Berita Tamu Kita

Alexander Leda, ST, MT : Berani Keluar dari Zona Nyaman

Ia tetap memiliki kerinduan untuk suatu saat kembali ke NTT. Sebagi anak NTT harus keluar dari zona nyaman.

Penulis: Apolonia M Dhiu | Editor: Apolonia Matilde
Dokumentasi keluarga
Alexander Leda, ST, MT (1) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Apolonia Matilde Dhiu

POS-KUPANG.COM, KUPANG- BERCITA-CITA sejak kecil menjadi seorang insinyiur (Ir) dan akhirnya terwujud. Dia ingin berkarya di bidang teknik sipil, dan berhasil menyelesaikan pendidikanya di Fakultas Teknik Sipil, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan melanjutkan pendidikan master (S2) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah memulai karier di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi NTT, dan melangkah ke tingkat nasional, saat ini dipercayakan menjadi Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Papua Barat. Perjalanan karier yang panjang namun menyenangkan.

Dan, pengalamanya di bidang irigasi memang tidak diragukan lagi. Alexander Leda, ST, MT, begitu nama lengkapnya.

Delapan Kapal Barang Masuk ke Pelabuhan Wini Setiap Bulan, Simak Penjelasannya

Sebagai abdi negara di tanah orang memang tidak mudah baginya, tetapi tetap memiliki kerinduan untuk suatu saat kembali ke NTT. Baginya, anak NTT harus berani keluar dari zona aman.

Bagaimana dan apa saja pandangan-pandangan dan pendapatnya terkait kondisi NTT yang selalu kekurangan ketersediaan air di musim panas?

Ikuti wawancara Wartawati Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu, dengan Alexander Leda, ST, MT, di kediamanya, Jalan Taebenu, Kelurahan Liliba Kupang, Selasa (25/6/2019).

Bisa dikisahkan perjalanan karier Anda sehingga bisa dipercayakan Kementrian PU menjadi Kepala BWS di Papua Barat?
Yah, terima kasih. Dulu, saya diangkat menjadi ASN di Dinas PU Provinsi NTT. Pertama kali saya ditugaskan ke Irigasi Flores (Ruteng) dan menjadi staf teknik di sana tahun 1999.
Setahun di Ruteng, kemudian pindah tugas ke Ende, menjadi Pimpinan Bagian Proyek Irigasi Flores Wilayah Tengah, meliputi Kabupaten Ende, Nagekeo dan Sikka sampai tahun 2003. Tahun 2003, saya melanjutkan pendidikan S2 (Magister) Teknik Sipil dan Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Institut Teknologi Bandung (ITB) sampai tahun 2005.

Alexander Leda, ST, MT, bersama istri dan anak-anaknya (1)
Alexander Leda, ST, MT, bersama istri dan anak-anaknya (1) (Dokumentasi keluaga)

Setelah menyelesaikan studi, apakah Anda balik ke Dinas PU Provinsi NTT atau langsung berkaier di Pulau Jawa?
Saya kembali ke NTT dan ditugaskan di Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II, yang melipitu Bali, NTB dan NTT sampai tahun 2015. Tahun 2016, saya berkarier di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Berantas, Provinsi Jawa Timur, sebagai Kepala Bidang Pemeliharaan dan Operasi. Di BBWS Berantas hanya setahun, dan pindah ke Jakarta sebagai Kabid Wilayah Barat Pusat Air Tanah Baku, Dirjen SDA, Kementrian PUPR tahun 2017-2019.
Di Dirjen SDA, tugas saya adalah menyediakan air minum ke seluruh Indonesia, khususnya di wilayah barat, yakni Pulau Jawa dan Sumatera.
Dan, bulan Maret 2019, saya dilantik menjadi Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Papua Barat yang berpusat di Manokwari.

Bisa Anda jelaskan tugas-tugas di BWS seperti apa?
Jadi, kalau Balai Wilayah Sungai (BWS) adalah Unit Pelayanan Tekniks (UPT) Kementerian Pekerjaan Umum PU). Biasanya ada di setiap provinsi. Karena Papua, wilayahnya besar, sehingga walaupun hanya dua provinsi tetapi di sana ada tiga BWS.
Fungsi secara umum adalah membangun infrastruktur Sumber Daya Air (SDA), dananya dari APBN, untuk membangun bendungan atau waduk, embung-embung, pengamanan pantai, pengaman sungai, dan pembangunan daerah irigasi.
Ya, itu secara garis besar, yang dikenal oleh masyarakat.

Jokowi Dalam Rencana Panen Perdana  Garam di Nunkurus, Kabupaten Kupang-NTT

Apakah ada kesulitan ketika menjadi pemimpin di wilayah Papua Barat?
Wilayah Papua Barat memang beda karakteristiknya dari NTT. Kalau di NTT, airnya sedikit karena curah hujan yang minim, sehingga tugas kita fokus menyiapkan dan mengelola air. Yah, di NTT airnya sedikit dan orangnya sedikit juga, tetapi airnya tetap tidak cukup.
Kesulitanya, kalau di Papua Barat, potensinya airnya sangat besar, tetapi orangnya sedikit. Belum lagi, permukiman warga yang jauh dan berkelompok-kelompok. Jadi, memang saya memiliki tantangan sendiri. Yang orang bilang," Ini air banyak tetapi tidak sampe-sampe ke rumah penduduk atau permukiman karena letaknya berjauhan.
Yang lebih spesifik dari Provinsi Papua Barat adalah bidang pertanian yang berkaitan dengan pengembangan irigasi. Di Papua Barat, yang berkembang daerah pertanian irigasi berada di daerah-daerah transmigrasi.
Sementara, masyarakat asli memang lebih mengandalkan makanan lokal seperti sagu. Budaya pertanian masyarakat asli Papua Barat belum berkembang. Padahal, sumber daya alamnya luar biasa.
Tantangan lainnya ketika saya berada di Jawa Timur, karena masyarakatnya banyak, kebutuhan airnya juga banyak, sehingga airnya tetap tidak cukup juga.

Pekerjaan menuntut Anda harus meninggalkan keluarga di Kupang. Bagaimana membagi waktu dengan keluarga?
Saat bertugas di Surabaya, seminggu sekali balik ke Kupang karena dekat. Saat bertugas di Jakarta, menjadi dua minggu sekali. Nah, saat ini bertugas di Provinsi Papua Barat, memang jaraknya jauh, sehingga sebulan belum tentu balik. Bisa sebulan sekali, bisa tidak sama sekali, bisa juga dua bulan sekali baru kembali ke Kupang. Biasanya, istri ikut ke sana, tetapi juga terkadang istri menemani anak-anak di Kupang.
Kami sekeluarga memanfaatkan teknologi informasi saat ini, sehingga selalu berkomunikasi melalui media sosial (medsos) atau telepon.
Saya bersyukur anak-anak sudah mulai mandiri dan sangat mendukung dan memahami pekerjaan saya.

Pembangunan Terminal Barang Internasional di NTT Telan Rp 37 M

Setelah berkeliling ke beberapa wilayah di Indonesia, bagaimana pendapat Anda terkait kondisi NTT yang kesulitan air bersih dan kebutuhan pertanian?
Kalau di NTT dengan curah hujan yang pendek, cuma tiga bulan, sisanya kemarau paling tepat membangun bendungan. Dan, kita mengapresiasi Presiden Joko Widodo yang sudah memperhatikan NTT dengan membangun bendungan-bendungan, seperti Raknamo, Rotikloat, dan beberapa lainya. Sebelumnya sudah ada Bendungan Tilong. Dulu, dengan dana yang sedikit, pemerintah hanya bisa membangun tampungan-tampungan air yang kecil, yang sifatnya kecil, seperti embung dan waduk yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian.
Program pemerintah saat ini menjadi lebih terasa, dengan membangun bendungan untuk menampung air dalam jumlah besar. Karena, jika ketahanan air tersedia, berarti kemudahan pangan bisa diwujudkan. Tanah dan air itu sangat erat hubungannya. Apalagi, saat ini perhatian pemerintah pusat, lebih banyak ke wilayah Timur.
Kesulitan di NTT sumber airnya terbatas, di desa-desa ambil airnya dari sungai lalu di pikul kampung di bukit. Sementara sungai yang ada potensi untuk air permukaan bisa di kelola juga sedikit. Sama seperti pangan bisa penuhi, mungkin 50 persen sampai 60 persen, sisanya import. Beruntung masyarakat NTT selama ini sudah mandiri. Melalui sumber daya air, sungai menjadi primadona, dan untuk masyarakat terpencil adalah sumur bor. Sumur bor dengan tenaga penggeraknya listrik tenaga surya, juga ramah lingkungan dan murah. Cocok bagi sebagaian masyarakat Pulau Timor. Sedangkan, di Sumba dan Flores, primadonanya adalah sumur bor.

Alexander Leda, ST, MT, bersama istri (1)
Alexander Leda, ST, MT, bersama istri (1) (Dokumentasi keluarga)

Di NTT dan Kota Kupang khususnya banyak terjadi abrasi pantai dan sungai dan pembangunan pengaman pantai belum seberapa? Apa pendapat Anda?
Pantai di NTT memang panjang-panjang bahkan terlalu panjang, dan pantai-pantai kritis. Dananya memang tidak sebanding dengan pantai kritis lainnya. Untuk pembangunan infrastuktur sumber daya air, bangunan pantai di NTT masih merupakan bangunan yang mahal. Lebih mahal, kalau kita membangun jaringan irigasi, atau membangun embung-embung. Karena memang biaya konstruksinya sangat mahal. Jadi, karena mahal, uanganya terbatas, jadi bangunnya tertahan. Sebenarnya, pengaman pantai itu memang harus satu garis pantai, satu kali jadi. Kalau tidak nanti dia akan rusak lagi.
Mestinya, konstruksi sipil itu sebenarnya alternatif terakhir. Dulu orang menggunakan tanaman mangrove dan bakau supaya menahan abrasi pantai. Makin lama, memang makin banyak kerusakan pantai. Ini juga karena dampak daripada pemanasan global. Air laut makin tinggi. (*)

Ramalan Zodiak Cinta Besok Selasa 9 Juli 2019 Aries Malu-malu Mau Cancer Capai Klimaks Zodiak Lain?

Anak NTT Harus Berani

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved