Gidion: Sejahterakan Masyarakat Sumba Timur Tidak Bisa Ditawar-tawar
Kata Gidion Mbilijora: Sejahterakan Masyarakat Sumba Timur Tidak Bisa Ditawar-tawar
Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
Kata Gidion Mbilijora: Sejahterakan Masyarakat Sumba Timur Tidak Bisa Ditawar-tawar
POS-KUPANG.COM | WAINGAPU - Membangun Sumba Timur yang makin maju dan sejahtera adalah pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar. Setiap orang yang mendiami wilayah Sumba Timur, harus memiliki komitmen yang sama menjadikan Sumba Timur sebagai rumahnya wajib memelihara, merawat, memajukannya dan melindungi dan mengasihi sesamanya.
Bupati Sumba Timur Drs. Gidion Mbilijora, M.Si menyampaikan itu dalam pidatonya saat bertindak sebagai Inspektur Upacara pada Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-74, Sabtu (17/8/2019) pagi.
• 1.000 Siswa SMA dan SMK di Kota Kupang Tampilkan Tarian Kolosal
Adapun selaku Perwira Upacara Kapten Inf. Nurcahyono dan Komandan Upacara Kapten Inf. Idris.
Hadir dalam upacara tersebut, Wakil bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali,ST.,MT, Sekda Sumba Timur Domu Warandoy, pimpinan Forkompimda Sumba Timur, pimpinan SKPD, dan undangan lainya.
Kata Gidion, aspek keamanan, kenyamanan dalam bekerja dan berusaha yang didasari oleh adanya toleransi hidup bersama dalam kebhinekaan Suku, Agama dan Ras telah mampu dipelihara dan pertahankan sampai dengan saat ini. Situasi dan kondisi seperti inilah yang membuat Sumba Timur dikenal sebagai Kabupaten yang aman dan toleran.
• Anggota Satgas Pamtas Yonmeks 741/GN Kibarkan Bendera Raksasa di Bukit Eban
"Tidak mengherankan jikalau banyak orang atau badan usaha yang ingin menginvestasikan modalnya, memanfaatkan potensi sumber daya yang ada atau sekedar berwisata mengunjungi obyek-obyek wisata alam dan budaya seiring dengan semakin terkenalnya Sumba sebagai pulau terindah di dunia,"ungkap Gidion.
Kata dia, dampak positif dari situasi dan kondisi digambarkan tersebut, bertumbuhnya investasi, baik dalam skala besar maupun kecil, berkembangnya usaha mikro, kecil dan menengah, menggeliatnya perekonomian yang ditandai oleh terus berkembangnya sektor jasa keuangan, jasa komunikasi dan transportasi, penginapan, kuliner dan bentuk-bentuk produk jasa lainnya.
Gidion mengurainya, kemajuan ini, secara makro ekonomi ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi Sumba Timur dari 5,06% pada Tahun 2016 menjadi 5,28% pada Tahun 2018 dan laju inflasi dari 5,09% pada Tahun 2016 berhasil ditekan dan dikendalikan sehingga terus mengalami penurunan menjadi 3,83% pada Tahun 2017. Demikian juga aspek pembangunan manusia, dimana Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumba Timur terus mengalami peningkatan dari 63,22 pada Tahun 2016 menjadi 64,19 pada Tahun 2017 dan rata-rata usia harapan hidup orang Sumba Timur mencapai angka 64,12 Tahun.
"indikator kemajuan ini tidak berarti, kita tidak menghadapi permasalahan. Justru dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, perubahan iklim yang berdampak negatif terhadap usaha pertanian dan peternakan menimbulkan rentannya ketahanan pangan masyarakat. Timbulnya masalah gizi kurang dan gizi buruk, belum termasuk masalah ketersediaan layanan air bersih dan sanitasi yang belum layak, persoalan rumah tidak layak huni yang masih membutuhkan perhatian kita,"tandas Gidion.
Menurutnya, akumulasi dari semua persoalan tersebut menyebabkan masih tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Sumba Timur, meskipun secara statistik mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2018 masih tercatat jumlah penduduk miskin sebesar 76.800 orang.
"Menurunkan jumlah penduduk miskin membutuhkan kerja keras kita semua, komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan, mulai dari tingkat Kabupaten sampai di tingkat Kecamatan, Desa/Kelurahan melalui verifikasi dan validasi data yang akurat secara sistem, intervensi program yang tepat sasaran, pemanfaatan dana bantuan secara efektif, pengendalian dan pengawasannya,"imbuh Gidion.
Gidion juga menekankan, terkait dengan masalah kemiskinan, terdapat satu persoalan mendasar yang masih dihadapi yakni masalah stunting akibat kekurangan gizi. Masalah ini menjadi serius, karena mata rantai kemiskinan tidak bisa terputus manakala masih terus lahir anak-anak yang stunting.
"karena itu, masalah ini harus menjadi pengetahuan umum masyarakat secara luas melalui sosilisasi dan pendampingan kepada pasangan nikah dan Ibu hamil untuk memperhatikan asupan gizi dan kesehatan Ibu dan anak sejak Ibu hamil sampai dengan anak berusia 2 tahun atau selama 1000 Hari pertama kehidupan,"kata Gidion.
Selain masalah kemiskinan dan kesehatan, lanjut Gidion, terkait kualitas sumber daya manusia adalah mutu pendidikan. Masalah pendidikan di Kabupaten Sumba Timur masih menyisahkan problem yang cukup kompleks antara lain masalah mutu lulusan, kualitas guru, kualitas pelayanan, ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gidion-sejahterakan-masyarakat-sumba-timur-tidak-bisa-ditawar-tawar.jpg)