Minggu, 26 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 9 Mei 2019

"Pada mulanya semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudah itulah yang menyebabkan segala masalah muncul satu demi satu"

Editor: Ferry Jahang
DOK PRIBADI
Pendeta Messakh Dethan 

Dari percakapan ini nampak bahwa istri seolah-olah telah menjadi hak mutlak suami dan dia bisa berbuat apa saja, jika merasa istrinya tidak tunduk padanya.

Istri seolah-olah barang yang sudah dibeli dari pihak lain dan menjadi hak milik suami.

Hal yang buruk ini nampaknya merupakan suatu kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Malah dalam kebudayaan tertentu para lelaki dapat membeli istri seperti membeli barang di pasar.

Contohnya di kota tua Zagora di Bulgaria (http://www.infoteratas.com/2017/06/mau-beli-istri-simak-pasar-ini-sediakan.html).

Memang aneh tetapi nyata. Para lelaki bisa membeli istri di pasar penganten.

Bahayanya jikalau istri dapat dibeli seperti barang, maka kapan saja kalau suami bosan, maka dia akan membuangnya dan menggantikannya dengan barang yang baru.

Untuk itu maka Rasul Paulus menasehati jemaat di Efesus untuk melihat pola hubungan suami istri tidak dalam pandangan budaya yang sempit dan cenderung merendahkan kaum perempuan.

Budaya Jemaat Efesus memperlihatkan bahwa perempuan sering direndahkan dan dilecehkan oleh laki-laki.

Relasi perempuan dan laki-laki yang demikian ini menurut Paulus sama sekali tidak benar. Di hadapan Tuhan, laki-laki dan perempuan sama kedudukan dan haknya.

Perempuan dan laki-laki memiliki relasi yang setara dan sederajat. Akan tetapi suami dan istri disini bukan relasi antara tuan dan hambanya, bos dengan bawahannnya melainkan relasi fungsional.

Di dalam keluarga, perempuan berfungsi sebagai istri, sementara laki-laki berfungsi sebagai suami.

Kata kunci yang mengatur relasi fungsi suami-istri adalah kata `tunduk', dimana kedua-duanya saling menundukkan diri. Istri tunduk kepada suami, sementara suami tunduk pada istri (Efesus 5:21).

Pertanyaan yang perlu direnungkan lebih jauh adalah apakah sebetulnya arti dan makna dari kata tunduk yang dimaksudkan Paulus di sini.

Kalau kita melihat dari konteks teks Ef 5: 22-24 maka kita dapati bahwa Paulus sebetulnya sedang membuat perbandingan antara pola hidup Kristus, yang kepadanya jemaat tunduk dan pola hidup para suami, yang kepadanya istri harus tunduk.

Paulus membuat pola perbandingan antara relasi Kristus dan Gereja dengan relasi suami dan istri.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved