News

Ketua Pospera TTS Berang Pengerjaan Lab Peternakan SMKN Batu Putih tak Sesuai RAB, Ini Temuannya

Ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) TTS, Yerem Fallo, berang bukan main saat turun ke lokasi

Ketua Pospera TTS Berang Pengerjaan Lab Peternakan SMKN Batu Putih tak Sesuai RAB, Ini Temuannya
Pos Kupang.com/dion kota
Namun gedung lab peternakan SMK Negeri Batu Putih yang sementara dibangun 

 Laporan Wartawan Pos Kupang, Com, Dion Kota

POS KUPANG, COM, SOE - Ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) TTS, Yerem Fallo, berang bukan main saat turun ke lokasi meninjau pembangunan gedung laboratorium peternakan SMK Negeri Batu Putih di Desa Oebobo, Kecamatan Batu Putih, Sabtu (14/9/2019) sore.

Nadanya langsung meninggi saat melihat para tukang kembali melanjutkan pekerjaan pembangunan gedung tersebut tanpa mengganti besi tiang yang disebutnya tidak sesuai rancangan anggaran biaya (RAB).

"Ini siapa yang suruh lanjut? Kenapa kamu (para tukang) belum ganti tiang tapi sudah cor lagi. Kamu ini kita sudah bilang di gambar itu pakai besi 12 bukan besi 10, tapi kamu masih pakai besi 10 ini. Sudah begitu kamu paksa cor lagi," ujar Yerem dengan nada tinggi.

Yerem mengaku, Pospera TTS telah bersurat secara resmi kepada Inspektorat Provinsi NTT untuk turun ke SMK Negeri Batu Putih guna melakukan audit.

Pasalnya, dari hasil investigasi yang dilakukan Pospera, pekerjaan gedung yang menggunakan dana APBN tersebut bermasalah. Sedikitnya ada lima temuan dari hasil investigasi Pospera yang dirilis ke media.

Pertama, gambar yang digunakan untuk pembangunan lab menggunakan gambar SMK Negeri Boking sebelum akhirnya di tengah pembangunan gambar tersebut diganti lagi oleh pengawas pembangunan.

Kedua, pelaksana tidak menyesuaikan material bagesting sehingga terpaksa tukang menggunakan papan cor bekas untuk bagesting yang mengakibatkan terjadinya keropos dan tidak rapinya pekerjaan tersebut. Sedangkan pada RAB ada anggaran untuk bagesting.

Ketiga, besi untuk kolom, ring balok dan kolom tidak sesuai dengan spesifikasi dalam RAB dan gambar. Misalnya di RAB dan gambar tercatat besi diameter 12 mm dan 8 mm, sedangkan yang digunakan adalah besi 10 mm dan 6 mm.

Keempat, dalam hal pelaksanaannya, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan secara swakelola justru oleh kepala sekolah secara sepihak memutuskan untuk memberikan pekerjaan tersebut kepada pihak ketiga yang diduga oknum ASN pada salah satu sekolah kejuruan di Kota SoE, berinisial AAT. Dengan demikian dapat dipastikan melanggar sistem aturan swakelola murni.

Halaman
12
Penulis: Dion Kota
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved