Sabtu, 11 April 2026

Populasi Terancam, Dinas Peternakan Lembata Lakukan Kawin Suntik Babi

Akibat populasi terancam, Dinas Peternakan Lembata lakukan kawin suntik Babi

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
pos kupang.com, robert ropo
Ternak babi yang diberikan kepada kelompok petani peternak Praikilimbatu. 

Akibat populasi terancam, Dinas Peternakan Lembata lakukan kawin suntik Babi

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Akibat populasi terancam, Dinas Peternakan Lembata lakukan kawin suntik Babi. Tingginya permintaan babi di Lembata mengancam populasi babi di wilayah ini.  Oleh sebab itu, Dinas Peternakan Kabupaten Lembata giat melakukan kawin suntik babi guna meningkatkan populasi babi di Kabupaten Lembata.

Sampai saat ini, setidaknya tercatat sudah 300 ekor babi yang sudah disuntik. Targetnya pada tahun 2020, populasi babi kembali meningkat lagi.

Balon Bupati Manggarai Barat Maria Geong Pilih Wakil dari Dapil Satu, Ada Tiga Nama, Siapa Saja?

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq, kawin suntik ini dilakukan karena pertumbuhan populasi babi hanya dengan kawin alamiah cukup lambat.

Sementara faktanya saat ini kebutuhan daging babi di Lembata dan permintaan babi dari Maumere dan Pulau Sumba juga cukup tinggi.

Menurut Kanis, harga babi di Lembata paling murah di NTT. Rata-rata minimal harga satu ekor babi dewasa itu Rp 2,5 juta. Selain murah, alasan lain pengusaha babi dari Maumere dan Sumba datang ke Lembata adalah kualitas babi lokal dan babi turunan yang bagus di Lembata.

Sembilan Fraksi DPRD Sikka Terbelah Tetapkan RAPBD Perubahan

"Selain harga, daging juga rasa enak. Yang bampres kan mereka tidak terlalu simpatik karena dagingnya tidak enak. Lalu kita sekarang mau bebas penyakit hog kolera, penyakit yang ganas itu. Mungkin tahun 2020 ini kita sudah bebas hog kolera. Kalau sudah bebas, orang akan rame-rame datang ke sini beli bibit babi," terang Kanis ditemui di Kantor DPRD Lembata, Senin (30/9/2019).

Lebih lanjut Kanis mengatakan pihaknya juga selalu mengontrol dan mengawasi keluar-masuk babi dari Lembata. Tahun ini, sejak Januari sampai saat ini kira-kira sudah 800 ekor babi yang dijual keluar Lembata.

Dia merincikan dari jumlah ini, jika satu ekor babi dijual dengan harga Rp 3 juta, maka sudah Rp 2 miliar lebih uang yang masuk ke Lembata melalui tangan para peternak babi.

"Kita di sini potensi peternakan: babi, kambing, unggas dan ayam. Tapi kalau unggas untuk kebutuhan di dalam daerah. Keluar tidak bisa. Kita sulit bersaing dengan dari luar. Kecuali ayam kampung, jadi sekarang kita sedang dorong ayam kampung. Istilah programnya 'Apung', kita lagi dorong supaya Lembata ini jadi ikon ayam kampung," paparnya.

Salah satu peternak babi di Kelurahan Selandoro Kota Lewoleba, Petrus Pelan, menjelaskan di wilayah Kedang banyak warga yang menjual babi yang masih roduktif.

Hal ini patut disayangkan karena bisa mengurangi populasi babi di sana. Hal yang sama juga terjadi di Kota Lewoleba dimana masih banyak warga yang memotong babi produktif.

Pengusaha bibit babi ini menjelaskan ada kecemasan babi di Lembata bisa habis kalau masih ada warga yang menjual babi produktif.

Oleh karena itu, sebagai peternak babi, dia menyambut baik usaha dinas peternakan melakukan kawin suntik demi peningkatan populasi.

Akan tetapi dia menyarankan, keterampilan kawin suntik ini bisa diberikan juga kepada para peternak babi melalui pelatihan.

Hal ini dilakukan karena petugas dinas yang bertugas melakukan kawin suntik sangat terbatas. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved