Berita Tamu Kita

Alexander Leda, ST, MT : Berani Keluar dari Zona Nyaman

Ia tetap memiliki kerinduan untuk suatu saat kembali ke NTT. Sebagi anak NTT harus keluar dari zona nyaman.

Dokumentasi keluarga
Alexander Leda, ST, MT (1) 

Pekerjaan menuntut Anda harus meninggalkan keluarga di Kupang. Bagaimana membagi waktu dengan keluarga?
Saat bertugas di Surabaya, seminggu sekali balik ke Kupang karena dekat. Saat bertugas di Jakarta, menjadi dua minggu sekali. Nah, saat ini bertugas di Provinsi Papua Barat, memang jaraknya jauh, sehingga sebulan belum tentu balik. Bisa sebulan sekali, bisa tidak sama sekali, bisa juga dua bulan sekali baru kembali ke Kupang. Biasanya, istri ikut ke sana, tetapi juga terkadang istri menemani anak-anak di Kupang.
Kami sekeluarga memanfaatkan teknologi informasi saat ini, sehingga selalu berkomunikasi melalui media sosial (medsos) atau telepon.
Saya bersyukur anak-anak sudah mulai mandiri dan sangat mendukung dan memahami pekerjaan saya.

Pembangunan Terminal Barang Internasional di NTT Telan Rp 37 M

Setelah berkeliling ke beberapa wilayah di Indonesia, bagaimana pendapat Anda terkait kondisi NTT yang kesulitan air bersih dan kebutuhan pertanian?
Kalau di NTT dengan curah hujan yang pendek, cuma tiga bulan, sisanya kemarau paling tepat membangun bendungan. Dan, kita mengapresiasi Presiden Joko Widodo yang sudah memperhatikan NTT dengan membangun bendungan-bendungan, seperti Raknamo, Rotikloat, dan beberapa lainya. Sebelumnya sudah ada Bendungan Tilong. Dulu, dengan dana yang sedikit, pemerintah hanya bisa membangun tampungan-tampungan air yang kecil, yang sifatnya kecil, seperti embung dan waduk yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian.
Program pemerintah saat ini menjadi lebih terasa, dengan membangun bendungan untuk menampung air dalam jumlah besar. Karena, jika ketahanan air tersedia, berarti kemudahan pangan bisa diwujudkan. Tanah dan air itu sangat erat hubungannya. Apalagi, saat ini perhatian pemerintah pusat, lebih banyak ke wilayah Timur.
Kesulitan di NTT sumber airnya terbatas, di desa-desa ambil airnya dari sungai lalu di pikul kampung di bukit. Sementara sungai yang ada potensi untuk air permukaan bisa di kelola juga sedikit. Sama seperti pangan bisa penuhi, mungkin 50 persen sampai 60 persen, sisanya import. Beruntung masyarakat NTT selama ini sudah mandiri. Melalui sumber daya air, sungai menjadi primadona, dan untuk masyarakat terpencil adalah sumur bor. Sumur bor dengan tenaga penggeraknya listrik tenaga surya, juga ramah lingkungan dan murah. Cocok bagi sebagaian masyarakat Pulau Timor. Sedangkan, di Sumba dan Flores, primadonanya adalah sumur bor.

Alexander Leda, ST, MT, bersama istri (1)
Alexander Leda, ST, MT, bersama istri (1) (Dokumentasi keluarga)

Di NTT dan Kota Kupang khususnya banyak terjadi abrasi pantai dan sungai dan pembangunan pengaman pantai belum seberapa? Apa pendapat Anda?
Pantai di NTT memang panjang-panjang bahkan terlalu panjang, dan pantai-pantai kritis. Dananya memang tidak sebanding dengan pantai kritis lainnya. Untuk pembangunan infrastuktur sumber daya air, bangunan pantai di NTT masih merupakan bangunan yang mahal. Lebih mahal, kalau kita membangun jaringan irigasi, atau membangun embung-embung. Karena memang biaya konstruksinya sangat mahal. Jadi, karena mahal, uanganya terbatas, jadi bangunnya tertahan. Sebenarnya, pengaman pantai itu memang harus satu garis pantai, satu kali jadi. Kalau tidak nanti dia akan rusak lagi.
Mestinya, konstruksi sipil itu sebenarnya alternatif terakhir. Dulu orang menggunakan tanaman mangrove dan bakau supaya menahan abrasi pantai. Makin lama, memang makin banyak kerusakan pantai. Ini juga karena dampak daripada pemanasan global. Air laut makin tinggi. (*)

Ramalan Zodiak Cinta Besok Selasa 9 Juli 2019 Aries Malu-malu Mau Cancer Capai Klimaks Zodiak Lain?

Anak NTT Harus Berani

BERKARYA dan memberikan pelayanan di tanah orang memang sedikit pilihan dari sekian banyak orang NTT.

Dan, itulah yang dilakukan Alexander Leda. Suami dari Santi Sima Gama Leda ini berani menerobos keluar dan membuktikan bahwa anak NTT mampu berkarya di daerah lain.

Kepada Pos Kupang di kediamanya, Selasa (25/6/2019), ayah lima anak ini, mengatakan sebenarnya anak NTT dilihat dari kemampuan tidak beda jauh dengan teman-teman lain di luar NTT.

Hanya belum memiliki kesempatan saja dan keberanian untuk keluar dari wilayahnya sendiri.

"Dulu kalau saya tidak berkeinginan untuk pindah ke Surabaya dan ke Jakarta, mungkin saya tidak bisa berkembang. Karena, memang harus mempunyai keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Saya dulu tidak tahu Surabaya kayak apa, ternyata susu dan madu ada di mana-mana. Tidak harus di NTT, di Surabaya juga baik, di Jakarta juga, hanya memang beda kondisi lingkungan," ujar alumni magister dari ITB ini.

Masyarakat Kembali Diajak Nikmati Jamuan Malabar dari Aston Hotel Kupang

Baginya, saat ini di Provinsi Papua Barat, potensinya luar biasa. Banyak potensi yang bisa digarap, tetapi orangnya sedikit.

Halaman
123
Penulis: Apolonia M Dhiu
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved