Undana Kembangkan Desa Camplong II Sebagai Desa Sentra Tani Ternak Lahan Kering Kepulauan

Tim pengabdi, drh. Cynthia Dewi Gaina dengan anggota Prof. Frans Umbu Datta, drh. Filphin Amalo, drh. Maxs UE Sanam, Imanuel Benu dan Yulianus Linggi

Undana Kembangkan Desa Camplong II Sebagai Desa Sentra Tani Ternak Lahan Kering Kepulauan
Dokumentasi tim pengabdi
Kegiatan pengabdian masyarakat dari Undana di Desa Camplong II, Kabupaten Kupang. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kegiatan pengabdian merupakan hibah Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Hibah Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) Tahun 2019 digelar di Desa Sentra Tani Ternak Lahan Kering Kepulauan, Desa Camplong II, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Provinsi NTT.

Tim pengabdi terdiri dari Ketua, drh. Cynthia Dewi Gaina dengan anggota Prof. Frans Umbu Datta, drh. Filphin Amalo, drh. Maxs UE Sanam, Imanuel Benu, P.Hd dan Dr. Yulianus Linggi.

pengabdian undana1
Kegiatan pengabdian masyarakat dari Undana di Desa Camplong II, Kabupaten Kupang.

PPDM ini merupakan wadah diseminasi beberapa hasil penelitian sesuai bidang kepakaran tim pengusul yang merupakan kolaborasi 2 bidang keilmuan, yaitu kedokteran hewan dan peternakan yang berlandaskan renstra penelitian Undana 2016-2020 terkait lahan kering kepulauan. Peraturan Bupati Kupang Nomor 4 tahun 2015 Pasal 10 tentang prioritas penggunaan dana desa sejalan dengan pencapaian target RPJM dan RKP desa yang memuat tentang target pengembangan ternak secara kolektif, pengelolaan padang gembala, dan pengembangan teknologi tepat guna hasil pegolahan pertanian dan perikanan

PPDM ini secara umum bertujuan sebagai pengenalan, penyebarluasan, alih teknologi pakan dalam upaya optimalisasi pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang tidak hanya berguna bagi peternak Desa Camplong II, tapi dapat menjadi sekolah lapangan bagi mahasiswa S1 FKH, S1 Fapet. Dan, khususnya mahasiswa koasistensi Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) dan pada akhirnya dapat dijadikan sebagai salah satu ikon desa wisata pendidikan di kabupaten Kupang, NTT.

Dalam rilis tim pengabdi yang diterima Pos Kupang, Selasa (1/10/2019), kegiatan yang dilakukan adalah budidaya hijauan makanan ternak pada lahan kering berbukit, peningkatan pendapatan masyarakat melalui usaha kompos bokashi, budidaya sayuran dan ikan lele system aquaponik dengan bahan lokal-bambu. Pelatihan teknologi pakan ternak amoniase dan pembuatan mineral blok serta pelayanan kesehatan hewan, pemberian vitamin dan obat cacing.

Salah satu kegiatan pengabdian ini adalah Pembuatan Aquaponic. Dasar kegiatan in adalah kematian ikan lele yang telah dipelihara akibat limbah kolam ikan yang tidak terpelihara dengan baik .Salah satu solusi yang ditawarkan kepada masyarakat adalah melalui pembuatan aquaponic yang tidak membutuhakn biaya yang terlalu mahal.

Menurut Dr. Yulianus Linggi, aquaponic adalah gabungan sistem bercocok tanam secara hidroponik dan budidaya ikan. Limbah yang berasal dari kolam ikan dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi bagi tanaman yang ditanam pada media tertentu, seperti bambu yang mudah didapat karena ditanam, dihalaman rumah petani. Adapun tanaman, seperti sayur kangkung dan bayam dapat berfungsi sebagai biofilter untuk menyerap ammonia, nitrat, fosfor yang berbahaya untuk ikan.

Dengan aquaponic, diharapkan limbah cair kolam ikan di Dusun IV, Desa Camplong II dapat dimanfaatkan menjadi nutrisi untuk menanam tanaman. Sehingga akan diperoleh dua manfaat sekaligus, yaitu adanya sarana pengolahan limbah cair kolam ikan dan dihasilkannya tanaman
organik yang subur. Adapun tahap awal pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah pendampingan dan pengenalan aquaponic yang meliputi prinsip kerja aquaponic dan pengenalan teknologi sederhana yang digunakan dalam aquaponic.

Kegiatan lainnya adalah pengembangan lahan hijauan makanan ternak (tanpa dibakar). Sebab praktik bakar ini tidak menyuburkan lahan namun dapat melenyapkan unsur hara, seperti cacing tanah yang berkembang biak dalam tumpukan tanaman dan menyuburkan tanah yang tidak dibakar.

Masyarakat Desa Camplong II yang mendapat edukasi, yaitu Bapak Anis selaku kepala Dusun IV dan Bapak Daniel, bendahara kelompok, langsung memberikan respon. Mereka memberikan tanahnya untuk dijadikan model percontohan seluas 2 Ha dari 250 Ha. Ini menjadi model bagi petani peternak lainnya yang bersikukuh tidak mau bercocok tanam hijauan makanan ternak tanpa membakar lahan, dikarenakan persepsi yang telah ada bertahun-tahun bahwa larangan membakar lahan hanya menghambat petani tradisional.

Kedua tokoh masyarakat desa mitra ini, bertekad memulai pola baru lahan tanpa bakar dan menjadi contoh bagi anggota kelompok lainnya.

Prof. Frans Umbu Datta dalam paparannya saat melakukan pengadian di Desa Camplong II mengatakan bahwa untuk lahan tanpa bakar mulanya ditebasi terlebih dahulu semak yang tumbuh di atas lahan yang bergambut setebal setengah meter. Lalu sampah organik tersebut disimpuk (ditumpuk) dan menjadikan tanah lebih subur.

Beliau pun menjelaskan bahwa telah terbukti bahwa Afrika memiliki iklim dan lahan kering yang hampir sama bahkan lebih ekstrim dibanding NTT mendapat manfaat dengan lahan yang tidak dibakar. Dimana mereka melakukan penanaman lahan dengan lebih dahulu dibakar, masyarakat bisa menanam setahun sekali. Sedangkan lahan tanpa bakar, masyarakat bisa menanam dua kali dalam setahun.

Akan tetapi, beliau juga menekankan bahwa perubahan membutuhkan waktu dan komitmen. Butuh waktu bertahap untuk mengedukasi masyarakat desa.

Oleh karena itu, salah satu tujuan Program Pengabdian Hibah Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) Kemerinstekdikti yang baru berjalan satu tahun ini adalah peningkatan pemahaman masyarakat petani peternak dusun IV, Desa Camplong II. **

Penulis: Sipri Seko
Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved