Berita cerpen
Cerpen Riko Raden : Pergilah
Cerpen Riko Raden: Pergilah. Itulah janji kami berdua walau hanya lewat media sosial. Kami berjanji agar secepatnya bisa bertemu.
Aku dan Dian tanpa sengaja bertemu di atas bus. Inilah perjumpaan ketiga kami. Di dalam bus ini tempat duduk kami berdua saling berhadapan. Penampilannya tidak pernah bosan untuk memandangnya. Ingin selalu melihatnya. Sekali-kali dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya. Om sopir memutar lagunya yang ternyata kami sangat suka. Satu jam saja aku telah bisa, cintai kamu. Itulah sepotong syair lagu itu. Kami pun tanpa sengaja bernyanyi bersama-sama walau tanpa nada yang didengar.
"Engkau mau ke mana?" Tanyaku saat musik tidak diputar lagi. Maklum setiap kali berjumpa dengannya pasti aku lebih dahulu yang bertanya. Barangkali ini kebiasaan dalam keluarga. Selalu ramah dengan orang lain walaupun kami tidak mengenal mereka.
"Aku pergi jalan-jalan ke kota Maumere." Jawabannya selalu singkat tanpa menanya balik kepadaku.
"Engkau sendirian atau.."
"Tidak, aku dengan seseorang sebentar."
"Pacarmu."
" Tidak! Hanya kenalan saja."
"Jangan tipu. Jujur saja."
"Iya, aku dengan pacar. Dia baru libur kemarin dari Malang. Dia yang pernah kucerita pada perjumpaan pertama kita."
"Ohh..." Aku hanya mengangguk kepala dengan jawabannya.
• KPP Pratama Kupang Targetkan Rp 1,4 T Tahun 2019
Diam dan hening kembali kami tercipta dalam bus ini. Aku mencoba beralih pandang untuk melihat keindahan rumah biara di Bukit Sandar Matahari. Tetapi masih tidak bisa untuk beralih dari tatapannya. Aku begitu kagum dengan kecantikannya. Dia begitu sempurna di mataku. Ketika tiba di kota Maumere, pelan-pelan semua penumpang dalam bus ini mulai tidak ada. Yang tersisa hanya kami bertiga. Aku, Dian dan om sopir. Tidak lama, bus berhenti di depan pasar. Aku melihat ternyata Dian yang turun. Tak ada ucapan sepatah kata pun dari mulutnya untukku. Barangkali dia tidak mengenal diriku lagi. Sungguh tega sekali. Diam dan hening saat dia turun dari bus. Aku mencoba memperhatikannya, ternyata di luar ada seorang pemuda tampan sedang menunggunya.
Tangan mereka saling menggenggam dan tubuh saling berhimpit sambil berjalan entah ke mana aku tidak tahu. Dalam hatiku ada rasa cemburu karena Dian sedang bersama orang lain. Mungkin Dian lupa dengan janji bahwa kami sepakat untuk saling mencinta. Aku begitu banyak berharap kepadanya, akan kehadirannya dalam kehidupanku. Siang malam aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kami dipertemukan dalam suatu naungan rumah yang bahagia. Nyatanya dia tega mengabaikan perasaanku. Dia tega meninggalkan aku.
***
Pagi ini, hujan menggantikan air mataku yang sudah habis. Aku merenung di atas tempat tidur, akalku terus bersawala dengan diriku sendiri. Kebaikan demi kebaikan terus aku berikan pada orang yang sangat kucintai, tapi apa daya semuanya hanya sia-sia saja. Tak lain dan tak bukan adalah pilu yang munculnya bertubi-tubi. Aku harus rela mengalami kehilangan lagi. Kehilangan cinta yang kudambakan selama ini. Setelah sebuah kehilangan atas sosok perempuan yang mengaku akan setia. Kini awan hitam kembali menghampiriku, duka menyambangiku. Aku kehilangan seseorang yang mungkin bisa disebut sebagai kekasih yang begitu kupercaya sedari aku belum memahami cinta masa putih abu-abu. Ibuku selalu berpesan bahwa sebagai lelaki, aku harus mempunyai peran untuk menjaga keagungan perempuan sebaik aku kepada ibu dan adik-adikku.
• Polisi Sebut Sudah Kantongi 2 Calon Tersangka Kasus Dana Desa Rafae di Kabupaten Belu
Merawat dan menghormati hati perempuan sepertimu selayaknya permata suci nan rapuh yang melahirkan banyak keindahan. Dan ini semua telah kulakukan kepadanya. Namun, nyatanya dia malah menyakiti hatiku.
Entah rasa apa ini aku pun tidak mengerti. Bertahan mencintai seseorang yang tidak bisa mengerti irama jantungku. Kini, perasaanku sendiri telah menyiksa hati dan jiwaku. Mencoba melarutkan perasaan dalam suasana yang kelabu, bukanlah hal yang mudah. Bertahan untuk terus mencintainya membuatku menderita karena dia tidak pernah mengerti dengan perasaan ini. Melepaskan untuk pergi darinya barangkali penderitaanku tidak bisa kupikul karena hanya dia satu-satunya wanita yang kucintai. Antara bertahan dan pergi membuat hati ini menjadi dilema.
Perjumpaan dengan dia pada saat itu teramat bahagia. Aku begitu bahagia ketika menatap matanya. Saat aku berjumpa denganya semenjak pulang dari Malang, aku baru menyadari bukan hanya mentari yang mampu menghangatkan, bukan hanya pelangi yang indah, bukan hanya rembulan yang mampu menerangi malam.
Dia layaknya senja nan indah dan aku selalu mencintainya. Tetapi semua itu hanyalah kekaguman atas dirinya. Dia telah bersama orang lain.
• Jejak Kaki RM BTS di Tempat Wisata di Korea Ini Jadi Spot Foto Terkenal Turis Dalam dan Luar Negeri
Bersama keheningan senja ini, di bawah mendungnya awan yang telah menutupi matahari pagi, aku memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Aku tidak ingin disakiti terus menerus. Sejujurnya, aku benci dengan lelaki yang mencintai Dian. Apalagi sampai menyentuhnya. Aku sungguh-sungguh sangat benci. Aku juga benci dengan Dian karena tidak pernah memahami dengan perasaanku. Dian selalu pergi meninggalkan aku di saat aku ingin meluapkan rasa cinta ini kepadanya. Aku sungguh mencintainya hingga tak ada kosakata yang bisa kugunakan untuk melukiskannya. Teganya dia meninggalakan aku seorang diri. Teganya dia telah melupakan janjinya.
"Nana, apakah kita bisa bertemu karena ada yang ingin kubicarakan." Katanya saat dia menelponku.
"Maaf, aku tidak bisa karena aku sibuk dengan keluarga." Jawabku.
"Nana, tolong luangkan waktu sedikit. Ada perlu penting."
"Berhentilah menjadi pengecut. Berhentilah menjadikanku budak dari ketidakmampuanmu mengatasi ketakutan yang berasal dari masa lalumu. Aku tahu banyak tentang perempuan seperti dirimu. Engkau hanya memandang dan menilai seorang lelaki seperti diriku hanya sebelah mata saja. Barangkali aku hanya seorang lelaki sederhana yang tidak punya apa-apa. Aku datang berlibur karena kita telah janji. Aku senang dengan janji kita supaya kita bertemu. Tetapi setiap kali bertemu, dirimu tidak ada perasaan sedikit pun untukku. Aku sangat kecewa dengan dirimu. Berhentilah menjadi pengecut."
"Iya, terima kasih banyak. Aku minta maaf." Suaranya pelan-pelan mulai hilang.
Itulah sebabnya mengapa sampai saat ini aku benci dengan janji seorang perempuan.
(Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Unit St. Rafael).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pergilah1.jpg)