Renungan Harian Kristen Protestan
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 9 Mei 2019
"Pada mulanya semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudah itulah yang menyebabkan segala masalah muncul satu demi satu"
26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
Seringkali ayat-ayat ini dipamahami dan dipakai dengan maksud yang keliru baik oleh para suami atau untuk pemaknaan yang salah dari para penafsirnya.
Sehingga para suami menuntut istrinya untuk tunduk dan jangan melawan secara leterlek dan atau membabi buta.
Apalagi yang jika mereka hanya menekankan dua ayat pertama dari teks ini yaitu ayat 22 dan 23 saja.
"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh".
Para suami menuntut bahwa Alkitab mengatakan bahwa istri harus tunduk, karena suami adalah kepala (tuan, bos, orang yang berkuasa) dari istri.
Pemahaman yang sempit ini dapat menyebabkan perlakuan yang tidak tepat pada istri.
Para istri kemudian menjadi korban kekerasan suami, jika istrinya dianggap tidak tunduk dan melawan dan tidak menghargainya sebagai seorang kepala rumah tangga.
Pada hal jikalau kita melihat konteks kehidupan dibalik teks Efesus, maka kita akan mendapati bahwa zaman di mana jemaat Efesus hidup adalah zaman yang sangat meninggikan kedudukan laki-laki.
Akibatnya, para suami bebas bertindak sewenang-wenang terhadap isteri karena tidak ada hukum yang akan menjeratnya.
Dalam berbagai kebudayaan para perempuan sering mendapat perlakuan yang tidak pantas, karena budaya mengisinkannya.
Pernah di suatu tempat di pedalaman NTT, seorang pendeta dikunjungi oleh seorang perempuan muda yang datang mengadu karena dipukul oleh suaminya.
Maka sang pendeta berusaha melakukan kunjungan pastoral kepada suaminya. Pendeta mulai melakukan percakapan dengan suami perempuan itu.
Pendeta: "Mengapa pak memukul istri Anda", tanya pendeta.
Suami perempuan itu: "saya tidak pukul istri saya, yang saya pukul adalah sapi saya yang dulu saya berikan kepada keluarga dan orang tua istri saya sebagai belis (mas kawin).
Setiap kali dia melakukan kesalahan atau membuat saya jengkel, maka saya akan memukul sapi-sapi saya itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)