Berita Cerpen

Cerpen Salesti Berto Gagang: Cerita Penantian

Menanti dalam kerinduan tentang hadirnya sang titisan Dewi yang datang menemaniku dalam penantian sepi.

Cerpen Salesti Berto Gagang: Cerita Penantian
ilustrasi/capital internet
Cerita Penantian 

PERTEMUAN pertama, bertajuk cerita baru dalam sebuah pertemuan. Menanti dalam kerinduan tentang hadirnya sang titisan Dewi yang datang menemaniku dalam penantian sepi. Janji manis yang pernah diucapkan kini tinggal sebuah kerinduan menanti. Penantian panjang seseorang datang dari cerita lama dalam hidup.

Ketika semuanya bersanding sepi, akupun berada dalam kekonyolan diri sendiri, karena menanti yang tidak ada jawaban pasti. Kini semua yang pernah ada jadi berubah karena dia dan aku terbentang jarak dan waktu.

Tak tahu bagimana aku harus mengakhiri semua ini, tanpa hadirnya seorang dalam penantian. Tak pernah kubayangkan bahwa dia akan meninggalkanku secepat itu, arah dan jejak hidupnya tak sanggup kutemukan.

Desa Siru Siap Menerima Pembentukan Kampung KB

Kali ini aku berada dalam ujung menanti dirimu, dan tak ada jawaban pasti tentang hadir dirimu. Tak ada kata-kata untuk melukiskan kisah yang pernah kurajut bersama dirimu. Semua cerita tak berarti tertuang dalam hati sepi, meski merana sepi kucoba menanti.

Kuawal cerita dengan kata kiasan, kuakhiri dengan kata terlanjur. Janji itu menyakitkan, lebih sakit daripada kebohongan. Kesetian dan kejujuran adalah hal yang membuat diriku menderita di atas penderitaan.

Sekejap memulai dan lama menanti. Iringan cerita tentang hadir sang dewi fortuna, berharap dia berpihak kepadaku, namun itu adalah harapan yang sia-sia saja. Waktu berubah seperti penyulap merubah segala sesuatu dengan cepat, liburan sekolah pun tiba.

Kini dewi-dewi titisan itu hadir dalam pertemuan malam minggu yang kami rencanakan, untuk mengisi waktu kosong.
Betapa pun aku coba untuk menatap jelita cantiknya dewi titisan itu. Tetapi kekagumanku itu tidak luap dalam waktu seketika, tapi berubah menjadi cerita dimana dia mulai mendekati sang pangeran yang akan menjadi dewa sang surya.

Kucoba memberanikan diri mengajaknya untuk berbicara walau itu hanya sebuah kisah untuk menjadi cerita di malam Minggu. Aku bersama beberapa pemuda ditemani titisan dewi dititipkan untuk mengusik rasa sepi malam dingin.

Suasana berubah seketika, ketika kami saling berbagi kasih. Saat pertama sang titisan dewi ingin menyampaikan hasrat akan suka pada sang reluk hati yang kini datang menyandingkan dalam pertemuan singkat.

Iya malu untuk meyampaikan hasratnya itu untuk sang pangeran yang datang menemuinya saat bulan purnama. Paduan cerita dalam keberanian mengusap wajah sang permata, mengejar cinta dari dewi sri mulai. Keberaniannya membawakan hasil, kalau iya mengutarkan niatnya pada lelaki yang dititipkan Tuhan bersanding denganya.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved