Minggu, 3 Mei 2026

Berita Puisi

Puisi-Puisi Pos Kupang Minggu Ini, Kepoin Yuk?

Puisi-Puisi Defri Ngo/Kita Tentu Harus Mengenang/Sejarah adalah sepasang lampu gas yang selalu jujur menutur.

Tayang:
wordpres
Beranda rumah dan senja yang bisu 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Puisi-Puisi Defri Ngo
Kita Tentu Harus Mengenang

Sejarah adalah sepasang lampu gas yang selalu jujur menutur
:kita tentu harus mengenangnya!

Sejarah menyala beberpa jarak di belakang kita
Terbaring para pemuda dengan tanur api di dada
Dan darah yang menggenang sepajang jalan Pertiwi
Adalah cerita sebuah perjuangan

Kehilangan bahkan mati sekalipun adalah hadiah
Lalu meninggalkan jejak
Berdecak-decak
Kelak kita belajar memungutnya
Dan menjadikannya sebagai guru di suatu musim kemudian

Lelah memang tak pernah berkhianat
Keringat yang jatuh selalu jadi berkat
Tak ada yang harus dirisuakan selain maju dan berperang
Merdeka selalu di dada!

Segala yang telah berlalu adalah sejarah
Kita tentu harus mengenang
Memberi hormat pada leluhur yang jatuh di medan perang
Dan merajut cinta antar sesama

Tentu, kita harus mengenang
Biar kelak kening selalu tergenang perjuangan.
(2019).

Suami Nagita Slavina, Raffi Ahmad Hadiahi Benda Seharga Rumah ke asisten Merry, Boleh Dijual

Jika Tiada Lagi Batas

Di dalam diriku, hanya ada angin yang jadi batas
Antara seputih jiwa dan badai nafsu
Hanya ada angin yang jadi batas
Biar kelak mata bisa memilih kemana hati hendak berlabuh

Setiap pilihan adalah usaha mengalahkan risiko

Hanya ada angin yang jadi batas diriku
Tipis dan kadang telanjang
Kelak ketika batas terpecah
Aku pun tiada

Aku debu yang sekejab terbang, seketika menghilang

Duka diriku adalah sengsara si cerdik ular yang melata di padang Firdaus
Tiada lagi benih yang jatuh, tumbuh dan berbuah
Aku nelangsa dan terbuang
Tuhan jadi murka dan tiada kujumpa senyum riangnya

Jika tiada batas lagi, aku mati jadi debu
2019.
(Defri Ngo, pernah menerbitkan antologi cerpen berjudul Jendela Sunyi (2016). Sekarang tinggal di Unit Yoseph, Ledalero).

Cerpen Petrus Nandi: Beranda Rumah dan Senja yang Bisu

Puisi-Puisi Markward MauSino Manlea
Likurai Sang Dara dan Ksatrianya

Sang dara duduk termenung di bawah pohon cemara
Seekor Kecer Merah berdendang mengusik semayamnya
Tingkah genitnya mengajak sang dara berdendang gembira
sembari bermandikan embun pagi angin utara
merdu, mengirim rindu untuk kekasihnya

Sang dara tersenyum mesrah menyapa
Hatinya seketika merekah berbunga
Kelopak rindu bermekaran merona
Gundah jiwanya sirna, diajaknya Kecer Merah bercerita
Kisah tentang kekasihnya yang jauh di sana

Kekasihnya, melanglang jauh pergi berperang
Menebas medan belantara aral melintang
Dirapalkannya siang malam mantra penjaga jiwa
Dimaterainya dengan perisai rindu
Agar kekasihnya selamat dan amanah kembali jua

Setiap senjanya, di gapura kotaraja ditunggunya penuh damba
Dinantinya kekasihnya memperdengarkan suara gemerincing kaki ksatrianya
Akan disongsongnyanya dengan selaksa pujian dan hujan bunga kenanga
Sembari disenandungkannya tembang kemenang para pahlawan
Menggiring kekasihnya yang pulang membawa kemenangan

Bila tiba masanya, sang kekasih pulang mengembara
Tubuh letih kekasih ksatrianya akan disegarkannya
dengan aroma narwastu wangi cendana
akan dibasuhnya dengan cahaya bulan purnama
biar semerbak bias mempesona

Bersama sang kekasih, sang dara menari di padang asmara
Degup jantung dan gemulainya padu senada
Menjadi satu dalam tabuhan gendrang berirama
Sedang sang kekasih asmara meliuk-liuk, melengkung
mengayun dan menyentak menjadi satu dengan semesta
(Betun, 26 Juli 2019)

Rayakan Ulang Tahun, Luna Maya Pakai Topeng Gambar Lelaki Ini, Ariel NOAHkah?

Album

Kusibak lagi sebuah album lawas
Mendekap kukuh dalam rekaman memori
Tentang setangkup rindu di musim lalu

Masih segar dalam ingatanku,
sebuah tuturan bual penggiring rebah mimpiku
Hikayat Putri Langit milik Bei Taek, kakekku

Aku terngiang lantunan pita kaset kesayanganku
Tanda mata dari Bapa di hari ulang tahunku
"Si Lumba-Lumba" Bondan Prakoso si pelagu

Aku hafal benar perkara sebelum bapa pergi bergawai,
Pada gemerincing receh lima puluh rupiah upah halalku
Usai rampung menyemir kilap sepatunya

Aku ingat dengan riuh gaduh ocehan ama,
Pada meriah renyah kisah di tungku perapian
Tempat berlabuh paruh yang lapar dan dahaga

Aku tak lupa pada paras bocah-bocah bau kencur
Naif dan masih hijau mana kenal arti derita
Riang gembira bermain layangan di padang ilalang gersang
Terkekeh aku ingat wajah angkara murkah Paman Ruslan
Iskandar si teruna sulungnya lengah kalau azan magrib berkumandang
Lupa menggiring ternak pulang ke kandangnya

Aku serasa mendengus aroma hujan di hulu kemarau
Terbayang sudah cakapnya bentangan permadani subur
Medan perang raga menerjang bola dan menyerang maju

Di penghujung hari sebelum sang surya berpamitan
Para tetua duduk bersenda gurau
Bergumam tentang musim lampau, keluh kesah dan dambaan

Di bawah tudung naungan pohon akasia itu
Para jejaka dan perawan sedang berkasih-kasihan
Mengukuhkan ikrar hati buat hajat hidup bersama kelak

Sedang bocah-bocah ingusan sudah tak nampak lagi
Telah letih dan linglung terkapar raganya di peraduan
Tersesat dalam antah berantah alam mimpinya
(Gua Toro Pada Suatu Senja, 20 Mei)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved