Renungan Harian Kristen Protestan
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 9 Mei 2019
"Pada mulanya semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudah itulah yang menyebabkan segala masalah muncul satu demi satu"
Renungan Harian Kristen Protestan Rabu 9 Mei 2019
Oleh: Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pernikahan itu Adalah Perintah Sorga yang Dijalani di Bumi
RAYMOND HULL mengatakan bahwa pada dasarnya "pada mulanya semua perkawinan itu menyenangkan. Namun hidup bersama sesudah itulah yang menyebabkan segala masalah muncul satu demi satu".
Hull benar bahwa menjalani sebuah perkawinan bukanlah hal yang mudah. Karena ketika telah masuk dalam pernikahan suami istri akan menunjukkan tabiat asli masing-masing, yang mungkin pada masa pacaran atau pertunangan hal itu tidak nampak.
Oleh karena itu maka perjalanan sebuah pernikahan bisa menjadi baik tergantung suami dan istri mampu menjalaninya dengan baik pula, ketika suami atau istri mulai menemukan kelemahan-kelemahan pasangannya dan mencoba memahaminya atau tidak.
Oleh karena itu tepat kalau dikatakan bahwa perkawinan dapat dikukuhkan di sorga, tetapi pengelolaannya harus dilakukan dibumi.
Para lelaki dan perempuan yang menikah harus mampu juga untuk mengelola rumah tangganya dengan bijaksana.
Pengelolaan rumah tangga yang baik bagi setiap orang tentu berbeda-beda sesuai dengan adat istiadat tiap suku bangsa.
Alkitab juga mengatur bagaimana hubungan suami istri yang baik, salah satunya dalam teks Efesus 5:22-26. Tentu tidak semua pembaca yang budiman yang membaca renungan ini semuanya sudah menikah.
Banyak yang masih bujang atau jomblo alias belum atau bahkan tidak menikah.
Tetapi saya kira prinsip-prinsip alkitab tentang pernikahan yang dijelaskan disini berguna bukan saja yang sudah menikah, tetapi juga sebagai persiapan bagi mereka yang akan menikah kelak di masa depan.
Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 5:22-26 menasehatkan kepada para istri untuk tunduk kepada suaminya, agar supaya rumah tangganya aman dan damai.
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.
Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
Seringkali ayat-ayat ini dipamahami dan dipakai dengan maksud yang keliru baik oleh para suami atau untuk pemaknaan yang salah dari para penafsirnya.
Sehingga para suami menuntut istrinya untuk tunduk dan jangan melawan secara leterlek dan atau membabi buta.
Apalagi yang jika mereka hanya menekankan dua ayat pertama dari teks ini yaitu ayat 22 dan 23 saja.
"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh".
Para suami menuntut bahwa Alkitab mengatakan bahwa istri harus tunduk, karena suami adalah kepala (tuan, bos, orang yang berkuasa) dari istri.
Pemahaman yang sempit ini dapat menyebabkan perlakuan yang tidak tepat pada istri.
Para istri kemudian menjadi korban kekerasan suami, jika istrinya dianggap tidak tunduk dan melawan dan tidak menghargainya sebagai seorang kepala rumah tangga.
Pada hal jikalau kita melihat konteks kehidupan dibalik teks Efesus, maka kita akan mendapati bahwa zaman di mana jemaat Efesus hidup adalah zaman yang sangat meninggikan kedudukan laki-laki.
Akibatnya, para suami bebas bertindak sewenang-wenang terhadap isteri karena tidak ada hukum yang akan menjeratnya.
Dalam berbagai kebudayaan para perempuan sering mendapat perlakuan yang tidak pantas, karena budaya mengisinkannya.
Pernah di suatu tempat di pedalaman NTT, seorang pendeta dikunjungi oleh seorang perempuan muda yang datang mengadu karena dipukul oleh suaminya.
Maka sang pendeta berusaha melakukan kunjungan pastoral kepada suaminya. Pendeta mulai melakukan percakapan dengan suami perempuan itu.
Pendeta: "Mengapa pak memukul istri Anda", tanya pendeta.
Suami perempuan itu: "saya tidak pukul istri saya, yang saya pukul adalah sapi saya yang dulu saya berikan kepada keluarga dan orang tua istri saya sebagai belis (mas kawin).
Setiap kali dia melakukan kesalahan atau membuat saya jengkel, maka saya akan memukul sapi-sapi saya itu.
Dari percakapan ini nampak bahwa istri seolah-olah telah menjadi hak mutlak suami dan dia bisa berbuat apa saja, jika merasa istrinya tidak tunduk padanya.
Istri seolah-olah barang yang sudah dibeli dari pihak lain dan menjadi hak milik suami.
Hal yang buruk ini nampaknya merupakan suatu kenyataan yang kita hadapi sehari-hari. Malah dalam kebudayaan tertentu para lelaki dapat membeli istri seperti membeli barang di pasar.
Contohnya di kota tua Zagora di Bulgaria (http://www.infoteratas.com/2017/06/mau-beli-istri-simak-pasar-ini-sediakan.html).
Memang aneh tetapi nyata. Para lelaki bisa membeli istri di pasar penganten.
Bahayanya jikalau istri dapat dibeli seperti barang, maka kapan saja kalau suami bosan, maka dia akan membuangnya dan menggantikannya dengan barang yang baru.
Untuk itu maka Rasul Paulus menasehati jemaat di Efesus untuk melihat pola hubungan suami istri tidak dalam pandangan budaya yang sempit dan cenderung merendahkan kaum perempuan.
Budaya Jemaat Efesus memperlihatkan bahwa perempuan sering direndahkan dan dilecehkan oleh laki-laki.
Relasi perempuan dan laki-laki yang demikian ini menurut Paulus sama sekali tidak benar. Di hadapan Tuhan, laki-laki dan perempuan sama kedudukan dan haknya.
Perempuan dan laki-laki memiliki relasi yang setara dan sederajat. Akan tetapi suami dan istri disini bukan relasi antara tuan dan hambanya, bos dengan bawahannnya melainkan relasi fungsional.
Di dalam keluarga, perempuan berfungsi sebagai istri, sementara laki-laki berfungsi sebagai suami.
Kata kunci yang mengatur relasi fungsi suami-istri adalah kata `tunduk', dimana kedua-duanya saling menundukkan diri. Istri tunduk kepada suami, sementara suami tunduk pada istri (Efesus 5:21).
Pertanyaan yang perlu direnungkan lebih jauh adalah apakah sebetulnya arti dan makna dari kata tunduk yang dimaksudkan Paulus di sini.
Kalau kita melihat dari konteks teks Ef 5: 22-24 maka kita dapati bahwa Paulus sebetulnya sedang membuat perbandingan antara pola hidup Kristus, yang kepadanya jemaat tunduk dan pola hidup para suami, yang kepadanya istri harus tunduk.
Paulus membuat pola perbandingan antara relasi Kristus dan Gereja dengan relasi suami dan istri.
Seumpama Kristus adalah mempelai laki-laki bagi Gereja dan Kepala Gereja, maka suami juga adalah mempelai laki-laki dan kepala bagi istrinya.
Kristus telah berkorban dan menebus Gereja dari kuasa kematian. Tindakan kasih dan pengorbanan Kristus itu menjadi cerminan bagi relasi suami dan istri.
Jika suami dipandang sebagai kepala, pengertian kepala dalam arti seorang kepala yang mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri.
Perlambangan ini berakar dalam Perjanjian Lama, yang kerap berkata tentang Israel sebagai isteri Yahwe, Hos 1:2; Yes 1:21-26; Yer 2:2; 3:1,6-12; 23; Yes 50:1; 54:6-7.
Mengapa Jemaat tunduk kepada Kristus, karena Kristus mengasihi Jemaatnya, ia menyelamatkan mereka dengan darahnya sebagai ketaatannya kepada kehendak Bapa Pencipta.
Semua tindakanNya Yesus dimengerti sebagai pemenuhan terhadap kehendak Tuhan (Mat. 3:15) yang senantiasa menjadi cerminan kehidupan jemaat dalam segala aspek, termasuk dalam relasi suami istri.
Dalam ketaatan pada Bapa Yesus telah menuntaskan karya keselamatan bagi Jemaatnya atau umatnya.
Pola inilah yang mendorong mengapa Istri tunduk kepada suami, karena suami mengasihi istrinya (Ef 5:25) dan suami berbuat kebaikan bagi istrinya.
Inilah makna sesungguhnya dari teks ini bahwa istri tunduk dalam hubungan dengan pengertian jemaat yang tunduk kepada Kristus, yang melandaskan seluruh karyanya pada kehendak Bapa di Sorga.
Dalam terang itu seluruh sikap etis seorang istri mendapatkan tempatnya yang tepat. Istri tunduk karena ada alasan yang sangat mendasar.
Karena istri telah mendapat kasih dan kebaikan dari suaminya, maka istri juga membalasnya dengan sejumlah kewajibannya kepada suami yang dikasihinya dengan berbuat kasih (Tit 2:4), menunjukan sikap hormat (ayat Ef 5:33; 1Pet 3:1-2),
memberi bantuannya atau menjadi penolong bagi suaminya (Kej 2:18), menjaga kesucian (Tit 2:5; 1Pet 3:2), menunjukkan kelemah lembutan dan ketenangan (1Pet 3:4), dan menjadi seorang ibu yang baik (Tit 2:4) dan pengatur rumah tangga yang baik (1Tim 2:15; 5:14; Tit 2:5).
Jadi prinsip alkitabiah yang hendak ditekankan adalah tunduknya seorang istri kepada suaminya dilihat sebagai melakukan kehendak Bapa di Sorga dan sebagai bagian dari ketaatannya kepada Yesus.
Dari penjelasan tersebut kita dapat menarik makna bahwa relasi suami istri, atau relasi sepasang kekasih adalah relasi yang mencontohi relasi Kristus kepada gerejaNya.
Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, haruslah merendahkan diri satu sama lain dalam takut akan Tuhan.
Suami dan istri harus melihat keberadaan mereka bukan dari sudut pandang yang individualistis, tetapi sebagai satu kesatuan.
Pada pihak yang lain suami tidak memahami hal itu sebagai suatu relasi kuasa, karena Paulus tidak berbicara masalah otoritas atau kekuasaan disini, tetapi berbicara tentang cinta kasih suami terhadap isteri.
Paulus tetap mengarahkan para suami untuk menjadikan salib dan pengorbanan Kristus sebagai patokan untuk bertindak; dan bagi para isteri Paulus mengingatkan untuk tunduk dan hormat pada suami yang mengasihinya.
Jika setiap pasangan suami isteri Kristen memberlakukan prinsip ini dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tidak ada suami yang menindas isteri dan tidak ada isteri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suami,
karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan hormat dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)