Renungan Harian Kristen Protestan
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 9 Mei 2019
"Pada mulanya semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudah itulah yang menyebabkan segala masalah muncul satu demi satu"
Seumpama Kristus adalah mempelai laki-laki bagi Gereja dan Kepala Gereja, maka suami juga adalah mempelai laki-laki dan kepala bagi istrinya.
Kristus telah berkorban dan menebus Gereja dari kuasa kematian. Tindakan kasih dan pengorbanan Kristus itu menjadi cerminan bagi relasi suami dan istri.
Jika suami dipandang sebagai kepala, pengertian kepala dalam arti seorang kepala yang mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri.
Perlambangan ini berakar dalam Perjanjian Lama, yang kerap berkata tentang Israel sebagai isteri Yahwe, Hos 1:2; Yes 1:21-26; Yer 2:2; 3:1,6-12; 23; Yes 50:1; 54:6-7.
Mengapa Jemaat tunduk kepada Kristus, karena Kristus mengasihi Jemaatnya, ia menyelamatkan mereka dengan darahnya sebagai ketaatannya kepada kehendak Bapa Pencipta.
Semua tindakanNya Yesus dimengerti sebagai pemenuhan terhadap kehendak Tuhan (Mat. 3:15) yang senantiasa menjadi cerminan kehidupan jemaat dalam segala aspek, termasuk dalam relasi suami istri.
Dalam ketaatan pada Bapa Yesus telah menuntaskan karya keselamatan bagi Jemaatnya atau umatnya.
Pola inilah yang mendorong mengapa Istri tunduk kepada suami, karena suami mengasihi istrinya (Ef 5:25) dan suami berbuat kebaikan bagi istrinya.
Inilah makna sesungguhnya dari teks ini bahwa istri tunduk dalam hubungan dengan pengertian jemaat yang tunduk kepada Kristus, yang melandaskan seluruh karyanya pada kehendak Bapa di Sorga.
Dalam terang itu seluruh sikap etis seorang istri mendapatkan tempatnya yang tepat. Istri tunduk karena ada alasan yang sangat mendasar.
Karena istri telah mendapat kasih dan kebaikan dari suaminya, maka istri juga membalasnya dengan sejumlah kewajibannya kepada suami yang dikasihinya dengan berbuat kasih (Tit 2:4), menunjukan sikap hormat (ayat Ef 5:33; 1Pet 3:1-2),
memberi bantuannya atau menjadi penolong bagi suaminya (Kej 2:18), menjaga kesucian (Tit 2:5; 1Pet 3:2), menunjukkan kelemah lembutan dan ketenangan (1Pet 3:4), dan menjadi seorang ibu yang baik (Tit 2:4) dan pengatur rumah tangga yang baik (1Tim 2:15; 5:14; Tit 2:5).
Jadi prinsip alkitabiah yang hendak ditekankan adalah tunduknya seorang istri kepada suaminya dilihat sebagai melakukan kehendak Bapa di Sorga dan sebagai bagian dari ketaatannya kepada Yesus.
Dari penjelasan tersebut kita dapat menarik makna bahwa relasi suami istri, atau relasi sepasang kekasih adalah relasi yang mencontohi relasi Kristus kepada gerejaNya.
Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, haruslah merendahkan diri satu sama lain dalam takut akan Tuhan.
Suami dan istri harus melihat keberadaan mereka bukan dari sudut pandang yang individualistis, tetapi sebagai satu kesatuan.
Pada pihak yang lain suami tidak memahami hal itu sebagai suatu relasi kuasa, karena Paulus tidak berbicara masalah otoritas atau kekuasaan disini, tetapi berbicara tentang cinta kasih suami terhadap isteri.
Paulus tetap mengarahkan para suami untuk menjadikan salib dan pengorbanan Kristus sebagai patokan untuk bertindak; dan bagi para isteri Paulus mengingatkan untuk tunduk dan hormat pada suami yang mengasihinya.
Jika setiap pasangan suami isteri Kristen memberlakukan prinsip ini dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tidak ada suami yang menindas isteri dan tidak ada isteri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suami,
karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan hormat dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)