VIDEO: Buka Muro, Tradisi Tangkap Ikan di Desa Dikesare Lembata

VIDEO: Buka Muro, Tradisi Tangkap Ikan di Desa Dikesare, Kabupaten Lembata. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang.

VIDEO: Buka Muro, Tradisi Tangkap Ikan di Desa Dikesare Lembata

POS-KUPANG.COM-LEWOLEBA – VIDEO: Buka Muro, Tradisi Tangkap Ikan di Desa Dikesare Lembata

Masyarakat Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, mulai dari anak-anak, remaja maupun anak-anak, berbondong-bondong menuju pantai Lewolein. Mereka sangat antusias mengikuti tradisi buka muro atau buka tanda larangan sebagai tanda dimulainya acara tangkap ikan beramai-ramai di Pantai Lewolein.

Peristiwa itu terjadi, Senin (29/7/2019). Meski jarum jam baru menunjukkan pukul 13.30 Wita, tapi masyarakat sudah bersiap-siap membuka tanda larangan yang dalam bahasa setempat disebut muro.

VIDEO: Lembata Jadi Kabupaten Layak Anak. Ini Pesan Bupati Lembata

VIDEO: Ibu-ibu PKK Pamerkan Kue di Kambera, Sumba Timur

VIDEO: Kabupaten Ende Terapkan Kawasan Tanpa Rokok

Saat persiapan itu, anak-anak menganyat daun kelapa yang nantinya akan digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan ikan hasil tangkapan.

Penangkapan ikan itu pun ada syaratnya. Masyarakat dilarang menggunakan senjata tajam untuk itu. Sebagai pengganti, orang tua mengikat daun kelapa sebagai alat penahan atau sarung yang digunakan oleh perempuan untuk menangkap ikan.

Agar memudahkan masyarakat mendapatkan ikan, beberapa nelayan terlebih dahulu menebar pukat setengah lingkaran untuk menjaga agar ikat tidak keluar dari daerah tangkapan (muro).

Ikan yang ditangkap kemudian akan dibagi dua; yakni kepada desa dan kepada pemilik pukat.

Tepat pukul 14.00 Wita sesuai jadwal yang disepakati untuk menangkap ikan, masyarakat secara serentak berlomba-lomba berusaha menjadi yang pertama untuk sampai di daerah penangkapan ikan.

Yang menarik dari acara ini, adalah penangkapan ikan dilakukan hanya dengan menggunakan tangan dan yang lain menggunakan kain sarung yang berfungsi sebagai jala.

“Tradisi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman zaman nenek moyang. Setelah muro dibuka, kami akan mengundang seluruh masyarakat bahkan dari luar Desa Dikesare untuk hadir dan bersama-sama menangkap ikan itu,” ujar Kepala Desa Dikesare,  Eustakius Suban (56).

VIDEO: Inilah Keramik Batu Warna Kolbano, TTS

VIDEO: Satpol PP Bongkar Lapak Pedagang Kelapa. Lihat Aksi Mereka

VIDEO: Pengukuran Tanah di Fatutuli, Nyaris Ricuh

Eustakius menjelaskan, untuk membuka Muro melalui beberapa tahapan.  “Karena ini merupakan tradisi masyarakat adat desa Dikesare, maka terlebih dahulu dilakukan pembicaraan internal antara pemerintah desa, parah toko adat dan tokoh masyarakat yang dilakukan di awal tahun, jika terjadi kesepakatan bahwa pada tahun tersebut muro dibuka, maka akan dilakukan seremonial adat oleh tuan tanah untuk membuka muro tersebut. Sejak Januari 2019, muro sudah dibuka sebanyak 4 kali."

Muro di Desa Dikesare merupakan satu dari muro lainnya di lima desa yang menjadi lokasi konservasi berbasis masyarakat adat. Masyarakat adat itu  yang idampingi Kelompok BARAKAT melalui program kemitraan Wallacea bersama CEPF-USA sebagai donor dan RIT-Burung Indonesia.

Untuk diketahui, Muro di Desa Dikesare, telah diakui dalam SK Gubernur NTT Nomor192/KEP/HK/2019 tentang pencadangan kawasan konservasi perairan daerah di Kabupaten Lembata. (POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Nonton Videonya Di Sini:

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Frans Krowin
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved