Renungan Harian Kristen Protestan, 14 Maret 2019 : Idola Anda Siapa?
Namun adapula yang menjadikan seseorang sebagai idola karena sebatas tampilan fisik saja, yakni karena kecantikannya atau kegantengannya.
Perut adalah lambang kepuasan hidup jasmani, ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Surga.
Karena kebutuhan makanan adalah kebutuhan yang paling mendasar dalam hidup manusia, maka jika manusia memuaskan perutnya saja, dapat diartikan bahwa ia hidup dengan tujuan yang sangat rendah.
Bagi Paulus bila orang hanya hidup oleh dan untuk perut, juga dikendalikan oleh pikiran-pikiran duniawi, maka hasil dari semuanya itu adalah aib semata (19).
Oleh sebab itu Paulus meminta jemaat di Filipi supaya tidak tawar hati melihat pemenjaraan dirinya, tetapi sebaliknya tetap teguh di dalam Tuhan.
Mengarahkan mata hati dan iman mereka bukan pada cara pandang duniawi, tetapi cara pandang surgawi, meskipun mereka mengalami situasi yang sulit (4:1).
Dalam pandangan duniawi Salib sebagai hal yang rendah (kebodohan) sedangkan pandangan surgawi memandang Salib sebagai hal yang mulia.
Pikiran duniawi memandang penjara Paulus sebagai sesuatu yang hina, sedangkan pikiran surgawi memandang sengsara penjara seperti yang Paulus alami sebagai jalan salib yang mulia.
Yang menarik Paulus memakai kata Yunani politeuma dalam Filipi 3: 20 yang artinya "kewargaan".
Kata ini hanya dipakai satu kali dalam Perjanjian Baru dalam teks ini mungkin menunjuk kepada pola hidup yang dianut seorang warga, yang dimaksudkan di sini ialah negeri di mana dia menjadi anggota warganya.
Menurut beberapa penafsir para warga Romawi yang tinggal di perbatasan seperti Filipi akan langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh Paulus.
Orang-orang Kristen yang dewasa hidupnya ibarat sebagai "sekelompok warga surgawi" dan menghidupi nilai-nilainya yang tinggal di bumi untuk sementara.
Rasul Paulus dalam bacaan kita bicara tentang kewarganegaran juga, tetapi dalam tekanan yang berbeda.
Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Filipi bahwa mereka oleh karena kuasa Injil Kristus telah ditebus sebagai warga kerajaan Sorga. Kewargaan mereka di dunia hanya bersifat sementara.
Menurut Paulus, keadaan jasmani mereka bersifat sementara saja, sebab kelak mereka akan diberikan tubuh surgawi yang mulia (ayat 21).
Mereka akan luput dari pengaruh keduniawian dengan hawa nafsu yang membinasakan, bila mereka hidup dalam perspektif pengharapkan kepada kemuliaan tubuh sorgawi nanti!
Jadi dari pemikiran Paulus kita dapat menegaskan beberapa hal.
Pertama, ada banyak tokoh idola dalam kehidupan kita, dulu idola kita mungkin berasal dari Amerika, Inggris, tetapi sekarang ini mungkin juga dari Korea atau Cina.
Untuk itu maka kita mesti selektif memilih idola. Apakah teladan mereka memberikan perubahan ke arah baik atau tidak.
Banyak yang mengidolakan tokoh politik tertentu, tetapi saat ia berurusan dengan masalah hukum apalagi menggugat cerai istrinya, maka banyak orang kecewa dan frustrasi.
Oleh karena itu anjuran Paulus untuk mengikuti teladan Kristus harus menjadi perhatian utama kehidupan orang beriman, bukan pada gaya berpakaian, gaya berbicara, tetapi nilai-nilai yang telah ditunjukan Yesus.
Kedua, salah satu tujuan Alkitab mencatat kehidupan dari orang-orang beriman adalah supaya kehidupan mereka yang baik bisa kita tiru.
Apakah kita selalu berusaha menyesuaikan kehidupan kita dengan kehidupan yang baik dari tokoh-tokoh dalam Alkitab? Atau kita tidak menirunya dengan alasan bahwa mereka hidup pada jaman yang berbeda dengan kita?
Nama-nama anak kita saat ini, sudah berubah sesuai zaman: Yohanis, menjadi Johny, Matius menjadi Methiew atau Matt, Yakobus menjadi Jakc, dll.
Tapi apakah teladan hidup dari orang-orang yang diberi nama ini ada dalam hidup anak-anak kita? Atau hanya sekadar gaya.
Ketiga, menarik bahwa kewarganegaraan orang Kristen bukan hanya satu tetapi dua. Kewarganegaraan kita dua: Dunia dan surga.
Mari kita tidak dalam pemikiran bahwa hidup ini seolah-olah semua habis di dunia. Tapi tempat tinggal kita yang kekal ada di surga.
Kalau ditanya, apakah anda yakin masuk surga atau neraka? Maka tidak ada yang berani menjamin, karena kita masih ragu-ragu.
Namun kita baru berani memastikannya kalau kita hidup dalam tuntunan Roh Tuhan dan dalam pengharapan sebagai warga kerajaan surga.
Melalui anugerahNya Tuhan telah memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih.
Bagi orang Kristen telah memahami betapa muliaNya anugerah keselamatan Allah, dan hidupnya telah disentuh oleh berkat Tuhan, maka pastilah hidupnya itu akan menghasilkan hal-hal yang baik.
Dan berjuang untuk untuk hidup dalam standard hidup yang benar bukan ikut arus duniawi yang menyesatkan dari para idola kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan-3.jpg)