena tidak membutuhkan pembedahan besar seperti operasi konvensional.

Berkat metode-metode pengobatan di atas, Bustanul dan Umar kini bisa bernafas lega lantaran sudah sembuh dari penyakit kanker yang pernah mereka derita.

Bahkan, waktu yang dihabiskan untuk menjalani pengobatan pun terbilang cukup singkat, padahal stadiumnya cukup tinggi.

Bustanul hanya menghabiskan waktu kurang lebih 30 hari, sementara Umar hingga tujuh minggu. Durasi tersebut ditentukan dari kondisi pasien dan tingkat keparahan kanker.

Sebagai informasi, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou merupakan rumah sakit khusus kanker yang berlokasi di Guangzhou, China Selatan.

Rumah sakit tersebut memiliki kantor perwakilan yang tersebar di berbagai negara. Salah satunya Indonesia yang berada di Jakarta, Surabaya dan Medan.

Untuk memudahkan penderita kanker memperoleh kesembuhan, masing-masing kantor perwakilan tadi menyediakan layanan untuk pengurusan visa dan tiket pesawat.

Tak hanya memiliki teknologi pengobatan kanker terkini, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou juga menyediakan fasilitas penjemputan di Airport Guangzhou.

Bahkan dari segi perawatan, satu pasien akan ditangani secara khusus untuk satu tim dokter khusus yang dikepalai oleh seorang profesor.

Soal bahasa, pasien tak perlu khawatir. Sebab, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou menyediakan jasa penerjemah bahasa Indonesia 24 jam untuk memudahkan komunikasi pasien saat menjalani pengobatan.

Selain itu, berbagai fasilitas lain seperti laundry turut disediakan untuk menunjang kenyamanan pasien.

Untuk kemudahan informasi, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou menyediakan layanan konsultasi online yang bisa diakses di sini.

Ada pula call center di nomor +62812-978-978-59 yang bisa dijangkau melalui telepon atau WhatsApp.

Sumber: Kompas.com

Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved