Terkait Virus African Swine Fever, DPRD NTT Minta Pemprov Perketat Pengawasan di Perbatasan

Terkait virus African Swine Fever, DPRD NTT Minta Pemprov NTT perketat pengawasan di perbatasan

Terkait Virus African Swine Fever, DPRD NTT Minta Pemprov Perketat Pengawasan di Perbatasan
POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru
Sekretaris Fraksi PKB DPRD NTT, Ana Waha Kolin, S.H 

Terkait virus African Swine Fever, DPRD NTT Minta Pemprov NTT perketat pengawasan di perbatasan

POS-KUPANG.COM |KUPANG - DPRD NTT meminta Pemerintah Provinsi NTT ( Pemprov NTT) segera melakukan pengawasan ketat di pintu-pintu masuk di wilayah perbatasan Indonesia ( NTT) dengan Timor Leste.

Pengawasan dilakukan agar mengantisipasi masuknya virus babi, African Swine Fever (ASF) dari Timor Leste ke NTT.

Sampah yang Menumpuk di Lingkar Luar, Desa Oinlasi Bersumber dari Warga Kota SoE

Hal ini disampaikan Sekretaris Fraksi PKB DPRD NTT, Ana Waha Kolin, S.H, Senin (30/9/2019).

Menurut Ana, Pemprov NTT perlu serius dalam menyikapi persoalan ASF yang diinfokan sudah ada pada ternak babi di Timor Leste.

"Secara geografis, kita satu daratan dengan Timor Leste, bahkan mobilisasi masyarakat dan ternak di perbatasan selalu ada. Karena itu, sebagai DPRD NTT, saya minta perhatian pemerintah untuk antisipasi sebelum virus itu masuk ke NTT," kata Ana.

Populasi Terancam, Dinas Peternakan Lembata Lakukan Kawin Suntik Babi

Dia mengatakan, perlu antisipasi dan mewaspadai sejak dini sebelum kasuanya muncul di NTT.

"Harus ada gerak cepat dari pemerintah untuk antisipasi dengan perketat pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah perbatasan NTT-Timor Leste," katanya.

Dikatakan, ternak babi bagi warga NTT menjadi ternak yang selalu digunakan dalam peristiwa-peristiwa adat dan budaya.

"Karena itu, perlu ada upaya cepat dan tegas untuk menyelamatkan babi di NTT.
Sebab kakau virus ini bergerak cepat, maka secara manusia kita tidak bisa menahan," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, pemerintah perlu secepatnya mengambil tindakan kongret.

Dia mencontohkan, jika di perbatasan belum ada pos karantina dan juga kantor kesehatan masyarakat veteriner, maka perlu dipikirkan.

"Tapi kalau sudah ada, maka segera perketat pengawasan ini. Pengawasan ketat dan komprehensif di wilayah perbatasan perlu ekstra ketat. Kita khawatir jika masyarakat di perbatasan lakukan sistem barter ternak babi dangan sembako atau barang maka, ini bisa menjadi sumber masuknya ternak yang terinfeksi ke NTT," ujarnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved