Sumba Timur Kembali Ekspor Rumput Laut 82,5 Ton ke China

Kabupaten Sumba Timur di Propinsi NTT melalui Perusahaan Daerah PT. Algae Sumba Timur Lestari kembali melakukan expor rumput laut

Sumba Timur Kembali Ekspor Rumput Laut 82,5 Ton ke China
POS-KUPANG.COM/Robert Ropo
Kabupaten Sumba Timur di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Perusahaan Daerah PT. Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) kembali melakukan expor rumput laut 

Sumba Timur Kembali Ekspor Rumput Laut 82,5 Ton ke China

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM | WAINGAPU- Kabupaten Sumba Timur di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Perusahaan Daerah PT. Algae Sumba Timur Lestari (ASTIL) kembali  melakukan expor rumput laut dalam bentuk Algae Treated Cottoni Chips (ATCC) pada tanggal 02 Agustus 2019 sejumlah 82,5 ton ke perusahaan China Zhe Jiang Top Hydrocolloids Co.Ltd.Ini merupakan export yang keempat kalinya ke china.

Demikian disampaikan oleh bupati Sumba Timur Drs.Gidion mbilijora,M.Si saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (2/8/2019) siang.

Bupati Gidion didampingi Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sumba Timur Yohanis Njurumana,S.Pi,M.A.P, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Kecil Pumbudidayaan Ikan DKP Sumba Timur Kandubu Lowang,S.Pi, serta Manager Produksi PT.ASTIL Clara Rosalia R.Mone,ST,M.Sc menjelaskan, eksport tersebut melalui pelabuhan tanjung perak Surabaya.

"Seharuasnya export dapat dilalukan melalui pelabuhan Kupang, namun ada beberapa masalah yaitu bahwa transportasi laut dalam bentuk kontainer dari Waingapu ke Kupang tidak ada. Masalah lain pula dimana pengiriman dengan penggunaan kontainer dari Waingapu ke Surabaya menimbulkan pembiayaan tambahan yang cukup besar karena kontainer Waingapu-Surabaya hanya berkapasitas maximal 20 ton, sehingga dari Surabaya ke China harus dipindahkan ke kontainer expor yang berkapasitas 40 ton. Dengan demikian diharapkan kedepannya bisa tersedia pengangkutan dari Waingapu-Kupang dalam bentuk kontainer,"jelas bupati Gidion.

Bupati Don Minta Dinas PPO Anggarkan Dana untuk Perbaiki Fasilitas Lapangan Futsal Berdikari Danga

Bupati Gidion juga mengatakan, export berikutnya akan dilakukan pada akhir bulan Agustus ini sejumlah 75 ton.

"Diharapkan bapak Gubernur Nusa Tenggara Timur dapat menghadiri kegiatan export tersebut. Tahun 2019 melalui pemerintah Provinsi meluncurkan bantuan bibit rumput laut sejumlah 32 ton dan sarana produksinya berupa tali dengan jumlah sasaran 800 orang pembudidaya,"kata Gidion.

"Diharapkan kabutuhan raw material  PT. ASTIL dapat terpenuhi sesuai kapasitas terpasang 10 ton/hari rumput laut kering untuk diolah menjadi chips,"tambah bupati Gidion.

Bupati Gidion juga menjelaskan, di Sumba Timur peluang berusaha untuk budidaya rumput laut masih sangat terbuka karena pemanfaatn lahan baru mencapai 3,16 % atau 476,46 ha dari potensi 15.069,4 ha. Masyarakat yang melakukan usaha rumput laut berjumlah 4.389 rumah tangga perikanan dengan jumlah tenaga kerja 8.778 jiwa yang tergabung dalam 214 kelompok pembudidaya dengan produksi  berjumlah 30.054,49 ton pada tahun 2018.

Pertumbuhan Produksi Industri Provinsi NTT Meningkat, Ini Faktor Pemicunya!

Kadis Kelautan dan Perikanan Sumba Timur Markus K. Windi melalui sekretaris DKP sumba Timur Yohanis Njurumana,S.Pi,M.A.P menambahkan, untuk pengembangan PT. ASTIL,  kedepannya pemerintah daerah Kabupaten Sumba Timur telah menyediakan lahan 10 Ha, untuk pembangunan pabrik dengan produk semi refine carageenan (SRC) di lokasi Desa Lambakara, Kecamatan Pahunga Lodu Kabupaten Sumba Timur.

Di lokasi tersebut, jelas Yohanis, telah terbangun pagar keliling, gudang dan lantai jemur melalui program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) tahun 2017.

Lanjut Yohanis, rumput laut merupakan komoditi unggulan daerah Kabupaten Sumba Timur, sehingga pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten bersinergi untuk melakukan percepatan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan khususnya pengambangan rumput laut.

Waduh Wanita Ini Harus Ganti Rugi Rp 408 Juta Bila Kawin dengan Pria Lain, Simak Ceritanya!

Manager produksi PT. ASTIL, Clara R. R. Mone juga menambahkan, masalah utama dalam pengiriman barang adalah pada transportasi laut, dimana untuk eksport harus melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan juga tidak tersedia kontainer berkapasitas 40 ton untuk pengiriman Waingapu-Surabaya. (*)

Penulis: Robert Ropo
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved