Bertemu Gabriela Fernandez: Tokoh Teatrikal Dalam Tarian Festival 3 Gunung Lembata

Bertemu Gabriela Fernandez: Tokoh Teatrikal Dalam Tarian Festival 3 Gunung Lembata

Bertemu Gabriela Fernandez: Tokoh Teatrikal Dalam Tarian Festival 3 Gunung Lembata
istimewa
Gabriela Fernandez 

Bertemu Gabriela Fernandez: Tokoh Teatrikal Dalam Tarian Festival 3 Gunung Lembata

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Tarian kolosal yang dipentaskan pada puncak perhelatan Festival 3 Gunung tak akan lengkap tanpa kehadiran seorang Gabriela Fernandez. Di antara ribuan penari yang terlibat dalam pertunjukan, perempuan berusia 24 tahun ini bisa dikatakan jadi pembeda.

Mengenakan busana tenun khas orang Atadei Lembata, dia tampil sebagai tokoh teatrikal yang keseluruhannya mengisahkan siklus kehidupan manusia dari proses kelahiran, kehidupan sampai kematian (circle of life).

Samsul Widodo: Dana Desa Bisa Digunakan Untuk Kesenian

"Jadi ini gabungan antara musik, tarian dan teatrikal. Walaupun ceritanya nggak benar-benar narasi atau drama, tapi saya mewakili ibu-ibu yang menenun. Saya memintal benang dan saya menunjukkan rasa cinta saya pada Lembata," ungkap pemilik sapaan Gebi ini pada malam penutupan Festival 3 Gunung di Bukit Cinta Lembata, Sabtu (31/8/2019) malam.

Bisa bergabung dalam pementasan akbar festival tahunan ini, bagi Gebi, adalah sebuah pengalaman berharga dan membuat dia makin cinta Lewotana Lembata. Apalagi dalam pementasan itu dia berkolaborasi juga dengan para seniman, penari dan musisi dan Institute Seni Indonesia (ISI) Jogja selain dengan anak-anak penari Lembata.

Wabup Flotim Saksikan Kapal Cepat Hajar Ketinting Nelayan

Jika diberi kesempatan kedua, dengan senang hati dia mau terlibat lagi dalam ajang serupa tahun depan.
Lulusan Universitas Sanata Dharma Jogja ini memang lahir dari rahim budaya Lamaholot.

Ayahnya orang Larantuka dan ibunya adalah orang Waibalun, Flores Timur. Kini dia berdomisili di Kota Jogjakarta.
Gebi bukan murni seorang penari. Dia adalah seorang penulis lagu, penyanyi folk dan sudah menelurkan single 'Aku, Kamu dan Dua Cangkir Kopi' dan 'Sepeda Tua'.

Walau saat ini sedang meniti karier di tanah Jawa, penyanyi bersuara khas ini punya mimpi besar pada anak-anak Lembata.

"Mungkin adanya tarian atau kreasi baru seperti ini bisa membuat adik-adik semangat, karena kita mau mengubah supaya tidak lagi menganggap tarian itu kuno, membosankan atau monoton. Tarian asli itu diolah dan ketika diolah kita bisa semakin bangga dengan apa yang kita punya. Justru orang luar carinya yang kayak gini. Ketahuilah apa yang kamu punya. Olahlah itu dengan kreativitas yang kamu punya sekarang supaya itu bisa jadi sesuatu yang membanggakan buat Lembata."

Menurut dia, orang-orang Flores punya ide-ide yang brilian dan pemikiran yang hebat tetapi masih belum berani, takut dan malu mewujudkan potensi-potensi itu jadi aktus kerja yang nyata.

Halaman
12
Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved