Senin, 20 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan, 14 Maret 2019 : Idola Anda Siapa?

Namun adapula yang menjadikan seseorang sebagai idola karena sebatas tampilan fisik saja, yakni karena kecantikannya atau kegantengannya.

Editor: Ferry Jahang
DOK PRIBADI
Pendeta Messakh Dethan 

Rasul Paulus meminta jemaat Filipi untuk memilih tidak mengikuti pola atau teladan hidup yang menentang kesaksian pemberitaan Injil, tetapi sebaliknya memilih pola hidup yang mendukung pemberitaan Injil.

Memilih di antara pola hidup yang mendukung pelayanan Tuhan atau justru menghambatnya.

Rupanya di antara jemaat Filipi terdapat orang-orang yang memberi teladan keliru dan salah.

Mereka meniadakan kuasa Injil dengan menganjurkan kehidupan yang memenuhi nafsu tubuh atau keinginan duniawi semata (ayat 19).

Dengan berbuat demikian, mereka hidup sebagai musuh salib Kristus (ayat 18).

Oleh karena itu Paulus mengajak dan mendorong jemaat Filipi untuk mengikuti teladannya di dalam mengikut Yesus dan dengan sungguh-sungguh bertumbuh dan dibangun di dalamNya.

Pada diri manusia itu sendiri, jika tanpa Kristus, maka tidak ada sesuatu yang baik untuk ditiru; hanya apa yang ada dalam kita yang dari Kristus yang layak ditiru.

Ini menunjukkan bahwa menurut Rasul Paulus jika manusia terpisah dari Kristus, sedikitpun tak ada sesuatu yang baik (bdk. Roma 7:18-19).

Hanya karena adanya kasih karunia dan pekerjaan Allah di dalam diri manusia itu, maka barulah ia bisa menjadi baik bahkan bisa menjadi suatu teladan atau idola bagi orang lain.

Oleh karena itu Paulus memperingatkan jemaat di Filipi untuk tidak mengikuti teladan dari orang-orang yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.

Karena kesudahan mereka menurut Paulus adalah kebinasaan. Tuhan mereka bukanlah Kristus, tetapi "tuhan" yang lain, karena hal yang paling utama bagi mereka, adalah perut.

Yang dimaksudkan perut disini bukan hanya kerakusan tetapi juga segala bentuk pemuasan nafsu.

Kebebasan yang mereka sangka benar sebetulnya adalah perbudakan oleh nafsu yang memalukan dan mereka ditentukan untuk memikirkan hal-hal yang kotor dan duniawi.

Oleh karea itu bagi Paulus, jikalau Jemaat Filipi benar-benar menyadari diri mereka sebagai warga Kerajaan Surga, maka selayaknya mereka hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Surga dan tidak mengikuti nilai-nilai yang dari dunia.

Nilai-nilai Kerajaan Surga itu terlukis di dalam lambang salib Kristus (18). Mereka harus meninggalkan cara hidup dan nilai-nilai lama yaitu tidak lagi hidup demi perut.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved