Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan 16 Mei 2019

Sifat alami tersebut diimplementasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain

Editor: Ferry Jahang
DOK PRIBADI
Pendeta Messakh Dethan 

Renungan Harian Kristen Protestan 16 Mei 2019
Oleh: Pdt DR Mesakh A P Dethan Mth

Jangan Serahkan Pembentukan Karakter pada Media Sosial dan Media Mainstream!"

Menurut Thomas Lickona (lihat Thomas Lickona, Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility, New York : Bantam Books, 1992, hlm. 22) "karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral.

Sifat alami tersebut diimplementasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, adil, menghormati orang lain, disiplin, dan karakter luhur lainnya".

Masalahnya karakter seseorang tidak berdiri sendiri dalam pembentuknnya.

Ada banyak faktor yang turut mempengaruhi: diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, lingkungan ibadah, idiologi partai, media sosial (whattsapp, Twitter, Facebook, Youtube, etc).

Jadi intinya bahwa karakter adalah sifat alami yang dimiliki setiap orang dalam kehidupannya, yang dibentuk sesuai lingkungan sekitar yang mempengaruhinya entah ia sadari atau tidak.

Bahaya terbesar dalam kehidupan orang beriman adalah menyerahkan pembentukan karakter diri bukan pada ajaran agama yang terkandung dalam Kitab Suci, tetapi pada faktor-faktor lingkungan sekitar yang menyesatkan,

misalnya pada idiologi tertentu (entah idiologi partai politik dan atau euforia politik untuk menjagokan dan mengkultuskan individu tertentu) atau pada media-media sosial yang menyesatkan.

Lebih parah lagi kalau sesorang menyerahkan pembentukan karakternya pada hoax yang disebarkan di media-media sosial (seperti WA, Facebook, Twitter, Facebook)

atau malah pada media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu yang sudah disuap dan dibayar.

Yang disebut terakhir ini (media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu) semacam ini walau menyampaikan kabar bohong, tetapi dipercaya publik
karena dianggap resmi dan kredibel.

Pada hal jika kita sedikit mau berpikir kritis media massa mainstream dan atau lembaga-lembaga tertentu juga mati hidupnya tergantung pada "bisnis" dan "advertising" (entah native advertising atau advertorial berbayar).

Hal ini sah saja dalam "bisnis media" sepanjang dilakukan secara jujur, terbuka dan dalam kontrol hati nurani.

Celakanya goreng menggoreng, plintir memelintir berita yang menjadi fenomena memprihatinkan dalam dunia industri media di Indonesia akhir-akhir ini turut membentuk karakter orang beriman

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved