Berita Tamu Kita

Linus Lusi, S.Pd, M.Pd: Kelola Perbatasan Dengan Hati

Baginya, mengelola perbatasan harus dengan hati dan memahami kultur budaya dan anatomi konflik yang berkembang di masyarakat.

Dokumentasi keluarga
Linus Lusi 

Sebenarnya, apa saja tupoksi dari BNPP?

Mengurus perbatasan sifatnya koordinasi, sehingga siapapun ASN yang diberikan tugas dan tanggung jawab harus menjalankan sesuai dengan Tupoksi.
Ada dua masalah prinsip yang harus dilaksanakan BNPP Provinsi NTT. Pertama, memfasilitasi penyelesaian sengketa batas antar negara RI dan Timor Leste.
Penyelesaian ini ada dua segmen yang sangat menyita energi, tidak hanya pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Dalam Negeri, tetapi melibatkan diplomasi dua negara oleh Kementerian Luar Negeri.
Dan, Pemerintah Provinsi NTT diberi tugas tambahan memfasilitasi tokoh adat yang berdomisili di daerah timor seperti di Oepoli, Oekusi (daerah Naktuka). Di situ ada sebuah wilayah darat yang menurut Indonesia adalah milik masyarakat Oepoli.

Sapi Impor Dipakai Tukang Bubur Lamar Calon Istri, pakai Sepeda Motor dan Emas, Ini Nazar Ayah

Bagaimana perkembangan penyelesaian tapal batas Indonesia dan Timor Leste di Oepoli?

Beberapa waktu lalu ada pertemuan tokoh adat dengan pemerintah. Tugas kami adalah memfasilitasi pertemuan untuk membicarakan mengenai daerah tersebut.
Lebih dari tiga kali, pertemuan dan yang terakhir pada tanggal 14 November 2018 di Oepoli yang melibatkan para usif daratan timor dan Raja Oekusi, da Costa.
Di sini melahirkan beberapa kesepakatan, tidak hanya tua adat tetapi pemerintah kedua negara.
Ada lima kesepakatan, salah satunya adalah daerah Naktuka dijadikan tempat olahan bersama yang melibatkan dua komunitas masyarakat.
Secara silsilah adalah milik masyarakat Oepoli yang masih ada pertalian dan ikatan genelogis dengan masyarakat Oekusi Timor Leste.

Linus Lusi bersama istri dan anak
Linus Lusi bersama istri dan anak (Dokumentasi keluarga)

Seperti yang Anda sampaikan, mengurus perbatasan tidak mudah. Harus mampu berdiplomasi dan mengetahui sejarah dan budaya serta kearifan lokal. Bagaimana pendapat Anda?

Mengurus perbatasan harus dengan hati, memahami kultur budaya dan anatomi konflik yang berkembang di masyarakat. Karena di dalam masyarakat ada faksi-faksi yang tidak terlihat, dan tak terdengar tetapi nyata dan ada. Karena di sana ada kepentingan yang berbeda-beda.
Tugas kami bagaimana menyatukan faksi-faksi dalam tanda petik sehingga memiliki pemahaman yang sama, bersatu padu dengan pemerintah Indonesia sehingga bisa menghadapi diplomasi dengan pemerintah Timor Leste.
Dan, di situ membutuhkan kehati-hatian dan ketelitian dengan mempelajari berbagai dokumen dan kearifan lokal yang bertumbuh dan berkembang di segmen-segmen itu.
Ini membutuhkan energi dan waktu yang luar biasa, dan saya harus mempelajari kultur budaya timor, sebuah pertarungan tanpa berdarah-darah dalam arti permisif, tetapi bagaimana bermain diplomatis secara kultural. Dan, selama ini bisa dibangun secara baik.

Vivo Z1 Pro Smartphone Agustus Terbaru Sasar Game Mobile Baterai Awet Render Cepat, Cek Harga

Apakah background guru sangat membantu Anda dalam menyelesaikan konflik perbatasan?
Memang sangat membantu karena basic saya dari Ilmu Pendidikan Sejarah, dan apa yang dipelajari ternyata nyantol dengan pekerjaan saat ini. Karena, Timor Leste dan daerah Naktuka dan sebagainya menggunakan trakat 1904, kami gali pembanding.
Kalau menggunakan trakat 1904 melemahkan posisi Indonesia, karena yang digunakan adalah hukum internasional dimana daerah perang antara Portugis dan Belanda. Tetapi, keuntungan kita adalah dukungan sosial budaya dan aktivitas penduduk, bisa mencuri perhatian dan menjadi sebuah pertimbangan untuk memenangkan sengketa dan penyelesiannya bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Selama ini yang terlihat daerah perbatasan hanya di perbatasan Timor. Bagaimana dengan di luar daratan Timor, dan dimana saja?
Fokus BNPP Provinsi NTT selama ini menjadi polemik adalah batas darat. Tetapi laut juga harus menjadi perhatian pemerintah pusat dan provinsi.
Terutama nelayan seperti di Alor, dimana jarak antara perairan Alor dan Timor Leste sampai sekarang belum tertata secara bagus. Saat mencari ikan, para nelayan tidak mengetahui secara persis Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) antara kedua negara. Sehingga nelayan tanpa sadar mencari ikan masuk pada perairan Timor Leste, lalu ditangkap dan sebagainya.
Kejadian bulan Februari lalu, nelayan kita ditangkap dan kami berkomunikasi melalui Kementerian Luar Negeri.  Pemerintah provinsi bersurat sehingga para nelayan dilepas kembali.

Kang Daniel dan Jihyo TWICE Dikabarkan Pacaran Sejak Awal Tahun Dispatch Beberkan Foto-fotonya

Anda masih muda sudah menjadi kadis. Ini menjadi omongan di luar. Bagaimana Anda menghadapi hal ini?
Bagi saya usia sesuatu yang relatif, tetapi jam terbang sangat membentuk kematangan dan kompetensi seseorang, serta kinerja yang perlu ditorehkan. Kinerja ini sangat didukung oleh tim kerja dan pola kepemimpinan yang diterapkan. Hasil tidak pernah mengingkari proses serta kinerja yang ditunjukkan.
Apa yang diperoleh merupakan kepercayaan dari Gubernur, Wakil Gubernur dan Sekda serta doa orang-orang yang dikasihi.
Saya tidak mengingkari usia, tetapi keputusan ada di Gubernur NTT dan Wakil Gubenur, tim pansel, dan tidak melihat tua dan muda tetapi komponen-komponen yang mendukung.
Saya menjadi kadis mungkin melalui pertimbangan disamping seleksi dan lain sebagainya seperti kinerja. Sehingga dalam penilaian gubernur, saya memiliki peluang tersebut untuk menata kawasan perbatasan.

Waktu masih menjadi guru, Anda juga rajin menulis baik di media masa maupun menulis buku. Bagaimana dengan saat ini?
Menulis adalah bagian dari kehidupan saya, hobi akan tetap dijalankan.

Halaman
123
Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved