Ini Suara Gembala MS GMIT Terkait Pemilu 2019

Majelis Sinode GMIT telah mengeluarkan suara gembala terkait dengan Pemilu 2019 dan apa yang harus dilakukan

Penulis: Hermina Pello | Editor: Hermina Pello
ISTIMEWA
Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon 

POS-KUPANG. COM l KUPANG - Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) telah mengeluarkan suara gembala terkait dengan pemilihan umum (Pemilu) DPR, DPD DAN DPRD serta pemilihan presiden (pilres) tahun 2019.

Dalam suara gembala yang ditandatangani Ketua MS GMIT, Pdt Dr Mery LY Kolimon dan Sekertaris, Pdt Yusuf Nakmofa, MTh yang diterima POS-KUPANG. COM, dari Ketua MS Sinode GMIT, Pdt Mery Kolimon, Senin (1/4/2019) disebut Surat gembala ini ditujukan  kepada Majelis Klasis Harian untuk diteruskan kepada Ketua Majelis dan pendeta serta seluruh anggota jemaat GMIT di mana saja berada,
khususnya yang telah memiliki hak suara dalam pemilihan umum (Pemilu).

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa pada tanggal 17 April 2019 akan berlangsung Pemilu
untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR
RI), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota periode 2019–2024.

"Pada prinsipnya pemilu merupakan pesta demokrasi, di mana rakyat
mewujudkan kedaulatannya menentukan arah perjalanan bernegara. Dari persepktif iman Kristiani, Pemilu merupakan sebuah mekanisme demokratis untuk mencari
pemimpin yang bermutu, sesuai kehendak Tuhan. Partisipasi anggota GMIT di ruang politik merupakan
wujud dari kesaksian hidup sebagai orang beriman," ujarnya.

Dikatakan, melalui pemilih, lanjutnya, Tuhan sedang menentukan pemimpin
bangsa ini dan wakil-wakil rakyat."

Karena itu kita mesti memakai kesempatan ini dengan baik untuk ikut
menentukan masa depan bangsa dan daerah kita. Untuk itu kami serukan beberapa hal berikut ini," katanya.

Pertama, kepada Para Pemilih
Kepada semua jemaat GMIT, kami himbau, mari kita berdoa dan sukseskan pemilihan umum 17
April 2019.

" Kami minta semua warga gereja yang memiliki hak pilih untuk berbondong-bondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Gunakan hak pilih secara bertanggung jawab dan jangan golput.
Suara kita sangat penting untuk menentukan masa depan bangsa.
Mari kita berdoa agar Tuhan memberikan kita hikmat memilih calon presiden dan wakil presiden
terbaik, serta legislatif di semua level, "ujarnya.

Pelajari dengan sungguh-sungguh orang maupun partainya agar
kita memberikan suara kepada orang yang memiliki latar belakang yang terpercaya, yaitu mereka yang
selama ini punya perbuatan dan pelayanan yang baik dalam masyarakat.

Pilihlah juga partai yang
berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945.

Umat Kristen di Indonesia harus berdiri menjaga Indonesia dari kecenderungan-kecenderungan yang hendak membawa bangsa ini berpaling dari Pancasila sebagai dasar negara.

Gunakanlah hak pilih yang ada berdasarkan pertimbangan yang rasional sebagai tanggung jawab
iman.

Iman Kristen mengajarkan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan tiap orang
(Roma 13:4).

Karena itu pilihlah pemimpin yang berintegritas, jujur, berani dan berkomitmen melawan
segala bentuk korupsi dan manipulasi, setia kepada undang-undang dan peraturan negara.

Pilihlah juga pemimpin yang menghargai keanekaragaman dalam masyarakat, memiliki kemauan bekerja keras untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga masyarakat, serta berkomitmen untuk menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan lingkungan

Iman Kriten tidak membenarkan tindakan memilih pemimpin karena dibayar.

"Karena itu kami
mendorong anggota GMIT agar bersikap kritis dan berani menolak politik uang. Hindari pula
penggunaangedung gereja atau rumah ibadah sebagai ajang kampanye, jangan menggunakan mimbar
gereja untuk menggalang dukungan suara," tegasnya

MS GMIT meminta kepada semua pihak yang terlibat dalam pilkada ini, janganlah memanipulasi
sentimen suku, agama dan golongan yang bisa memecah-belah kita sebagai masyarakat dan bangsa.

" Janganlah memanfaatkan simbol-simbol agama untuk meraih dukungan, atau membentur-benturkan
masyarakat yang beragam suku, agama dan kepercayaan. Hindarkan pula diskriminasi berdasarkan
jenis kelamin serta kampanye gelap," katanya

Mery meminta agar menggunakan media sosial sebagai sarana pendidikan politik dan
hindarkanlah menyebarkan kebohongan (hoax) yang dapat mencederai semangat persaudaraan dan persekutuan  yang telah terbangun selama ini.

" Jagalah suasana kondusif agar pemilu nanti berjalan aman dan damai. Perlu kita terus menerus
saling mengingatkanbahwa Pemilu ini hanya berlangsung 5 tahun sekali, tetapi persekutuan dan
persaudaraan kita mesti tetap terpelihara selamanya," kata Mery.

Jika ada perbedaan pendapat atau sengketa Pemilu,
hindari sikap anarkis. Percayakan proses hukum kepada penegak hukum dan jangan “main hakim
sendiri.”

" Mari kita bekerja-sama mengawasi penyelenggaraan Pemilu. Kami mendorong anggota-anggota
jemaat menjadi pengawas pemilu secara partisipatif, mencegah dan melaporkan kecurangan pemilu,
mengupayakan pemilu yang berkualitas, berintegritas demi kualitas demokrasi yang lebih baik. Kita
juga perlu mengawasi kebijakan-kebijakan politik pemimpin terpilih agar berjalan sesuai dengan
undang-undang dan peraturan yang berlaku demi keadilan, kesejahteraan dan damai dalam masyarakat, "katanya.

Majelis Sinode GMIT telah membentuk Tim Pastoral Politik GMIT.

" Jika jemaat memiliki
rencana pelayanan terkait Pemilu, mohon mengkonsultasikannya dengan Tim dimaksud untuk
mendapatkan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan pandangan dan sikap GMIT sebagai
lembaga.

Kedua, kepada para kontestan.

MS GMIT mengharapkan kepada para kontestan dalam Pemilu, baik pribadi maupun partai, agar
mengedepankan cara berpolitik yang berorientasi kepada kesejahteraan rakyat.

NTT masih bergumul
dengan banyak masalah sosial seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, kesehatan, ekonomi,
rusaknya lingkungan hidup, gizi buruk dan tingginya angka kematian ibu, masalah perdagangan orang,
dan berbagai masalah lainnya.

" Kiranya pemilu ini dapat menjadi ajang pembaharuan komitmen untuk
menuntaskan masalah-masalah besar dan sulit. Jangan menghalalkan cara-cara yang melanggar hukum
atau memanipulasi isu gender, SARA yang bersifat sektarian dan primordial sempit demi
kekuasaan, "kata Mery.

Saat Pemilu usai, MS GMIT mengharapkan para kontestan mampu berjiwa besar, terutama saat
menerima hasil Pemilu demi menjaga ketertiban, perdamaian dan ketentraman masyarakat.

Ketiga, kepada Para Penyelenggara
Kepada penyelenggara Pemilu, yakni KPU, Bawaslu/Panwas, kami harapkan mampu melaksanakan
mandat secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak.

Dikatakan, Masa depan demokrasi kita bergantung pada integritas dan kejujuran para penyelenggara Pemilu.

" Marilah kita sungguh-sungguh berdoa dan berusaha agar Pemilu pada 17 April mendatang berlangsung demokratis, damai, jujur, adil dan riang gembira, jauh dari konflik dan dan kekacauan.

Kiranya Pemilu ini terlaksana sebagai peristiwa demokrasi yang bermartabat. (Laporan Reporter POS-KUPANG. COM  Hermina Pello ) 

anggota legislatif periode 2019-2024, kami ucapkan terima kasih, "katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG. COM, Hermina Pello)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved