Bukan Hanya dengan Kata-kata Tetapi Sikap dan Perilaku Cinta Lingkungan!

Melalui perintah ini Tuhan meminta kita agar anak-anak kita tidak hanya mengenal Tuhan dan cinta Tuhan,

Bukan Hanya dengan Kata-kata Tetapi Sikap dan Perilaku Cinta Lingkungan!
istimewa
Pdt. Sefnat Sialana, STh, Ketua Klasis Alor Tengah Selatan pada acara Seminar seusai Pembukaan Sidang Majalis sinode ke 44 di GMIT Lahairoi Tofa, 25 Agutus 2019

ADA yang menarik dari kegiatan Penutupan Bulan Pendidikan dan Pembukaan Sidang Majelis Sinode GMIT  XLIV di GMIT Lahairoi Tofa, Hari Minggu tanggal 25 Agustus 2019, dimana tampilnya  Pendeta Sefnat Sialana, STh dari Klasis Alor Tengah Selatan sebagai salah seorang pembicara pada seminar yang diadakan setelah kebaktian tersebut bertemakan: “GMIT menyikapi ancaman kekeringan” .

Pendeta Sefnat menjelaskan lebih jauh setelah seminar itu dan memberi makna ekologis bagi penafsiran Kitab Ulangan 6:4-7 yang dikaitkannya dengan tanggungjawab gereja untuk mengajarkan kepada anak-anak untuk cinta lingkungan dan bertanggungjawab terhadap lingkungan.

4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.  6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,  7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Menurut Pendeta Sefnat ungkapan kunci dalam ayat 6 dan 7 dimana orang beriman diminta memperhatikan, mengajarkannya secara berulang-ulang kepada anak-anak, membicarakannya dimana saja, entah di rumah dan dalam perjalanan atau dimana saja dapat dikaitkan juga dengan mengajarkan anak cinta lingkungan. 

Melalui perintah ini Tuhan meminta kita agar anak-anak kita tidak hanya mengenal Tuhan dan  cinta Tuhan, kita tidak hanya ajarkan nilai-nilai moral untuk menghormati orang tua dan saudara-saudarinya atau temannya, tetapi juga nilai-nilai cinta akan lingkungan alam dan bertanggungjawab kepada alam ciptaan Tuhan ini.

 Pdt. Sefnat Sialana, STh, Ketua Klasis Alor Tengah Selatan  pada acara Seminar seusai Pembukaan Sidang Majalis sinode ke 44 di GMIT Lahairoi Tofa, 25 Agutus 2019.

 Untuk itulah Pendeta Sefnat sebagai ketua Klasis di Aor Tengah Selatan mengajak rekan-rekan pendeta dan warga jemaat di klasisnya untuk mengadakan Jambore Lingkungn Hidup bertujuan agar anak-anak semakin dekat dengan lingkungan alam dan mencintainya.

Kegiatan Jombore Lingkungan Hidup diselenggarakan setiap dua tahun sekali sejak dimulai pertama kalinya tahun 2011. Para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang diberi nama hewan atau tumbuhan. Ada beragam kegiatan yang dilakukan antara lain gerakan penertiban sampah plastik yang diberi nama Gerakan Semut, di sekitar penginapan dan lokasi  pelaksanaan. Tidak kalah penting juga adalah penanaman anakan untuk penghijauan dan pernyataan sikap dan komitmen mereka untuk memelihara lingkungan pada acara penutupan Jambore Lingkungan Hidup.

Menurut Pendeta Sefnat mengjarkan kepada anak-anak untuk cinta lingkungan tidak hanya lewat kata-kata tetapi juga lewat sikap dan perilaku kita sebagai orang tua. Kita harus punya hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan sesama ciptaan.  Kita lakukan hal-hal yang sederhana yang bisa dicontohkan anak-anak, misalnya dengan Tuhan kita buat hal-hal apa saja, dengan sesama kita buat apa saja dan dengan alam kita buat apa yang nyata yang bisa jadi teladan anak-anak kita. Kita melakukan yang hal-hal yang sederhana, tetapi berdampak besar bagi pertumbuhan rohani anak untuk cinta lingkungan, cinta sesama dan cinta Tuhan Allah Pencipta.

Selain Jambore Lingkungan hidup dan kegiatan nyata untuk memelihara lingkungan pendeta Sefnat juga telah membentuk semacam lembaga penyanggah cinta lingkungan di tingkat klasis yakni  Badan Pembantu Pelayanan Klasis untuk Lingkungan Hidup (BPPKLH). Ke depan ia berharap lembaga ini dapat berperan aktif bersama gereja, pemerintah dan masyarakat untuk bukan hanya menjaga dan memelihara lingkungan alam, tetapi juga juga dapat menjadi pusat berpikir dan pembelajaran bagi gereja untuk melakukan aksi-aksi nyata bagi perlingungan dan pemeliharan lingkungan ciptaan Tuhan Allah ini dan menangani secara khusus masalah-masalah lingkungan hidup di Klasis Alor Tengah Selatan.  Ia berharap ini juga bisa dibuat di klasis-klasis lain bahkan kalau bisa harus ada juga badan ini di tingkat Sinode GMIT.

Halaman
12
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved