Gubernur NTT Canangkan Sulamu Jadi Rumah Kelor dan Garam

Di Sidang Klasis Sulamu, Gubernur NTT canangkan Sulamu jadi rumah Kelor dan Garam

Gubernur NTT Canangkan Sulamu Jadi Rumah Kelor dan Garam
POS-KUPANG.COM/Edi Hayong
Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ketika Canangkan Sulamu jadi Rumah Kelor dan Garam, Selasa (6/8/2019) 

Di Sidang Klasis Sulamu, Gubernur NTT canangkan Sulamu jadi rumah Kelor dan Garam

POS-KUPANG.COM | SULAMU - Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, pada Pembukaan Sidang Klasis Sulamu ke 2 Jemaat Betesda, Oeteta, berkesempatan mencanangkan Sulamu jadi rumah Kelor dan Garam.

Selain itu, gubernur juga berpesan kepada Jemaat untuk menangkal berita hoax dan bergandengan tangan membangun kebersamaan agar tidak terpengaruh paham radikal yang ingin memecah belah persatuan NKRI.

• Sikapi Calon Mahasiswa yang Meninggal di Toilet Kampus, BEM PNK Minta Audiens

Pantauan POS-KUPANG.COM di Oeteta, Selasa (6/8/2019), Gubernur Viktor hadir didampingi Wakapolda NTT, Brigjen Joni Asadoma, Wabup Kupang, Jerry Manafe, Ketua Sinode GMIT, Pdt. DR. Meri Kolimon, para pimpinan OPD lingkup Provinsi NTT dan warga Jemaat di Sulamu.

Viktor mengatakan, selama ini NTT dicap sebagai Nasib Tidak Tentu (NTT) dan provinsi terbelakang ketiga di Indonesia setelah Papua, Papua Barat. Cap yang diberikan seharusnya tidak boleh ada karena potensi daerah ini cukup banyak.

• Jawab Kebutuhan Perumahan Anggota, Kopdit Obor Mas Bentuk Usaha Developer

"Kita dikonotasikan sebagai daerah miskin, bodoh dan malas. Kita harus semangat mengelola potensi yang sudah asa. Potensi rumput laut, kelor, gewang yang diolah menghasilkan etanol sangat laku dijual. Saya kira kalau ini dikembangkan maka kita akan jadi provinsi maju," katanya.

Sementara Wakapolda Joni Asadoma pada kesempatan ini mengenang kembali (nostalgia) ketika tahun 1970-an mendatangi desa ini. Ketika itu sebagai anak sekolah minggu dari Gereja Kefas Kupang melakukan perkunjungan.

Dirinya yang diminta panitia untuk berbicara soal
Tantangan gereja menghadapi radakalisme banyak memberi pesan pada warga. Menurutnya, radikalisme saat ini dibungkus dalam isu SARA.

"Radikalisme bisa menggoncang kehidupan beragama dan masuk melalui beragam kalangan. Tugas kita adalah menangkal isu yang menyesatkan baik pola pikir dan bertindak," kata Asadoma.

Dikatakannya, orang yang melakukan radikalisme itu merupakan penganut ekstrim yang kerjanya untuk mengancam keutuhan NKRI. Radikalisme ini cikal bakal terorisme. Sikap intoleran menolak keberagaman. Ingin gantikan tata sosial pemerintahan yang radikal dengan pola pikir sendiri yang lebih baik.

"Saya harapkan kepada warga untuk jangan cepat percaya pada berita di media sosial. Jika ada yang posting informasi yang sifatnya memprovokasi jangan dilayani, hapus saja postingan. Kalau kita ladeni maka akan jadi panjang. Apabila dirasakan menjurus ke perpecahan antar umat maka segera laporkan ke aparat keamanan," kata Wakapolda.

Untuk diketahui, sidang Klasis Sulamu ke 2 Jemaat Betesda Oeteta berlangsung tanggal 6-8 Agustus.
Pada kesempatan ini gubernur mencanangkan soal upaya memerangi hoax.

Dalam seruan moral di Jemaat ini ditulis, "Mari katong bagandeng tangan bangun Sulamu sebagai rumah bersama supaya bikin hidup lebih baik : No hoax, no radikal, cinta kasih dan NKRI Harga mati. Mari katong rawat Sulamu sebagai rumah kelor dan garam". (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Edi Hayong)

Penulis: Edy Hayong
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved