Wisudawati ini Ternyata Hamil saat Upacara Penyerahan Ijazah di Kupang, Ini Ceritanya
Tak lama setelah itu, seorang mahasiswi berjalan lamban sembari memegangi perutnya. Ia sedang dalam kondisi hamil.
Wajah mereka tampak ceria menyaksikan para lulusan melangkah gagah dan anggun ke panggung untuk menerima ijazah.
Selain itu, mereka juga terhibur dengan lantunan lagu-lagu yang dibawakan oleh anggota paduan suara. Berbagai lagu dibawakan, baik lagu-lagu kebangsaan maupun lagu-lagu daerah NTT.
Sementara itu di halaman depan Hotel juga ramai keluarga dan orangtua dari para lulusan UT duduk berjejer rapi. Kebanyakan sudah sudah tua.
Seorang ibu berumur 70 tahun sampai tertidur di depan Hotel menunggu anaknya menerima ijazah. Disampingnya, tampak duduk beberapa orangtua dari para lulusan Universitas Terbuka.
Saat dibangunkan, ibu tua yang bernama Yuliana Mela, asal Oesao Kabupaten Kupang ini tampak meringis sembari meremas bahunya.
"Bahu saya sakit sekali. Saya terpaksa tidak bisa masuk, hanya suami yang masuk, karena hanya satu orang saja pendamping yang bisa masuk," ungkapnya.
Ia mengatakan, anaknya yang menerima ijazah Universitas Terbuka bernama Asti Mela, putri bungsu dari lima bersaudara.
"Yah biar begini, sakit, kena panas angin tapi saya tetap semangat demi anak saya yang bungsu itu," ungkapnya.
Ia mengatakan dirinya sangat bangga pada Asti. "Selama ini dia mengajar di sekolah di Oesao. Yah gajinya bisa bantu-bantu penuhi kebutuhan keluarga," ungkap Yuliana.
Usai acara penyerahan ijazah, wajah Urbanus Tanbae sumringah. Urbanus sudah 19 tahun mengajar di sebuah Sekolah Dasar Inpres Kalangmana Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sambil menjalani Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka.
Bagi Urbanus menjadi guru adalah panggilan hidup yang ia jalani dengan sepenuh hati dan bahagia. "Yah kalau kita mau jadi guru hanya untuk dapat gaji dan bisa hidup, kita tidak sepenuh hati mengabdi," ungkapnya kepada POS-KUPANG.COM, usai acara penerimaan ijazah.
Kendati sibuk mengajar siswa-siswi SDI Kamanglana, tidak membuat semangat kuliahnya kendor. Urbanus belajar lewat modul-modul yang diemin oleh pihak Universitas Terbuka Kupang.
Selain lewat modul, Urbanus juga mengakses lewat internet berbagai informasi dari Universitas dan bahan-bahan kuliah.
Apesnya di Kamanglana tidak bisa mengakses internet, maka Urbanus harus pergi ke Ibu Kota Kabupaten, Kalabahi. "Waduh kalau di kampung susah, jadi harus ke Kalabahi di sana baru kita buka internet," ungkap Urbanus.
Selain itu, kata Urbanus, di kampung, tempat ia mengajar masih kesulitan air bersih dan listrik. Namun ia senang karena semangat belahar anak didiknya sangat tinggi.