Wabup Kupang Minta Penegak Hukum Selidiki Proyek Pembangunan Puskesmas Soliu

Inspektorat juga cek keberadaan sumber dana apakah di Dinas Kesehatan atau diman

Wabup Kupang Minta Penegak Hukum Selidiki Proyek Pembangunan Puskesmas Soliu
ISTIMEWA
Wabup Kupang, Jerry Manafe ketika mengikuti penutupan kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 105, di Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kamis (8/8/2019). 

Wabup Kupang Minta Penegak Hukum Selidiki Proyek Pembangunan Puskesmas Soliu

POS-KUPANG.COM I OELAMASI---Wakil Bupati (Wabup) Kupang, Jerry Manafe melihat dengan mata kepala sendiri pembangunan gedung Puskesmas Soliu di Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang.

Puskesmas ini dibangun sejak tahun 2018 namun hingga kini belum selesai padahal,  untuk pembangunan gedung baru, beberapa ruang rawat jalan terpaksa dirobohkan. Karena itu wabup meminta penegak hukum menyelidiki proyek yang sumber dana DAK Afirmasi Dinas Kesehatan tahun anggaran 2018 senilai Rp  2,6 milliar lebih ini.

Wabup Jerry Manafe kepada Wartawan, Senin (12/8/2019) mengatakan, terhadap  pembangunan Puskesmas Soliu, dirinya menemukan fakta bahwa ada dugaan terjadi praktek jual beli paket pekerjaan dari pemenang tender ke pihak kedua dan ke pihak ketiga, pemenang tender hingga kini tidak diketahui rimbanya.

Pasca menang tender, kontraktor pelaksana menyerahkan pekerjaan ke pihak kedua, pihak kedua lalu menyerhakan lagi ke pihak ketiga sehingga terkesan ada praktek jual beli paket pekerjaan.

"Dalam sidak saya ke  Puskesmas Soliu, Kamis (8/8/2019), dua orang tukang yang kerjakan proyek ini  menuturkan, ada praktek jual beli paket pekerjaan yang mengakibatkan gedung ini mangkarak. Mereka mengatakan, menerima pekerjaan sejak bulan Juli 2018 dari orang yang bernama Andre atau pihak ketiga. Sepengetahuan mereka, Andre mendapatkan pekerjaan dari Abe Senda, sementara Abe Senda dapat dari si Tallo. Ini kan tidak benar," katanya.

Dijelaskannya, pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tukang ini bersama beberapa orang buruh, terhenti sejak bulan Januari 2019 karena kehabisan bahan bangunan. Sejak itu pula, kontraktor  sebagai pemberi pekerjaan tidak jelas rimbanya.

Menurut mereka berdua, Uang yang belum dilunasi oleh Andre hingga saat ini yaitu biaya pemasangan atap gedung senilai Rp 25 juta, pasangan tembok Rp 14 juta, plester Rp 12 juta, serta utang material Rp 32 juta.

Dikatakan Jerry Manafe, kondisi ini  akibat dari kurangnya pengawasan baik oleh dinas juga oleh konsultan pengawas. Ini sangat mungkin lantaran lokasi pekerjaan sangat jauh dari kota.

Akibatnya, Upah pekerja dan material tidak dilunasi oleh kontraktor pelaksana, kondisi puskesmas yang mangkarak kemudian memberi dampak langsung bagi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, dirinya meminta pihak Kejaksaan untuk melakukan audit investigasi.

"Saya akan minta ke Kejaksaan Tinggi NTT  investigasi, untuk mengetahui sejauh mana pekerjaan. Inspektorat juga cek keberadaan sumber dana apakah di Dinas Kesehatan atau dimana," tegas Jerry.

Kadis PUPR Manggarai : Kami Akan Tangani Yang Rusak Berat di Ruas Jalan Ruteng-Iteng

KEBBO UMA Kupang Peduli Pendidikan Anak Asal Lio-Maumere dari SD Hingga PT

Selain gedung puskesmas yang mangkrak, Wabup Kupang juga menemukan fakta lain yaitu 1 buah sumur gali dengan  jumlah dana 50 juta rupiah tidak selesai dikerjakan, mobil ambulance juga tidak diberikan oleh dinas.(Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved