Berita Pendidikan

Drg. Imelda Sudarmadji: Pelayanan di Puskesmas Tarus Harus Seperti di Rumah Sakit

Dipercayakan memimpin Puskesmas Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, sejak bulan Februari 2017, awalnya terasa berat.

Drg. Imelda Sudarmadji: Pelayanan di Puskesmas Tarus Harus Seperti di Rumah Sakit
Dokumentasi keluarga
drg. Imelda Sudarmadji bersama suami dan ketiga anaknya 

Bisa ceritakan awal mula dipercayakan memimpin Puskesmas Tarus?

Mantan Bupati Kupang, Dr. Ayub Titu Eki, saat itu berkunjung ke Puskesmas Tarus dan teman-teman mengajukan usulan kepada bupati agar saya menjadi Kepala Puskesmas Tarus. Sebelumnya saya sampaikan belum siap, apalagi anak-anak masih kecil. Di benak saya adalah menjadi pemimpin tidak gampang. Selang beberapa lama, SK Bupati keluar atas nama saya. Saya kaget, tetapi karena SK sudah ada mau tidak mau harus terima untuk melaksanakan perintah dengan penuh tanggung jawab. Bulan Nopember 2016 dilantik, dan bulan Februari 2017 dilantik ulang karena perubahan nomenklatur.

Apa yang Anda rasakan saat itu, apakah ada pergolakkan batin?
Yah, wilayah Tarus terkenal dengan suka ribut. Apalagi di Puskesmas rata-rata tenaga kesehatan orang sudah tua sehingga cara kerja sesuai cara berpikirnya. Mereka tidak berpikir kalau zaman semakin maju. Sistim sudah berubah dengan kemajuan. Jadi diajak bekerja untuk berlari bukan tinggal di tempat seperti istilah Gubernur NTT, Namkak, tapi harus merubah cara kerja. Apalagi, sekarang kerja sesuai target dan data. Karena itu, sampai sekarang saya masih membenahinya. Perlahan-lahan tidak ribut lagi, karena pola kerja kita berdasarkan sistim yang sudah terbentuk. Saya benahi SDM, karena mengelola manusia dengan pemikirannya memang tidak gampang. Si A berpikir begini, si B berpikir begini sementara aturan mengatakan seperti ini. Kebijakan kepala puskesmas mereka berontak, melawan, tidak ikut, dan ribut. Saya berpikir harus merubah teknik memimpin. Saya mulai belajar karena ilmu memimpin tidak belajar. Belajar merangkul, belajar berdamai dengan diri sendiri dulu, baru berdamai dengan orang lain.

Rekrutmen CPNS - Ini Alasan Kaum Milenial Masih Tertarik Jadi PNS

Puskesmas Tarus adalah pintu gerbang Kabupaten Kupang. Artinya wajah kesehatan daerah ini tergambar pertama dari Tarus. Bagaimana Anda menyikapinya?
Sebelum bertugas di Puskesmas Tarus, saya pernah menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kabupaten TTS. Saya dipercayakan sebagai Plh selama dua minggu. Kemudian ke Puskesmas Halilulik dipercayakan sebagai Plh selama dua tahun. Pengalaman tersebut membantu saya untuk membenahi perlahan-lahan Puskesmas ini. Walaupun Puskesmas, tapi pelayanan harus seperti di rumah sakit. Saya melakukan pembenahan gedung, SDM, dan administrasinya. Kalau tersistim dengan baik, pelayanan akan berjalan baik juga. Perawat harus tahu tupoksinya, bidan tahu tugasnya, administrasi tertata baik, sehingga alur pelayanan juga berjalan baik.

Apa yang harus diprioritaskan kepada masyarakat di Kupang Tengah ini?
Dalam urusan kesehatan ibu dan anak, masih ada ibu yang melahirkan di rumah. Saya kecewa. Walaupun di Posyandu banyak penyuluhan, omong ulang-ulang, tetap saja ada yang melahirkan di rumah. Ini yang saya lihat salah pada pola pikir. Memang merubah orang punya pola pikir tidak dalam satu malam. Musti napas panjang, omong terus. Sampai mereka sadar, tapi saya rasa untuk mencapai 100 persen semua ibu hamil melahirkan di Puskesmas belum bisa. Saya minta kepala desa membantunya.
Untuk kesehatan anak juga sama. Orang tua masih masa bodoh dengan kesehatan anak. Miris memang, anak sakit sudah parah baru dibawa ke Puskesmas. Padahal di sekitar rumah ada kader, bidan, kenapa tidak dimanfaatkan. Merubah pola pikir butuh waktu.

Dugaan Suap Pengadaan Pesawat, KPK Periksa Manajer PT Garuda Indonesia

Dalam hal pelayanan kepada warga, pesan apa yang selalu disampaikan ke perawat?
Saya biasa awali pekerjaan dengan memimpin apel pagi. Maksudnya supaya saling tahu dalam sehari kekuatan seperti apa. Cek dokter umum berapa, ada tidak petugas di ruang tindakan. Kalau tidak ada, bisa ambil satu perawat jaga. Jadi wajib mencek agar semua ruangan tidak boleh kosong. Harus ada petugas kesehatan sehingga pelayanan jalan. Makanya saya tegaskan loket, poli umum, apotik harus kuat. Kalau tidak puskesmas tagoyang. Setiap apel pagi, saya tegaskan agar perawat tidak kasar dengan pasien. Kita harus melayani, memberikan berkat buat orang lain. Orang yang datang dengan sakit berat kalau dilayani dengan senyuman akan sembuh. Pasien datang bukan untuk mejeng tapi butuh pelayanan kesehatan. Apalagi pasien dari kampung dalam kondisi sakit butuh pelayanan untuk sembuh.

Obsesi Anda pelayanan Puskesmas harus seperti pelayanan di rumah sakit. Tentunya membutuhkan sarana dan fasilitas kesehatan yang bagus. Bagaimana komentar Anda?
Penduduk Kupang Tengah ini sekitar 57.000. Puskesmas yang palinng banyak kunjungan adalah Puskesmas Tarus. Saya ingin Puskesmas ini menjadi rawat inap. Wacana yang saya dengar memang mau bangun Puskesmas di Kaniti, tapi masih dalam persoalan tanah. Kami memiliki enam tempat tidur, tetapi masih kosong sehingga saya sampaikan untuk digunakan dulu untuk pelayanan lain seperti Ispa.
Ada wacana pengembangan mau dinaikkan menjadi 10 tempat tidur pada tahun 2020. Sehingga obsesi saya pelayanan di Puskesmas Tarus menjadi rawat inap bisa terjawabi dan pola pelayanan seperti di rumah sakit pun akan memuaskan para pasien yang datang berobat. (*)

Festival Ranaka di Manggarai, Bupati Kamelus Minta Ijin Dirjen KSDE, Simak Kegiatannya

Dukungan Keluarga Besar

MEMILIH dua peran dalam hidup memang susah-susah gampang. Fokus di pekerjaan atau mengurus rumah tangga.

Kondisi ini setidaknya dialami drg. Imelda Sudarmadji.

Halaman
123
Penulis: Edy Hayong
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved