Isu Difabel Jadi Perhatian Lembaga Strategis di Desa Tengku Lese, Manggarai
Disabilitas menjadi salah satu isu prioritas dari program pembangunan perdesaan dari Yayasan Ayo Indonesia
Penulis: Aris Ninu | Editor: Adiana Ahmad
"Keputusan kami untuk memasukan kedua kegiatan tersebut untuk para penyandang disabilitas ke dalam kebijakan anggaran desa sangat beralasan sebab jumlah penyandang difabel di Tengku Lese cukup banyak dan Permendagri No 20 Tahun 2019 dan Permen Desa PTT No 16 Tahun 2018 memungkinkan hal itu.
Bantuan karitatif yang diberikan berupa telur, sayur-sayuran bergizi dan daging. Makanan bergizi diberikan kepada anak-anak yang mengalami pertumbuhan lambat. Ke depan anggaran dana desa untuk isu disabilitas akan ditingkatan dan peruntukkannya adalah untuk menyediakan peralatan kerja bagi penyandang disabiltas yang sudah dewasa, mereka yang masih di bawah usia 5 tahun tetap diberikan makanan bergizi sedangkan keluarganya akan dilatih tentang usaha produktifseperti memelihara ternak dan sayur-sayuran organik,” jelas Ebot.
Memik Amilda, staf lapangan Program Disabilitas di Desa Tengku Lese mengungkapkan. di lapangan selama ini adalah mengunjungi keluarga difabel, memberi pemahaman kepada orang tua dari Penyandangan Disabilitas tentang cara menangani anak anak difabel, melatih orang tua cara terapi anak-anak difabel agar perkembangan motoriknya baik dan mendorong orang tua mereka untuk mengembangkan usaha sayur-sayuran untuk tujuan gizi dan penigkatan pendapatan.
“Masalah kekurangan pendapatan sangat berpengaruh terhadap perhatian orang tua terhadap anak difabel khususnya untuk terapi motorik dan sensoriksebagai contoh seperti dialami oleh Febrianus Mahu, anak berumur 1 tahun 4 bulan, penyandang difabel akibat kekurangan gizi. Kedua orangtuanya petani dengan pendapatan kecil dan sering bapaknya mencari uang di luar kampung dalam waktu yang cukup lama karena kekurangan uang sehingga Febri selama waktu tersebut diurus oleh mamanya yang juga mengurus kebun dan menjadi buruh harian agar bisa membeli beras dan kebutuhan lain,”cerita Memik yang dikenal sangat dekat dengan keluarga-keluarga difabel di Tengku Lese.
Situasi ini yang menjadi hambatan bagi orang tua untuk secara rutin melakukan terapi.
Lodifitus Mahu, 45 tahun Ayah dari Febri membenarkan apa yang disampaikan Ibu Memik dia mengakui bahwa mencari uang di Desa Tengke Lese sangatlah sulit maka dia memutuskan untuk menjadi buruh bangunan di kota atau di luar kampung agar bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Lahan kami kurang subur dan tidak menjanjikan untuk usaha pertanian,” ungkap Ayah dari 5 orang anak ini.
Pengalaman sama dialami juga oleh Klarisa Endo, bayi 3 tahun, penderita kerusakan otak akibat Kejang (Cerebral Palsi) anak dari Hubertus Banggut dan Ibu Lusia Endo. Sejaknya mamanya meninggal 1 tahun lalu, anak ini dijaga oleh Nenek Maria, 67 tahun.
Sedangkan bapaknya sering meninggalkan rumah untuk mencari nafkah di kota.
Seperti keluarga yang lain umumnya di Kampung Bobong, keluarga ini juga memelihara babi sebagai sumber penghidupan.
Konsekuensinya adalah waktu mengurus pakan babi menyita banyak waktu dari Nenek Maria sehingga waktu terapi motorik dan sensorik terhadap Klarisa terganggu dan tidak rutin lagi sehingga otot leher dan badannya kemungkinan akan kaku karena jarang digerekkan.
Terhadap situasi ini, Alfons Odo, Wakil Ketua BPD Desa Tengku Lese, dikenal juga sebagai Tokoh Masyarakat yang ikut dalam kegiatan kunjungan tersebut berpendapat sebaiknya keluarga para penyandang difabel diberi pelatihan keterampilan pertanian dan cara beternak ayam kampung dan menjadi anggota koperasi kredit.
Untuk itu dia berjanji akan memperjuangkan hal ini pada pertemuan musyawarah pembangunan tingkat kecamatan yang akan dilaksanakan bulan September 2019 agar dana desa bisa dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi dari orang tua difabel.
Dengan program demikian mereka tidak perlu lagi mencari uang di tempat yang jauh
.
Saat yang sama Yayasan Ayo Indonesia melalui Yohanes Nerdi, A.Md, Koordinator Program menegaskan,lembaganya akan terus memperjuangkan isu disablitas menjadi konten dari kebijakan anggaran pembangunan baik di pemerintah desa, paroki (program diakonia) maupun di pemerintah kabupaten.
Selain itu, pihaknya juga mendorong ibu-ibu hamil dan menyusui agar rajin ke posyandu dan mengkonsumsi sayur-sayuran bergizi.(*)